2.700 Anak Jadi Korban Kekerasan, Depok Dianggap Belum Ramah Anak

In Metropolis
Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait.
Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Di peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh 23 Juli, Kota Depok ternyata belum begitu ramah bagi anak. Faktanya, sepanjang 2019 hingga Juli 2020 mencapai kurang lebih 2.700 kasus yang menimpa anak.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, bersamaan dengan Hari Anak Nasional (HAN), dengan tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju,” bahwa Kota Depok merupakan zona merah pada kasus kekerasan anak.

“Karena data yang terlapor di Polres Metro Depok, dari 2019 hingga Juli 2020 mencapai kurang lebih 2.700 kasus. Namun jumlah penyidik sangat terbatas, sehingga berpengaruh dalam penanganannya,” ucap Arist kepada Radar Depok, Kamis (23/07).

Selanjutnya, yang dinilai masih kurang yaitu, saksi-saksi yang bisa digunakan untuk menjerat pelaku serta keterbatasan ruangan tahanan karena korona ini.

“Beberapa waktu lalu kami berikan penghargaan dalam penegakan kasus anak untuk Polres Metro Depok. Walaupun banyak keterbatasan, tetapi semangat yang luar biasa yang membuat kami berikan penghargaan,” tuturnya.

Tagline Kota Depok, yaitu Kota Ramah Anak dia menganggap itu hanya sebuah jargon yang tidak diimplementasikan. Harusnya, jargon itu didukung dengan peran aktif pemerintah dan peran serta masyarakat, untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak.

“Dengan menggagas lingkungan ramah anak mulai dari lingkup RT, RW dan kelurahan,” ujarnya.

Menimpali hal ini, Walikota Depok, Mohammad Idris mengatakan, sebenarnya Kota Depok jauh sebelumnya sudah dinobatkan sebagai kota ramah anak, tentu menjadi apresiasi bagi masyarakat Kota Depok. Namun dia tidak menampik masih terdapat masalah dikalangan anak-anak di Kota Depok.

“Kota Depok sebagai perlintasan, jadi masyarakat bisa menjadikan Kota Depok sebagai persiggahan. Seperti yang belum lama anak kandung, ternyata kan ber-KTP DKI, dia ngontrak dipinggiran Ciliwung,” kata Idris.

Namun demikian, pihaknya tetap optimis menanggulangi permasalahan anak di Kota Depok. Dia mengaku, akan meningkatkan pembinaan dikalangan masyarakat. Caranya dengan melakukan kolaborasi lebih luas sembari meningkatkan kampung siaga di setiap RW.

“Kami sedang merumuskan memperkuat pendanaannya di tingkat kecamatan,” tegas Idris.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi D DPRD Depok, M. Supariyono menuturkan, saat ini Depok sedang menuju kota ramah dan layak anak. Kalau untuk kasus pada anak, memang tidak bisa dipungkiri bahkan di negara maju pun masih banyak kasus terhadap anak. “Namun bisa dihitung berdasarkan jumlah penduduk, dari situ dapat terlihat apakah masih dalam ambang batas wajar atau tidak,” ucapnya.

Menurutnya, kasus perceraian orang tua juga berdampak besar terhadap kasus pada anak. Pemerintah juga harus menekan angka perceraian dan mengedukasi orang tua dalam ketahanan keluarga. Yang menjadi dilema baru saat ini, yaitu anak PAUD atau TK yang harus sekolah online, disatu sisi mereka memang tidak bisa bertatap muka langsung karena adanya pandemi.

“Tetapi, disisi lain jika sekolah online anak bisa menjadi kecanduan gadget, ini merupakan permasalahan baru yang perlu dicarikan solusinya bersama,” pungkasnya. (rd/tul/rub)

 

Jurnalis : Lutviatul Fauziah, Rubiakto

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

turap baru sudah ambrol

Turap Baru Berusia Tiga Tahun Ambrol di Pangkalanjati

LONGSOR : Aparatur Kelurahan Pangkalanjati dan Ketua LPM Pangkalanjati Mugeni meninjau turap yang longsor  di

Read More...
cegah narkoba di sekolah

Penanggulangan Narkoba Masuk Sekolah

NARKOBA : Jajaran pimpinan madrasah dan Pesantren di Kota Depok saat melaksanakan kegiatan pencegahan narkoba

Read More...
tips merawat motor dari yamaha

Tips Merawat Motor di Era New Normal

PROTOKOL KESEHATAN : Pelayanan kepada konsumen di jaringan resmi Yamaha di era new normal ini

Read More...

Mobile Sliding Menu