Aksi Wawan Ubah Image Anak Punk Depok : Sebar Beras Ampuh Ajak Anak Jalanan Mengaji (2-Habis)

In Utama
anak punk depok mengaji 2
HIJRAH : Founder Laskar Berani Hijrah (Lebah) Wirawan Yosh melakukan kegiatan mengaji rutin bersama santrinya yang juga anak punk di Rumah Keluarga Lebah, Kampung Luio, Kecamatan Pancoranmas, Selasa (30/06). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

Niat Wirawan Yogyasono mengajak anak jalanan di Depok mengenal agama tidak selamanya berjalan mulus. Berbagai penolakan dan juga kealpaan kerap terjadi.

Laporan : Indra Abertnego Siregar

RADARDEPOK.COM – Wirawan Yogyasono atau yang akrab disapa Wawan tengah merapihkan Al-quran yang ditaruh di atas sebuah meja. Sembari beberes, pria berambut cepak tersebut mengatakan, sebelum seramai sekarang, anggota Yayasan Lebah Kota Depok cukup sulit untuk diajak mengaji. Kebanyakan dari mereka menolak dengan berbagai macam alibi ketika diajak untuk mengaji.

“Awalnya sangat sulit meyakinkan mereka untuk ikut pembinaan kami. Apalagi mengurusi 150 orang anggota yang merupakan anak jalanan. Beda penangannya dengan mengatur orang biasa yang mengenyam pendidikan tinggi,” kenang Wawan.

Dia mengaku, pernah hampir putus asa karena anggota komunitas Seniman Terminal tidak ada yang mau diajak untuk beribadah, dan ngaji. Namun, pada akhirnya dia tidak kehabisan akal. Wawan mencoba metode lain dalam membujuk para preman dan anak Punk di komunitas tersebut agar mau ikut mengaji. Lama kelamaan metode itu berhasil diterapkan.

“Saya terus mencoba segala cara agar mereka mau belajar ngaji dan kembali mengenal agama lebih dalam,” bebernya.

Setelah sekian lama mencoba, akhirnya dia menemukan salah satu cara untuk mengajak anggota Senter, agar mengikuti kegiatan yang sudah diprogramkannya. Yaitu dengan metode yang disebutnya sebagai teori sebar beras.

“Sebar beras merupakan kegiatan menyiapkan makanan bagi mereka yang mau ikut pengajian. Dengan adanya makanan, dari lobang semut pun mereka akan keluar,” tuturnya.

Dia menceritakan, metode sebar berasnya dimulai dengan meraktir anggota Senter makan bakso, yang kebetulan melintas di sekitaran tempat mereka nongkrong. “Awalnya ada tukang bakso dorong lewat, saya borong baksonya. Saya bilang ke anak–anak punk, kalau mau makan bakso ikut saya ngaji, dan selesai ngaji mereka semua makan bakso,” kenang Wawan.

Kegiatan sebar beras tersebut terus berlangsung dengan menu yang bervariasi setiap harinya. Sehingga anggota komunitas tersebut mulai terbiasa dengan kegiatan mengaji dan belajar mengajar yang digagas Wawan.

“Hari berikutnya saya buatkan nasi kuning, lalu nasi uduk, dan nasi boks. Alhamdulilah mereka semua tampak senang menikmatinya,” bebernya.

Tanpa terasa, berkat metode sebar beras, anggota Senter sudah merasakan pengajian adalah kebutuhan mereka sehingga  rutin walau tanpa iming–iming makanan lagi. “Saya juga akan memberikan hadiah kepada anggota yang bisa menghafalkan surat Arrahman, yaitu hapus tato dan membelikan mereka biola sebagai modal mengamen,” terangnya.

Dia menambahkan, pada Juni 2019 kemarin dia memutuskan untuk mengubah komunitas Senter menjadi organisasi berbaban hukum Yayasan, yaitu Yayasan Laskar Berani Hijrah (Lebah) Kota Depok.

“Yayasan ini baru terbentuk satu tahun yang lalu,”ucapnya.

Dia menejelaskan, di dalam rumah petak sempit tersebut diisi sebanyak 10 orang anggota yang merupakan anak punk. Tak hanya tempat tinggal, dia juga menyediakan kompor gas dan bahan makanan untuk anak punk setiap bulannya.

“Perbulan bayar kontrakan Rp500 ribu, listrik Rp200 ribu, makanan dan mesin cuci juga kami sediakan. Semua kami tanggung lewat uang pribadi kami,” jelas Wawan.

