Puasa, Covid 19,  Ujian untuk Kemenangan

In Ruang Publik

 

Oleh : Ust H Yusuf Sal Lc M.M

Direktur Balitbang YPI Rahmany Depok, Wakasekjen DPP PUI dan Mahsiswa Program Doktoral Univ.UIKA Bogor

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبر

SEGALA puji hanya milik Allah yang Maha Besar sebagaimana besarnya alam yang kita diami. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW.

Ummat Islam di seluruh dunia bertakbir dan bertahmid atas ke-Esaan-Nya Allah SWT. Kekuasaan Allah tidak terhingga dan terbatas. Salah satu kekuasaan Allah adalah menciptakan alam dunia serta isinya bahkan menciptakan makhluk-Nya bernama Korona.

Kebesaran Allah SWT tidak akan surut oleh kemaksiatan manusia dan kepatuhannya manusia tidak akan menambah kemulyaannya Allah SWT.

Bagi kita Ummat Islam, Ramadhan yang diakhiri dengan pelaksanaan salat Iedul Fitri adalah sebuah kemenangan yang nyata di dunia. Kemenangan dari terselesaikannya ibadah Ramadhan 1 bulan penuh. Kemenangan dalam melaksanakan salat sunat tarawih dan qiyammnya serta kemenangan dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan yang dimudahkan oleh  Allah pada bulan Ramadhan ini.

Kemenangan adalah bertahan diri delam  kesulitan

Ramadhan artinya Panas, sebagimana panasnya tengah hari yang menimbulkan fatamorgana, begitu panasnya sehingga secara fisik beratnya merasakan keletihan yang timbul dari tertahannya asupan makanan dan minuman.

Menahan diri dari asupan makanan dan minuman menyebabkan kekeringan dan kehausan dari mulai mulut, kerongkongan hingga lesu dan layu menerpa badan kita bagaikan dedaunan yang layu bahkan gugur kekeringan.

Menahan diri dari segala bentuk tindak tanduk anggota badan, mulut kita dikeringkan dari ucapan yang tidak terpuji bahkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Mata kita dikeringkan dari pandangan-pandangan yang diharamkan hingga terpejamnya mata kita agar terjaga itupun menjadi catatan kebaikan.

Anggota tubuh kita semuanya lemas tak berdaya, kering kerontang lemah gemulai hingga kita menunggu waktu demi waktu untuk segera saatnya magrib  tiba.

Jika pepohonan yang kering diterpa teriknya panas, lalu pohon tersebut sanggup bertahan hingga tiba waktu penghujan,maka yang akan terjadi, daun-daun bermunculan, bunga-bunga bermekaran dan tunas-tunas baru akan tumbuh mengantikan yang gugur berjatuhan,  itulah kemenangan.

Allohu Akbar Walillah hilham.

Begitulah pohon, begitu juga diri kita yang berpuasa. Jika Allah SWT telah menerpa kita dengan ujian yag melelahkan, meletihkan maka seyogyanya kita yang bertahan haruslah menjadi daun-daun yang hijau siap memberikan keteduhan dan manfaat ke depan. Kekeringan yang telah menempa diri kita membakar dosa-dosa kita maka seyogyanya mengugurkan segala kekejian, kemungkaran dan kerusakan-kerusakan hingga bisa membawa kita menjadi tunas-tunas baru yang siap tumbuh dengan jiwa yang fitri kembali bersih hati dari dosa perdosa sebagaimana Rasulullah SWA sabdakan:

 ‘Barang siapa yang berpuasa dibulan ramdhan dengan penuh pengharapan, maka Allah akan ampuni dosa-dosanya’

Kemenangan Hati dalam suasana Distancing

Guna meyempurnakan kemenangan kita di saat Ramadhan yang bersamaan dengan hadirnya Makhluk Allah yang bernama Covid 19, maka ada baiknya kita senantiasa memastikan kemenangan hati sebagai kemenangan hakiki. Bobot Iman haruslah berkekuatan full karena ter-cash keimanannya lewat saluran Ramadhan yang memiliki tegangan tinggi. Tegangan itu harus kita jaga agar tetap kuat disaat-saat cobaan covid 19 ini yang akan membuat kita lemah.

Suasana kali ini betul-betul berbeda dari ramadhan sedia kalanya. Umat ini telah diuji dengan Pandemi 19 dari awal hari-hari sebelum datangnya ramadhan. Ujian ini tentunya tidak bisa terelakan lagi karena MUI yang menjadi Corong Umat pun membuat keputusan dan kebijakan. Salah satunya tidak berkerumunan dan distancing menjadi keharusan. Hal ini tentunya membuat pilu hati umat islam dikerenakan masjid-masjid ditutup untuk semua kegiatan termasuk pada bulan ramadhan yang berkah ini. Kesedihan ummat semakin menjadi dengan  ditiadakannya salat Iedulfiri yang hanya 1 kali dalam setahun walau ada pengecualian.

