Tidak Lagi Mendekati Narkoba

In Ruang Publik

 

Oleh: K. H. A. Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

NARKOBA atau dalam istilah fikihnya Khamr merupakan sejenis minuman atau makanan yang bisa menyebabkan pengkonsumsinya menjadi mabuk. Bahkan tidak sadarkan diri. Karena memang materialnya yang mengandung zat yang memabukkan. Dan ini telah menjadi konsumsi manusia sejak zaman Jahiliyah, hingga zaman Now sekarang ini.

Seseorang yang mengonsumsinya dengan kesadaran diri menggunakan zat ini dengan tujuan untuk mabuk. Mungkin sekedar memuaskan hawa nafsunya, atau mungkin tujuan kesenangan lainnya. Walhasil Narkoba tetap akan dikonsumsi oleh manusia selama hawa nafsu itu ada.

Di Negara kita ada Undang-undang yang mengatur tentang penggunaan narkoba ini. Dan ini resmi diundangkan oleh Negara atau Pemerintah yang mengatur semua warga Negara yang berdomisili di wilayah NKRI. Sanksinya pun juga telah ditetapkan berdasar pada pasal-pasal dan ayat-ayat yang bisa menjerat pelanggarnya.

Namun demikian pelanggaran ini tidak bisa berhenti. Lalu Undang-undang untuk apa dibuat, kalau sudah tahu tidak akan berhenti? Jawabnya adalah untuk meminimalisir. Bahkan hal ini bisa digolongkan sebagai penyakit masyarakat.

Lalu bagaimana pandangan Islam? Kalau menurut Islam Narkoba sudah dinyatakan terlarang sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Walaupun pelarangannya secara bertahap. Mula-mula Islam menyebutkan bahwa Narkoba (khamr) itu adalah sesuatu yang ada manfaatnya dan ada kerugiannya (dosa). Namun kerugiannya lebih besar daripada manfaatnya.

Dan pada saat itu masyarakat memang masih banyak yang masih mengonsumsinya sekalipun sudah masuk Islam. Bahkan suatu saat pernah terjadi ada seorang sahabat Nabi yang solat dalam keadaan mabuk. Masih merasakan efek minuman kerasnya. Sehingga ketika solat membaca ayat Al-Qur’an salah-salah. Yaitu pada surat al-Kafirun. Seharusnya dibaca laa a’budu (saya tidak menyembah) maa ta’buduun (apa yang kamu sembah), tapi dibaca a’budu (saya menyembah) dst.

Pada saat itu kemudian turun ayat yang menyatakan “Jangan dekat-dekat sholat selagi kamu masih mabuk.” Jadi larangan mabuk diperuntukkan orang yang mau mengerjakan solat saja. Belum berlaku secara umum. Tapi lama-lama Islam semakin kuat di negeri Madinah dan Iman mereka pun sudah mulai kokoh, maka ditingkatkanlah larangan narkoba itu oleh Allah SWT.

Yang dikatakan bahwa Narkoba itu merupakan kotoran dari perbuatan syetan. Dan pada saat itulah mulai berlaku hukum haram bagi narkoba. Demikian juga sanksi hukumnya mulai diberlakukan.

Untuk itu sebagai umat beragama sudah seharusnya kita saling membantu di antara sesama dalam melindungi diri dan keluarga kita dari pengaruh penyebaran Narkoba. Apalagi berdasarkan informasi dari pihak yang berwenang bahwa Kota Depok termasuk salah satu wilayah yang rawan peredaran Narkoba. Sudah barang tentu ini bukan hanya tugas Pihak Pemerintah saja, tapi juga tugas kita bersama. Terutama anak-anak remaja kita yang memang rawan pengaruh itu melalui pergaulan-pergaulan mereka.

Apalagi di masa-masa pandemi Covid-19 sekarang ini, mereka mempunyai banyak waktu luang. Sehingga memungkinkan mereka untuk bermain di luar rumah. Dan lepas dari pengawasan orang tua. Maka peran orang tua sangat penting dalam kontribusi pencegahan narkoba. Semoga umat Islam sekarang mampu menjaga hawa nafsunya untuk tidak mendekati barang haram Narkoba ini. Sekian. (*)

You may also read!

Liverpool juara

Data dan Fakta Liverpool Juara Premier League Musim 2019/2020

  RADARDEPOK.COM - Liga Inggris musim 2019/2020, secara resmi telah dijuarai Liverpool. Itu setelah Chelsea berhasil memetik kemenangan dari Manchester

Read More...
Ketua DPD Golkar Kota Depok, Farabi el Fouz

Golkar Depok Masih Fokus Plan A

Ketua DPD Golkar Kota Depok, Farabi A. Rafiq.   RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pada pesta demokrasi Kota Depok

Read More...
bawaslu samakan persepsi

Bawaslu Depok Samakan Persepsi dengan Panwascam

KOMPAK : Ketua dan Komisioner Bawaslu Kota Depok saat melakukan SKPP Daring di Kantor Sekretariat

Read More...

Mobile Sliding Menu