Dia bahkan berencana untuk mengontrak satu unit rumah petak lagi, khusus bagi anak punk dan pengamen jalanan wanita agar bisa terpantau aktivitas sehari–harinya. “Kan gak mungkin mereka saya campur di satu rumah,” tuturnya.

Dia juga membuka pintu donasi yang selebar–lebarnya bagi masyarakat yang ingin mendukung anak jalanan, menuju pintu hijrah. Donasi tersebut terbuka melalui media sosial milik Yayasan Lebah Kota Depok. “Bagi yang mau berpartisipasi bisa menghubungi saya di nomor 081295180905, atau IG @lbhijrah, dan Youtube Canel @Laskar Berani Hijrah,” tuturnya.

Tak lama kemudian, tiga orang anak punk yang menjadi binaan Wawan datang ke basecamp. Mereka baru saja pulang mengamen. Mereka langsung mengucapkan salam begitu sampai ke depan pintu kontrakan. “Assalamualaikum,” ucap ke tiga anak punk tersebut sambil mencium tangan Wawan.

Mereka adalah Hamzah alias Tubil, Jeri dan Uci, anak didik Wawan yang setia datang ke sana untuk belajar mengaji. Tubil mengaku, baru bergabung ke Yayasan Lebah sejak tiga bulan yang lalu. Dia awalnya merupakan anak punk yang hidup nomaden dari satu kota ke kota lainya.

“Saya aslinya dari Padang, Sumatera Barat. Saya keluar dari rumah tahun 2003 ke Cibinong Bogor, saat saya masih duduk di bangku kelas dua SMA,” ucap Tubil.

Dia mengatakan, sebelum mengenal Wawan, hidupnya tidak begitu beraturan. Kehidupan sebagai anak jalanan kerap membawanya pada dunia hitam, yang penuh dengan kemaksiatan dan mabuk–mabukan.

“Alhamdulillah setelah gabung di Yayasan Lebah ini saya merasa masih punya masa depan. Dengan dukungan dari teman di sini saya seperti punya harapan untuk bisa kembali menjadi manusia biasa yang bisa diterima masyarakat,” kata Tubil.

Senada dengan Tubil, Jeri yang juga berasal dari Padang ini mengaku, senang dengan kegiatan mengaji di Yayasan Lebah. Menurutnya, kegiatan pengajian yang diadakan di sana mengingatkannya akan memori masa kecilnya di kampung halaman yang sering dihabiskan dengan kegiatan pengajian.

“Waktu belum kenal Yayasan Lebah ini, jangankan ada yang mau ngajak ngaji. Mau menyapa kita aja orang ogah, karena tampang kami seperti ini,” katannya.

Tapi setelah ikut di dalam Yayasan Lebah, ucap Jeri, dia bisa melihat langsung bagaimana  masyarkat di Depok memperlakukan dia dan temannya dengan baik. Tidak ada lagi masyarakat yang takut kepada mereka dan bahkan kini masyarakat mau menyapa mereka.

“Alhamdulilah warga di sini baik – baik sama kami, sudah sangat ramah lah,” bebernya.

Sementara itu, Uci mengaku sudah 10 tahun ikut dengan Wawan. Perkenalannya dengan Wawan membawa perubahan yang positif bagi dirinya yang dulu terkenal beringas dan urakan.

“Saya sekarang sudah hafal 16 ayat dari surat Arrahman, saya jadi lebih sopan, apalagi semenjak punya nak perempuan,”pungkasnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

banyak orang masker

Jika Tak Lakukan Ini, Percuma Kenakan Masker Cegah Covid-19

ILUSTRASI   RADARDEPOK.COM - Memakai masker menjadi salah satu langkah paling sederhana dan penting yang dapat dilakukan

Read More...
botol vaksin korona

Vaksin Covid-19 Akan Disebar ke Provinsi Ini di Indonesia

ILUSTRASI   RADARDEPOK.COM, JAKARTA - Vaksin virus Korona (Covid-19) sudah siap didistribusikan Pemerintah ke seluruh Indonesia. Menteri

Read More...

Seperti Apa Terpeka yang Dinobatkan Tol Terpanjang di Indonesia

  RADARDEPOK.COM - Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS) ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka) tercatat masih menjadi jalan tol terpanjang

Read More...

Mobile Sliding Menu