larangan mudik depok
MUDIK PANDEMIK : Suasana pemudik masih terlihat ramai di Terminal Jatijajar , Jalan Raya Bogor Kecamatan Tapos. Satu pekan terakhir pemudik masih meramaikan terminal meski larangan mudik tahun ini sudah dikeluarkan pemerintah pusat, Kamis (23/04). FOTO : ARNET/RADAR DEPOK
larangan mudik depok
MUDIK PANDEMIK : Suasana pemudik masih terlihat ramai di Terminal Jatijajar , Jalan Raya Bogor Kecamatan Tapos. Satu pekan terakhir pemudik masih meramaikan terminal meski larangan mudik tahun ini sudah dikeluarkan pemerintah pusat, Kamis (23/04). FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Larangan mudik pemerintah tak diindahkan warga Depok yang ingin pulang kampung. Sedari Minggu (19/4) hingga Kamis (23/4), pemudik menjejali Terminal Jatijajar Kota Depok. Start lebih dulu ini dilakukan pemudik menghidari larangan yang akan diberlakukan pukul 00:00 WIB 24 April 2020.

Penjaga loket bus Garuda Mas Rani Irawati mengatakan, bus yang dipegangnya mengalami peningkatan jika disamakan dengan hari biasa.

“Seminggu ini bus selalu terisi penuh, tapi kan sekarang kursi tidak bisa terisi semua, karena penerapan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) itu,” katanya kepada Radar Depok, Kamis (23/04).

Selama adanya wabah virus korona pendapatan seluruh agen bus di Terminal Jatijajar sangat menurun drastis. Sekitar 80 persen dari hari biasanya jika tidak ada virus. Terkait instruksi dari pemerintah pusat yang melarang mudik. Agen bus akan ditutup tanpa ada keberangkatan bus ke semua jurusan terhitung sejak tanggal 24 April 2020 (Hari ini).

“Iya besok (Hari Ini) kita tutup, semua bus nggak ada yang jalan. Semua agen juga kayanya mas. Takut nanti ditengah jalan di suruh balik lagi karena jalannya di tutup. Sudah ribuan pemudik yang sudah berangkat sejak adanya larangan,,” jelasnya saat di temui di loket agen bus Garuda Mas.

Rani membeberkan selama diterapkan PSBB di sejumlah kota dan daerah, kursi yang tadinya untuk diisi tiga penumpang kini hanya diisi dua. Begitu juga kursi yang diduduki untuk dua orang kini hanya diisi satu orang.

Rani berharap, tidak adanya mudik akan mempengaruhi pendapatannya sebagai ibu rumah tangga. Sebab, pendapatan yang masuk hanya dari para penumpang bus bukan dapat gaji pokok dari agen bus tersebut. “Saya harapkan ada solusi buat kita, karena kita dapat uangnya dari penumpang. Setidaknya ada bantuan atau lainnya, ini juga yang dibingungkan sama teman-teman seperti saya,” harapnya.

Pantauan Radar Depok, para pemudik sebelum masuk ke Terminal Jatijajar dilakukan pengecekan suhu tubuh serta dilakukan penyemprotan, baik tubuh maupun barang bawaan pemudik. Setiap beberapa menit pemudik silih berganti datang ke terminal membawa tas serta kardus besar. Ada yang seorang diri, dan ada juga yang satu keluarga ingin pulang kampung.

Salah satu pemudik dengan tujuan Blora, Rahman mengatakan, kalau bus jurusannya ada keterlambatan hingga dua jam. Sehingga dia harus menunggu di terminal sejak pukul 13:00 WIB. Kepulangannya bukan semata ingin berjumpa dengan keluarga, melainkan dia telah dikeluarkan dari tempatnya bekerja di salah satu pabrik.

“Tadi saya disini kerja di pabrik tapi ada pengurangan karyawan. Mau bertahan tapi nggak bisa, mau kerja dimana lagi, lebih baik pulang kampung aja,” ungkap Rahman di ruang tunggu terminal.

Saat ditanya soal virus korona, pria yang berjaket levis ini menuturkan tidak sama sekali karena sudah mengikuti semua protokol yang diminta pemerintah. Jika memang harus dikarantina selama 14 hari kampungnya, buat dirinya tidak masalah yang terpenting bisa berkumpul bersama anak istri. “Dari pada disini nggak kerja. Jadi puasa sama lebarannya di kampung saja,” terangnya.

 

Pemudik lainnya, Eko Wardono mengaku, situasi sudah tidak kondusif. Tidak ada yang bisa dikerjakan karena sudah dirumahkan. Apalagi, ada kebijakan mudik dilarang. Jadi, sebelum waktunya dilarang dia bersama keluarga pulang kampung duluan.

“Besok (hari ini) kan sudah dilarang. Ya sudah kami jalan dari sekarang saja ke kampung halaman,” ucapnya.

Sementara, Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok, Mohammad Idris mengungkapkan, untuk keberangkatan Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) total penumpang sebanyak 880 orang dan untuk Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) sebanyak 80 orang.

“Volume kendaraan di Terminal Jatijajar, selama 12 April hingga 22 April tidak terjadi lonjakan penumpang,” singkatnya.

 Diketahui, jelang pemberlakuan larangan mudik mulai Jumat (24/4), Polda Metro Jaya mencatat adanya peningkatan signifikan volume kendaraan. Peningkatan ini diketahui berdasarkan pemantauan di ruang tol.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo mengatakan, pada periode 21-22 April 2020 kendaraan yang keluar Jabodetabek melalui gerbang tol Cikampek Utama sebanyak 44.550. Dengan kata lain, volume kendaraan naik 27 persen selama periode tersebut.

“Berdasarkan perhitungan di Gerbang Tol Cikampek Utama, terjadi kenaikan volume arus kendaraan sebanyak 27 persen, dari 18.753 kendaraan pada tanggal 21 April menjadi 25.797 kendaraan pada tanggal 22 April 2020,” kata Sambodo kepada wartawan, Kamis (23/04).

Kendati demikian, polisi belum bisa menyimpulkan penyebab peningkatan volume kendaraan ini. Butuh pendalaman untuk mengetahui ada atau tidaknya keterkaitan kondisi ini dengan kebijakan pemerintah.

“Belum tahu (ada atau tidaknya keterkaitan dengan larangan mudik),” jelas Sambodo.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, masyarakat dilarang mudik lebaran tahun ini. Larangan itu ditegaskan sebagai upaya penanganan pandemi virus Korona atau Covid-19 di dalam negeri.

‎”Pada rapat hari ini saya ingin menyampaikan juga bahwa mudik semuanya akan kita larang,” ujar Jokowi pada saat memimpin rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/04).

Menurut Jokowi, berdasarkan informasi survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ada sekitar 24 persen masyarakat yang masih ngotot ingin mudik lebaran. (rd/arn/hmi)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu  (IG : @kelmanutuarnet), Fahmi Akbar : (IG : @akbar.fahmi.71)

Editor : Pebri Mulya