Keadaan ini haruslah bisa kita terima walau nyesek dalam hati setiap muslim. Keadaan ini tidak boleh membuat patah semangat bagai diterjang gelombang pasang.

Kita tetap berletih-letih dan berusaha mendongkrak semangat untuk berpusa seharian. Keadaan letih, lesu dan lemas harus bisa dilewati dengan tetap melakukan kegitan-kegiatan harian mulai tarawih walau dalam keadan yang tidak membuat semangat karena berjamaah ditiadakan. Tilawah Al quran harus tetap diperdengarkan agar bisa hataman. Berbagi makanan dilaksanakan walau dari kejauhan.

Gambaran ramadhan kali ini begitu indah jika kita bisa renungkan.  Begitu banyak hal-hal yang akan terukir jika dibukukan. Dan jika boleh dinilai maka ramdhan kali ini semsetinya ribuan pahala layak di berikan kepada mereka-mereka yang melaksanakan  dan tidak terlalaikan atau bahkan terlewatkan. Bagi kita yang berusaha melaksanakan perintahNya walau dalam keadaan sulit, maka itulah gambaran kemenangan yang nyata. Gambaran ini Allah lukiskan dalam Al.Quran Q.S Al Anbiya 35

‘Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan’

Jika saja mudik masih dibolehkan, maka rasanya agak terobati keadaan ini, Namun distancing lagi-lagi menjadi sebuah ujian dan cabaran. Mudik jembatan berkumpulnya sanak saudara, ada yang sekian bulan bahkan tahun tidak bertemu orang tua hinga lebaran bagaikan keberkahan untuk meminta ampun dan doa telah memupus harapan. Moment mudik lebaran yang diidam-idamkan pun ditadakan.

Jika saja ukuran kemenangan adalah kesenangan duniawi disaat ramdhan apalagi lebaran, maka kali ini kita semuanya akan kecewa. Lebaran yang sediakalanya bersenang-senang merayakan kemenangan, maaf untuk kali ini berbeda. Kita tidak bisa ini itu, didalam fikiran kita terpampang ada larangan gini gitu.

Namun kita tidaklah boleh berkecil hati dan terus kecewa dengan keadaan. Yang pasti kemenangan ramdhan yang sesungguhnya adalah kemenangan menjaga hati agar tetap yakin bahwa semua ini adalah aturan dan kehendak. Keadaan ini insya Allah akan berlalu sesuai dengan kehendak Allah semata. Allah yang menghadirkan dan Allah pula yang menghilangkan segala sesuatu termasuk virus covid 19 ini.

Walau dalam suasana distancing kita harus bisa merawat hasil ramadhan yaitu ketaqwaan. Orang-orang yang bertaqwa adalah orang yang hatinya senantiasa dzikir dalam setiap keadaan. Senantiasa bertafakur dan berdzikr agar tetap tenang dan mendapatkan kemenangan sebagaimana Allah Firmankan Q.S Ar’ad 28

 ‘Adalah orang-orang beriman, dan hati mereka tenang dalam berdzikir kepada Allah ‘

Dalam suasana distancing kita masih bisa bersilaturahim dengan orang-orang sekeliling dengan tetap menjaga aturan. Bersilaturahim dengan yang jauh pun masih bisa dengan hanya alat simungil yang selalu ada disaku kita. Maka inilah kemenangan dari ujian ramdhan 1441 dan kemenangan dari ujian covid 19. (*)

You may also read!

vaksin korona baru

Tahap Pertama Ada 40,2 Juta Orang Penerima Vaksin Covid-19 Gratis

ILUSTRASI   RADARDEPOK.COM - Bulan Januari 2021 diagendakan Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menargetkan untuk menjalankan program vaksinasi. Ini

Read More...
waspada virus korona

Kecamatan Cimanggis jadi Wilayah Terbanyak Covid-19 di Kota Depok

  RADARDEPOK.COM, DEPOK - Sampai Sabtu (2/1), jumlah pasien/kasus virus Korona (Covid-19) di Kota Depok mencapai 3.521 orang Dengan catatan tersebut,

Read More...
Disinfektan PPM Cipayung

Rayakan Ulang Tahun ke-40, PPM Cipayung Semprot Disinfektan

PERINGATI : Pemuda Panca Marga (PPM) Ranting Cipayung semprot disinfektan di tiga titik dalam rangka

Read More...

Mobile Sliding Menu