Beranda Metropolis PSBB, Potongan Transaksi Harus Dikurangi

PSBB, Potongan Transaksi Harus Dikurangi

0
PSBB, Potongan Transaksi Harus Dikurangi
SEPI ORDER : Sejumlah pengendara ojek daring saat berada di kawasan Jalan Margonda Raya, Senin (13/4). Dampak penyebaran virus korona membuat para pekerja berpenghasilan harian minim pemasukan salah satunya seperti ojek online. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
ojek online potongan transaksi
SEPI ORDER : Sejumlah pengendara ojek daring saat berada di kawasan Jalan Margonda Raya, Senin (13/4). Dampak penyebaran virus korona membuat para pekerja berpenghasilan harian minim pemasukan salah satunya seperti ojek online. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, Jawa Barat dan daerah lain, dianggap membebani pengemudi transportasi berbasis aplikasi. Para pengemudi ojek online (ojol) maupun taksi online dibatasi. Mulai hanya boleh membawa pesanan makanan, barang bagi motor, hingga membawa sedikit penumpang taksi. Pengamat transportasi menilai, aplikator transportasi online perlu meringankan beban mitra pengemudinya.

“Jika aplikator berniat akan membantu meringankan beban hidup para pengemudi ojek daring dan taksi daring. Maka, pemotongan setiap transaksi tidak lagi 20 persen tetapi dapat dikurangi hanya lima persen saja atau menghilangkan pemotongan itu lebih baik,” ujar pengamat transportasi, Djoko Setijowarno kepada Radar Depok, Senin (13/04).

Djoko mengapresiasi, pengusaha angkutan bus yakni AKAP, AKDP dan pariwisata, lalu truk, angkutan travel, dan taksi reguler pada kondisi pandemi virus korona ini. Masih memberikan perhatian dengan cara bantuan sembako kepada awak kendaraan, teknisi serta pegawai lainnya.

Hubungan antara pengusaha dengan pengemudi adalah kemitraan. Jika tidak bekerja tidak menerima penghasilan. Namun, mereka itu sudah dianggap seperti bagian keluarga perusahaan. Padahal, kalau melihat besaran keuntungan yang diperoleh pengusaha transportasi umum itu lebih kecil ketimbang aplikator transportasi daring.

“Ini hanya masalah kepedulian pada pegawainya yang selama ini telah menghasilkan pendapatan bagi perusahaan,” katanya.

Sementara itu, salah satu pengemudi ojek online di Depok, Dayat mengatakan, saat ini penghasilannya berkurang hingga 80 persen. Pasalnya, saat ini dia hanya bisa mengantar makanan dan barang.

“Kami diminta hanya membawa makanan dan kiriman barang, sedangkan untuk order makanan kami harus sediakan modal dulu untuk membeli makanan yang dipesan. Nah, tidak semua ojol punya modal, bahkan sebagian besar sudah tidak punya modal,” terangnya.

Saat ini, kata Dayat, jika dirata-rata penghasilan ojol per hari hanya Rp20.000-Rp30.000. Itu pun pendapatan kotor, artinya belum dikurangi biaya operasional, seperti bensin dan lainnya.

“Rp 20.000-Rp 30.000 itu gross. Kami masih harus berhitung menghemat bensin. Jarang sekali ada yang bisa sampai Rp50.000 sehari karena order hanya ada satu sampai dua, itu pun jaraknya tidak bisa jauh,” tandasnya. (rd/rub)

 

Jurnalis : Rubiakto (IG : @rubiakto)

Editor : Pebri Mulya