Bulan Puasa yang Luput dari Doa

In Ruang Publik

erik kurniawan

 

Oleh : Erik Kurniawan, S.Sos., M.Pd

Guru di UPTD SMPN 17 Depok

  

WALAUPUN dimasa pandemik karena virus corona (covid-19), Ramadhan tetaplah selalu istimewa. Setiap orang memiliki cara unik untuk menyamput dan melepaskan kepergian bulan Ramadhan. Maka dipenghujung Ramadhan ini orang akan melakukan berbagai cara untuk melepaskannya. Berbagai ekpresi diakhir bulan Ramadhan akan mempengaruhi tindakan orang tersebut dalam memperlakukannya. Namun paling tidak ada 2 (dua) hal yang akan dilakukan orang-orang beriman di setiap penghujung bulan suci Ramadhan.

Pertama, orang yang bertaqwa akan mutaba’ah dan muasabah amal.

Mutaba’ah berasal dari kata taaba’a yang memiliki beberapa pengertian. Pengertian tersebut antara laian tatabba’a (mengikuti) dan raaqaba’ (mengawasi).  Dari pengertian tersebut kata mutaaba’ah berarti pengikutan dan pengawasan. Sehingga dapat dijelaskan bahwa mutaaba’ah ialah mengikuti dan mengawasi sebuah program agar berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan sebelumnya.

Setiap orang yang akan melalui bulan suci puasa pastinya memiliki rencana-rencana ingin mengisi Ramadhannya dengan banyak amal ibadah. Walaupun tidak ditulis lalu diprint  dan ditempel dinding rumah, setiap muslim memiliki target atau keinginan untuk memaksimalkan ibadah-ibadah yang dijalaninya. Seseorang bisa jadi memiliki keinginan untuk katam Al-Qur’an berapa kali? Berapa hafalan Al-Qur’an yang ditambahnya setiap hari? Infaq harian berapa ribu? Sadaqah Iftar (buka puasa) ke lembaga/yayasan mana saja? I’tikaf di 10 hari terakhir Ramadahan di masjid mana? Shalat sunnah Trawih, Dhuha, Rawatib, Witir dll.

Di akhir bulan Ramadhan, target atau keinginan seseorang perlu dievalusi untuk mengetahui hasilnya. Ekspektasi seseorang terhadap apa yang direncanakan pastinya tidak sesuai dengan realitanya. Sehingga mutaba’ah diperlukan untuk mengetahui hasil selama satu bulan yang telah dilalui. Dalam mutaba’ah dapat diambil kesimpulan untuk sebagai bahan muhasabah. Muhasabah sendiri memiliki arti introspeksi diri sendiri dengan cara menghitung amal perbuatan yang pernah dilakukan di masa lalu. Menghitung-hitung dan membandingkan antara kebaikan dan keburukan. Sehingga, dengan perbandingan ini dapat diketahui mana dari keduanya yang terbanyak. Sebagaimana manusia yang tidak luput dari dosa, maka perlu memiliki dorongan untuk senantiasa memperbaiki diri. Hal tersebut merupakan bekal untuk menyongsong kehidupan masa depan yang lebih baik, khususnya kehidupan sesudah mati (alam kubur dan akhirat).

Dari mutaba’ah dan muhasabah amal, maka seseorang paling tidak dapat menduga mana ibadah yang diterima oleh Allah dan mana yang tertolak. Diriwayatkan dari ‘Alî Radhiyallâhu anhu bahwa di malam akhir bulan Ramadhan, beliau berseru : “Aduhai sekiranya kutahu siapa gerangan yang diterima amalnya sehingga kudapat mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa gerangan yang tertolak amalnya sehingga kudapat berbela sungkawa kepadanya.” [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 210].

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallâhu anhu, bahwa beliau pernah keluar di penghujung malam terakhir bulan Ramadhan, lalu berseru : “Barangsiapa yang diterima amalnya di malam ini, maka kuucapkan selamat padanya. Dan barangsiapa yang tertolak amalnya di malam ini, maka aku berbelasungkawa kepadanya. Wahai orang-orang yang diterima amalnya, selamat! Wahai orang-orang yang tertolak amalnya, semoga Allah mengasihimu di dalam musibahmu.”

Kedua, harapan akan bertemu bulan Ramadhan tahun depan.

Orang yang memaksimalkan ibadah dibulan Ramadhan biasanya merasa bahwa waktu berjalan dengan cepat. Masih banyak rencana ibadah yang belum tercapai targetnya. Waktu yang diberi dalam 1 (satu) hari yaitu 24 jam serasa masih kurang. Banyak tuntunan ibadah yang belum dijalani dengan baik bahkan belum dilakukannya. Rasa sedih tersebut membuat hati memiki harapan dan berdo’a agar tahun depan masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan.

Dulu kita terbayang banyak orang yang terhalang dari nikmat Ramadhan karena ajal telah menjemput, atau karena ketidakmampuan beribadah sebagaimana mestinya, seperti sakit atau yang lainnya. Kita dipertemukan Ramadhan 1441 H yang sangat bersejarah. Harapan untuk bertemu dengan Ramadhan ini berbeda jauh dengan apa yang di bayangkan karena virus corona (covid-19). Keadaan lingkungan yang membatasi banyak hal terkait ibadah diluar rumah. Kita yakin walaupun ibadah dilakukan didalam rumah, tidak mengurangi pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT. Meskipun secara emosional ada keinginan untuk berjama’ah dimasjid atau mushala, namun ibadah dirumah merupakan bentuk kepatuhan dan ketaatan terhadap keputusan para ulama dan umara (pemipim pemerintahan).

Entah berapa kali sepanjang hidup kita bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Bulan yang sangat dinantikan kehadirannya. Obral pahala dan ampunan dosa melimpah ruah di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Maka berjumpa bulan Ramadhan merupakan kenikmatan yang sangat besar. Oleh karena itu supaya lebih maksimal dan seperti bulan Ramadhan yang sudah-sudah, kita berdo’a agar Ramadhan tahun depan kita dapat berjumpa lagi. Ramadhan yang kita bisa shalat 5 (lima waktu) secara berjama’ah dan shalat Tarawih di masjid atau mushala. Ramadahan yang kita bisa melaksanakan I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Melakukan iftar (buka puasa) bersama-sama dimasjid, kantor dan tempat-tempat lain. Mengikuti kajian ke-Islaman secara langsung bukan sekedar melalui media online seperti zoom dan sejenisnya. (*)

You may also read!

vaksin korona baru

Tahap Pertama Ada 40,2 Juta Orang Penerima Vaksin Covid-19 Gratis

ILUSTRASI   RADARDEPOK.COM - Bulan Januari 2021 diagendakan Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menargetkan untuk menjalankan program vaksinasi. Ini

Read More...
waspada virus korona

Kecamatan Cimanggis jadi Wilayah Terbanyak Covid-19 di Kota Depok

  RADARDEPOK.COM, DEPOK - Sampai Sabtu (2/1), jumlah pasien/kasus virus Korona (Covid-19) di Kota Depok mencapai 3.521 orang Dengan catatan tersebut,

Read More...
Disinfektan PPM Cipayung

Rayakan Ulang Tahun ke-40, PPM Cipayung Semprot Disinfektan

PERINGATI : Pemuda Panca Marga (PPM) Ranting Cipayung semprot disinfektan di tiga titik dalam rangka

Read More...

Mobile Sliding Menu