Bekasi Temukan Warga Depok Positif 

In Utama
pelaksanaan swab di bekasi
TES SWAB : Petugas medis mengambil sampel melalui saluran pernapasan, Jumat (8/5). Pemerintah Kota Bekasi mengambil 1005 sample tes swab secara acak di tujuh Perbatasan Kota Bekasi dan Stasiun Bekasi. FOTO : RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Depok belum sepenuhnya berjalan mulus. Jumat (8/5), Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengumumkan hasil deteksi Covid-19 di sejumlah check point di perbatasan Kota Bekasi dengan daerah lainnya. Ada penambahan lima orang positif Covid-19 dari lokasi check point, di Jalan Sultan Agung (Tomyang), Pondok Gede.

Walikota Bekasi, Rahmat Effendi mengatakan, lima orang tersebut terdiri dari, satu warga Kota Bekasi, tiga warga Jakarta Timur, dan satu warga Depok. Warga Kota Bekasi yang terkonfirmasi positif berinisial H dan sudah dibawa ke RSUD.

Sedangkan warga luar Kota Bekasi sudah diinformasikan kepada Walilkota Jakarta Timur dan Walikota Depok. “Informasi kami terima, warga di luar Kota Bekasi juga langsung dijemput dan dibawa ke rumah sakit pemerintah setempat,” ujarnya kepada Radar Bekasi (Grup Radar Depok), Jumat (8/5).

Rahmat menjelaskan, warga yang ditemukan positif Covid-19 di lokasi cek poin sebagai lintasan akses keluar masuk Kota Bekasi. Adanya hal tersebut menandakan masih adanya persebaran Covid-19 yang tidak diketahui. Sebelumnya, hasil swab test Polymerase Chain Reaction (PCR) menemuka tiga penumpang KRL Commuter Line positif Covid-19.

Dari total sekitar 900 warga yang menjalani swab test PCR, tersisa sekitar 60 warga lagi yang hasilnya belum keluar.

“Tinggal kisarannya 60 atau 5% lagi, mungkin hari ini keluar hasilnya,” ujarnya.

Sementara, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Depok, Alif Noeriyanto menilai operasional kereta rel listrik (KRL) kemungkinan membawa banyak orang tanpa gejala (OTG) positif Covid-19. Sebelumnya, 6 dari 600-an penumpang KRL lintas Bogor dan Bekasi diketahui positif Covid-19 setelah dilakukan tes swab massal beberapa hari lalu.

“Kita belajar dari kasus Jakarta, Singapura, soal klaster KRL. Itu (6 penumpang KRL positif Covid-19) berarti kan bisa banyak orang di klaster KRL yang kena,” ujar Alif, Jumat (8/5).

Hal ini, kata dia, menjadi bukti bahwa tes massal Covid-19 di tempat-tempat umum sangat penting dilakukan guna memperoleh data riil kasus Covid-19 di lapangan.

Alif mengungkapkan, pemerintah maupun warga tidak perlu resah jika akibat masifnya tes Covid-19, angka positif Covid-19 melonjak drastis. Justru, berbekal data riil soal tingginya kasus Covid-19 yang selama ini tak terdeteksi, pemerintah bisa menempuh kebijakan yang lebih efektif untuk menangani pandemi.

“Kasus di Singapura, dengan screening massal yang masif, karantina yang baik, jumlah kasus banyak, tapi jumlah kematian sedikit dan jumlah sembuh banyak. Artinya memang kita tidak perlu takut dengan jumlah positif yang banyak,” kata Alif.

Tidak apa-apa, karena bisa tahu dan bisa memetakan orang-orangnya (positif Covid-19). Ketika dipetakan, bisa tahu titik-titiknya. Ketika tahu di mana titik-titiknya, bisa dikunci (isolasi). Khusus Kota Depok, di atas kertas, bisa saja terdapat 100.000 orang positif Covid-19 dari total 2,4 jutaan penduduk Depok saat ini.

Perhitungan ini hanya perhitungan kasar, merujuk pada angka infection rate Covid-19 di seluruh dunia sekitar 4 persen dari total populasi.

Maka, ia kembali menekankan soal pentingnya tes massal saat ini. Dengan catatan, tes massal dilakukan dengan metode swab PCR yang akurasinya 90 persen, bukan semata rapid test yang akurasinya 30 persen dan membutuhkan verifikasi ulang. Apabila hal ini terus-menerus ditunda oleh pemerintah, Alif khawatir masa puncak pandemi yang diperkirakan terjadi pada Mei ini akan mundur hingga Juni karena keterlambatan deteksi kasus.

“Ini hitungan secara umum. Artinya kalau mau frontal, ayo,” desak Alif.

“Idealnya, kalau mau uji swab serentak, 10 persen dari total penduduk Depok, artinya 240.000 orang dites massal. Kita dapat angka di situ, kemudian kita lacak klasternya untuk diisolasi sehingga akan aman,” tambah dia.

Perlu diketahui, Kota Depok rencananya bakal menggelar tes Covid-19 massal dalam waktu dekat dengan metode swab (pengambilan sampel tenggorokan), untuk kemudian diteliti dengan metode PCR (polymerase chain reaction) di laboratorium.

Walikota Depok, Mohammad Idris mengungkapkan, pelaksanaan tes swab PCR massal di Depok akan dilakukan di tempat-tempat umum.

“Pada tempat-tempat umum sudah kita rencanakan, dalam waktu dekat Pemprov Jawa Barat bekerja sama dengan Pemkot Depok akan melaksanakan uji swab massal,” jelas Idris melalui keterangan tertulis yang diterima Radar Depok, Kamis (7/5) malam.

Dengan sasaran orang dalam pemantaua (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), tenaga kesehatan, pedagang pasar, dan pelaku perjalanan. Pelaku perjalanan menjadi salah satu kalangan yang disasar untuk tes Covid-19 massal di Depok.(rd/dic/hmi)

 

Jurnalis : Dicky Agung Prihanto : (IG : @iky_slank), Fahmi Akbar : (IG : @akbar.fahmi.71)

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

XL axiata pimpin industri

XL Axiata Pimpin Industri Transformasi Digital

PELOPOR : XL Axiata menjadi perusahaan telekomunikasi pertama di Asia Tenggara yang menggunakan SAP S/4

Read More...
webinar axis

Bikin Virtual Meet Up Jadi Makin Seru #KenapaNggak

  RADARDEPOK.COM - Selama masa pandemi dan dirumah aja, tentunya ada beberapa kebiasaan kita yang ikut berubah. Misalnya, dulu kalau

Read More...
SMK putra bangsa alfamidi

Guru SMK Putra Bangsa Ikut Alfamidi Class

PROGRAM : Lima guru SMK Putra Bangsa mengadakan Program Alfamidi Class dengan menjalani Trainning for

Read More...

Mobile Sliding Menu