Sekolah Bisa Belikan Siswa Paket Internet dengan Dana BOS

In Pendidikan
Plt Dirjen PAUD-Pendidikan Tinggi Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad.
Plt Dirjen PAUD-Pendidikan Tinggi Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad.

 

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) saat pandemi virus Korona, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada 246 pengaduan dari siswa.

Pengaduan tersebut terbanyak, yakni tentang keluhan tugas yang menumpuk dengan waktu pengumpulan yang sebentar.

Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meminta guru tidak memberiakan beban tugas kepada siswa di luar batas kemampuannya.

“Guru tidak boleh lagi memberi tugas dan beban yang melelahkan kepada siswa di luar batas kemampuannya,” kata Plt Dirjen PAUD-Pendidikan Tinggi Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad.

Terkait pengaduan tersebut, Hamid menjelaskan, kalau Mendikbud, Nadiem Makarim sudah mengeluarkan tiga kebijakan. Pertama, siswa diberi aktivitas dan tugas sesuai dengan minat dan kondisi siswa termasuk masalah kesenjangan akses informasi.

“Kedua, siswa diberi pembelajaran yang bermakna tanpa harus mengejar ketuntasan kurikulum. Ketiga, siswa diberikan pendidikan kecakapan hidup yang berguna dalam kehidupan sehari-hari termasuk pemahaman tentang virus Korona dan bagaimana mencegah penyebarannya,” katanya.

Selain itu, ada juga keluhan lain, yakni tentang kebutuhan kuota internet, Hamid menilai Kemendikbud telah memberikan kelonggaran dalam aturan penggunaan dana BOS. Menurutnya, selama proses pembelajaran jarak jauh dana BOS bisa digunakan membeli pulsa untuk kegiatan pembelajaran.

“Jadi silakan sekolah mengatur pembelian pulsa tersebut. Apalagi sekarang beberapa vendor menjual akses data dengan harga sangat murah,” katanya.

Seperti diketahui, survei KPAI itu dilakukan pada 13 April-20 April 2020 dengan total responden 1.700 gabungan siswa mulai dari jenjang TK sampai SMA/sederajat dan tersebar di 20 Provinsi dan 54 Kabupaten/Kota.

Pengambilan sampel menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik multistage random sampling. Responden terbanyak adalah siswa SMA. Survei ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana persepsi siswa dalam pembelajaran jarak jauh.

Dari 1.700 responden, Komisioner KPAI, Retno Listyarti menjelaskan, sebanyak 77,8 persen siswa kesulitan karena tugas yang menumpuk antar guru. Terlebih lagi waktu pengumpulan tugas yang terbilang pendek.

“Dari 1.700 responden sebanyak 77,8 persen kesulitannya adalah tugas menumpuk karena seluruh guru memberikan tugas dengan waktu yang sempit. Sedangkan 37,1 persen responden mengeluhkan waktu pengerjaan tugas yang sempit, sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan,” katanya.

Kesulitan selanjutnya dalam pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring adalah terkait masalah kuota internet. Retno menyebut sebanyak 42,2 persen mengaku tidak memiliki kuota yang memadai.

“Kesulitan selanjutnya sebanyak 42,2 persen menurut responden adalah tidak memiliki kuota internet,” ujarnya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

PN adakan rapid test

Satu Karyawan PN Depok Positif Korona

PERIKSA : Pelaksanaan Rapid Tes di lingkungan Pengadilan Negeri (PN) Depok, Rabu (29/04). FOTO :

Read More...
jangan percaya tiket mudik

Jangan Respon Agen Bus Janjikan Mudik

BUKA : Agen Bus Malam di Jalan Raya Jakarta Bogor, tepat di Kelurahan Palsigunung Selatan,

Read More...
Manajer Pemasaran PDAM Tirta Asasta Kota Depok, Imas Diyah Pitaloka.

Internal PDAM Harapkan Pemimpin Terbaik

Manajer Pemasaran PDAM Tirta Asasta Kota Depok, Imas Diyah Pitaloka.   RADARDEPOK.COM, DEPOK - Saat ini Pemerintah

Read More...

Mobile Sliding Menu