usaha keripik pisang 1
PRODUK RUMAHAN : Pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) menunjukkan olahan keripik dari kulit pisan di kawasan Kelurahan Boponter, Kecamatan Cipayung. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
usaha keripik pisang 1
PRODUK RUMAHAN : Pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) menunjukkan olahan keripik dari kulit pisan di kawasan Kelurahan Boponter, Kecamatan Cipayung. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

Di masa new normal, banyak masyarakat yang beralih menjadi seorang pebisnis. Banyak jalan yang ditempuh menjadi pebisnis, tinggal  mengetahui bagaimana pasion untuk mengelola bisnisnya.

Laporan: Rubiakto

RADARDEPOK.COM – Banyak usaha yang bisa dikembangkan untuk bertahan hidup ditengah pandemi Korona. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri, Vipo Adrijani dan Santua Nugraha yang mengolah makanan dari bahan  tidak terpakai, menjadi makanan yang bernilai ekonomis.

Vipo Anjani mengaku, awalnya hanya coba-coba mengelola limbah kulit pisang menjadi kerupuk renyah nan enak. Menurut dia, makanan adalah salah satu kebutuhan pokok yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia.

Dari situlah banyak orang yang mulai mencoba keberuntungan, hingga meraih kesuksesan dari bisnis makanan ringan. Khususnya bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Depok.

Terbukti ditengah pandemi usahanya masih tetap bertahan. Pelaku usaha UMKM dengan brand Nyoya Nugraha ini mengaku, masih bertahan di tengah pandemi. “Alhamdulilah masih bertahan, meski belakangan penghasilannya sedikit berkurang,” jelasnya.

Dia menceritakan, dalam mengeluti usaha kuliner, Vipo dan suami pernah mengalami kegagalan. Namun, kegagalan tersebut justru menjadi suatu tantangan tersendiri bagi Vipo. Hingga akhirnya kesuksesan dapat mereka raih sedikit demi sedikit.

“Kami awal mencoba inovasi bisnis makanan ringan. Suami yang awal mula menemukan ide pembuatan kerupuk dari limbah kulit pisang,” kata Vipo ketika ditemui di kediamannnya RT2/5, Kelurahan Bojong Pondok Terong (Boponter), Kecamatan Cipayung, Kamisa (25/06).

Sambil didampingi suami tercinta, Vipo menceritakan awal mula membuat kerupuk dari bahan kulit pisang. Ketika itu, sang suami mengajak Vipo keliling Depok. Sebelumnya, suaminya sudah memiliki rencana dipikiranya untuk mencari limbah pisang. “Awalnya suami saya cari limbah kulit pisang untuk pupuk,” ucap perempuan berusia 42 tahun ini.

Setelah mendapatkan bahan limbah kulit pisang, sang suami pun mendapat ide cemerlang usai membaca informasi di internet, bahwa kandungan kulit pisang banyak manfaatnya. Seperti untuk perawatan kulit, kalsium, vitamin c dan asam folat. “Bahkan di Sumatera Utara (Medan) makan pisang sama kulit-kulitnya,” kata Vipo.

Setelah itu, hasil produksi kerupuk berbahan kulit pisang ini pun mulai laku di pasaran dan disukai semua kalangan. “Sebelumnya saya izin dulu buat P-IRT dari Dinkes Depok, sudah bisa dikonsumsi dan aman,” tuturnya.

Lebih lanjut, ibu tiga orang anak ini menjelaskan, untuk produk sudah diberinama yaitu Gekaje. Gekaje ini diambil dari ketiga anaknya. “Sekarang ini saya lagi proses pengajuan label halal di Disperindag. Mudah-mudahan cepat. Berharap dapat perhatian pemerintah kota untuk modal, karena membutuhkan open pengering,” ucap Vipo. (*)

 

Editor : Pebri Mulya