Bincang Bareng Direktur PSKP, Efriza : Antara Covid-19 dan Salat Ied

In Politika
bincang bareng direktur
Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP), Efriza.

 

 

Ramadan 1441 Hijriah ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, ditengah wabah Virus Korona, Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP), Efriza mengulik bersama awak Radar Depok terkait Covid-19 dan Salat Ied.

Laporan : Ricky Juliansyah

RADARDEPOK.COM – Pandemi Covid-19 masih terus berlangsung, yang dinyatakan terinfeksi masih meningkat, hingga 17 Mei 2020 saja sudah sebanyak 17.514 kasus, angka ini setelah ditambahkan kenaikan 489 kasus. Meski begitu, kenaikan peningkatan pasien yang sembuh dari Covid-19, sebanyak 218 orang, sehingga menjadi 4129 kasus.

Namun, menjelang Lebaran Idul Fitri, ada pertanyaan yang menyembul ke permukaan, yakni apakah salat Idul Fitri baiknya dilaksanakan di masjid dengan protokol Covid-19 atau di rumah saja.

Menurut Efriza, berdasarkan penelusuran PSKP, masalah Shalat Ied ini bukan hal mudah. Karena ada asumsi yang mengiringi masyarakat ingin tetap menggelar Salat Ied di masjid, Musala atau lapangan, dengan alasan ini merupakan moment penting setelah kita berpuasa sebulan penuh dan juga perpisahan dengan bulan suci Ramadan.

“Apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga telah mengeluarkan Fatwa MUI bahwa shalat idul fitri di rumah, dan bisa pula di masjid, atau musala, atau di lapangan terbuka untuk menyelenggarakannya, selama memang daerah itu tidak terjadi Pandemi Covid-19. Sementara itu, Pemerintah masih konsisten dengan keputusan untuk masyarakat bahwa menjalankan ibadah di rumah saja,” tutur Efriza.

Perdebatan Salat Ied ini secara tidak langsung memberikan pemahaman bahwa pandemi Covid-19 diserahkan kesadaran masing-masing warga, pejabat tingkat daerah, tingkat RT dan RW dan daerah-daerahnya masing-masing.

“Wajar akhirnya, misalnya, suatu daerah ditemukan berdasarkan penulusuran PSKP yakni melakukan kuesioner kepada warganya untuk membuat keputusan apakah Salat Ied akan diselenggarakan atau tidak di lingkungan warga tersebut. Sebenarnya, kebijakan menyelenggarakan Salat Ied ini beresiko, meski diterapkan protokol kesehatan saat melaksanakan Salat Ied,” kata Efriza.

Meski, telah ada peraturan tunda mudik, tetapi kunjungan antar saudara dengan jarak dekat menjelang lebaran, sudah pasti terjadi, tak mungkin suatu daerah akan melakukan kontrol ketat, tindakan keras dan tegas, untuk menghindari perselisihan dan juga terbawa suasana menjelang lebaran. Ditambahkan keikutsertaan warga lain yang jaraknya dekat.

Kemungkinan, sambung Efriza, peningkatan Makmum yang mengikuti Salat Idul Fitri tentu saja tidak dapat dihindari dapat terjadi, meski telah dilakukan lockdown lokal gang setempat sekalipun. Apalagi yang sering dilupakan bahwa perayaan Lebaran Idul Fitri selepas Shalat Ied adalah tradisi bersalaman untuk maaf-memaafkan.

“Yang dikhawatirkan adalah Kegembiraan Berlebaran menyebabkan pandemi Covid-19 sehari saja diabaikan,” paparnya.

Sedangkan fakta yang terjadi adalah, peningkatan pasien Covid-19 terus berlangsung, dan masyarakat yang telah dilakukan pemeriksaan Covid-19 melalui rapid tes dan pemeriksanaan sejenis lainnya masih berkisar 1800-an atau sebesar 0,06 persen dari keseluruhan total warga di Indonesia.

Permasalahan ini yang dapat terjadi dalam momen berlebaran, semoga saja, lebaran berlangsung Pandemi Covid-19 tidak terjadi peningkatan drastis.

“Salat Ied bagi yang memang merasa ragu lebih baik jangan, karena Salat Ied masih bisa di rumah. Esensi berlebaran saja yang perlu kita maknai bahwa hubungan kita dengan sang pencipta, sambil tetap menjaga hubungan kita dengan sesama manusia,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

Omnibus Law Mengancam Mahasiswa dan Pendidikan

Oleh: Fatimah Azzahrah Hanifah Mahasiswi Universitas Indonesia   SEJAK dikeluarkannya wacana pembentukan omnibus law 2019 silam, gelombang protes terjadi di berbagai kalangan

Read More...
polwan tebar bibit ikan

Polwan Tebar 11.000 Bibit Ikan di Situ Jatijajar

TEBAR : Anggota Polisi Wanita (Polwan) tengah menebar 11.000 bibit ikan di Situ Jatijajar,  Kelurahan

Read More...
polwan depok tebar sembako

Polwan Tebar 1.500 Paket Sembako di Depok

KOMPAK : Kapolrestro Depok, Kombes Azis Andriansyah (depan dua dari kiri), saat menerima kunjungan Polisi

Read More...

Mobile Sliding Menu