Beranda Metropolis Telur Infertil-Tertunas Dilarang Dijual

Telur Infertil-Tertunas Dilarang Dijual

0
Telur Infertil-Tertunas Dilarang Dijual
MENATA DAGANGAN : Penjual telur menata dagangannya di Pasar Agung, Jalan Proklamasi Raya, Kecamatan Sukmajaya. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
telor dilarang berjualan
MENATA DAGANGAN : Penjual telur menata dagangannya di Pasar Agung, Jalan Proklamasi Raya, Kecamatan Sukmajaya. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Telur ayam boiler jenis Hatched Egg (HE) atau infertil dan tertunas dilarang dijual, Minggu (10/5). Kepastian itu merujuk aturan Kementerian Pertanian (Kementan). Telur jenis tersebut dinilai tidak tahan lama hanya tujuh hari.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Depok, Diah Sadiah mengatakan, larangan terkait telur boiler yang diperjualbelikan di masyarakat, tertuang pada pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

“Telur boiler berjenis HE atau tertunas dan infertil di larang dijual,” ujar Diah Sadiah kepada Radar Depok, Minggu (10/5).

Diah menjelaskan, di sejumlah pasar tradisional di Kota Depok, terdapat dua jenis macam telur yang diperjualbelikan kepada masyarakat. Yakni telur ayam kampung dan telur boiler. Telur ayam konsumsi yang diperjualbelikan dapat pengawasan dari DKPPP dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Depok.

Menurutnya, telur boiler konsumsi yang dilarang Pemerintah Pusat yakni boiler tertunas atau infertil, memiliki perbedaan. Boiler infertil tidak dapat bertahan lama, dan hanya dapat di konsumsi selama tujuh hari. Selain itu, apabila indukan ayam boiler dalam kondisi sehat, kualitas dan keamanannya akan bertahan lebih lama.

“Infertil dan tertunas jika penyimpanannya di luar biasanya hanya tujuh hari,” terang Diah Sadiah.

Hingga saat ini, Diah mengaku, belum menemukan adanya laporan masyarakat terkait memperjualbelikan telur boiler infertir dan tertunas. Apabila terdapat laporan dari masyarakat terkait telur boiler infertil, pihaknya akan melakukan tindakan tegas mengikuti regulasi Pemerintah Pusat.

Sementara itu, salah seorang pedagang telur boiler Pasar Agung, Rizki mengatakan, telur ayam boiler yang dijual kepada masyarakat merupakan telur konsumsi. Untuk saat ini, telur boiler yang dia jual seharga Rp20 ribu perkilogram. Telur boiler infertil tidak pernah dia jual karena mendapatkan larangan Kementan dan merugikan masyarakat.

“Saya hanya menjual telur boiler konsumsi yang mampu bertahan cukup lama,” ujar Rizki.

Rizki mengungkapkan, masyarakat dapat melihat dengan mudah perbendaan telur boiler konsumsi dengan infertil dan tertunas, salah satunya melalui harga. Apabila telur boiler konsumsi seharga Rp20 ribu perkilogram, telur boiler infertil dan tertunas dapat mencapai Rp5 ribu hingga Rp8 ribu perkilogram.

“Perbedaan harga dikarenakan kualitas ketahanan telur antara konsumsi dengan infertil dan tertunas,” tutup Rizki. (rd/dic)

 

Jurnalis : Dicky Agung Prihanto : (IG : @iky_slank)

Editor : Pebri Mulya