Kuasa Hukum Denny Mulyono, Dr Jamalludin
Kuasa Hukum Denny Mulyono, Dr Jamalludin
Kuasa Hukum Denny Mulyono, Dr Jamalludin
Kuasa Hukum Denny Mulyono, Dr Jamalludin

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Karut–marut sengketa kepemilikan lahan seluas 8.700 meter persegi di Kampung Pulo Mangga RT2/5 Kelurahan Grogol, Limo Kota Depok, akhirnya mulai menemukan titik terang. Keladinya, gugatan perdata bernomor register 131/Pdt/G/2019/PN Depok, yang dilayangkan Derin bin Nisah selaku penggugat terhadap Denny Mulyono, ditolak majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut, Rabu (22/07).

Kuasa hukum Denny Mulyono, Dr Jamalludin mengatakan, sebelumnya Akta Jual Beli (AJB) nomor 45 tahun 201 milik klienya, digugat Derin bin Nisah selaku ahli waris ke Pengadilan Negeri (PN) Depok.  Ahli waris melalui notarisnya atas nama Ahmad Budiarto menyatakan, AJB milik kliennya tidak pernah dibuat dan tidak terdaftar di kantor notaris tersebut.

“Atas dasar dalil tersebut, ahli waris melakukan gugatan ke PN Depok dan akhirnya kami memenangkan perkara tersebut. Amar putusan tersebut langsung dibacakan majelis hakim,” kata Jamalludin, kepada Radar Depok, Rabu (22/07).

Dia mengungkapkan, merasa tidak terima dengan gugatan tersebut, kliennya sempat melaporkan ke Polda Metro Jaya di 2019 dengan laporan dugaan pemalsuan, yang tertuang dalam Pasal 236 KUHP. Dan saat ini kasusnya sudah naik dari penyelidikkan ke penyidikkan.

“Pernyataan Ahmad Budiarto selaku notaris yang mengatakan AJB klien kami tidak terdaftar merupakan sebuah kebohongan,” tuturnya.

Dia menuturkan, pihaknya berharap Polda Metro Jaya segera melakukan gelar perkara, untuk menaikkan status terlapor menjadi tersangka. Ini sudah sesuai dengan ketentuan yang terkandung dalam Pasal 263 KUHP. Apalagi, yang membuat adalah Budiarto selaku notaris, kemudian yang menggunakan adalah notaris Derin bin Nisah yang menggunakan surat pernyataan terlapor sebagai dasar gugatan ke PN Depok.

“Tertanggal hari ini, gugatan penggugat terharap klien kami selaku tergugat sudah ditolak seluruhnya oleh majelis hakim di PN Depok. Maka dari itu, pernyataan terlapor yang menyatakan AJB nomor 45 tahun 2010 milik klien kami merupakan sebuah kebohongan dan pernyataan palsu,” tuturnya.

Dia menambahkan, selain AJB nomor 45 tahun 2010 yang sah dan berkekuatan hukum. Kliennya juga sudah menguasai lahan tersebut sejak tahun 2010 sampai dengan adanya pemasangan plang bertuliskan dalam pengawasan Jamaluddin and associates.

“Saksi-saksi mulai dari RT, pihak kelurahan dan ahli waris ikut dalam proses pembuatan AJB tersebut. Mereka semua masih hidup dan menyatakan memang benar mereka menandatangani AJB milik klien kami,” bebernya.

Pihaknya juga heran, mengapa terlapor Ahmad Budiarto menyangkal keabsahan AJB tersebut dan mengatakan tidak pernah membuat AJB kliennya. Padahal, setelah diinvestigasi ke kantor terlapor, AJB tersebut dinyatakan terdaftar dan aktif. “Maka dari itu kami membuat laporan kepolisian karena terlapor sudah membuat surat yang merugikan klien kami,” tegas pemilik Kantor Hukum  Jamaluddin and Associates ini.

Diketahui jauh sebelumnya, Minggu 28 Juli 2019 kepada Harian Radar Depok, Notaris PPAT Ahmad Budiarto membantah, dugaan pemalsuan dokumen AJB No45/2010 yang melibatkan dirinya. Sebab pada saat penandatangan AJB, dia tidak hadir dan menyerahkan tugas kepada stafnya.

“Saya tidak pernah bertemu dengan pembeli dan ahli waris. Baru sekitar 3 bulan lalu bertemu itu juga posisinya dia marah-marah. Katanya saya memalsukan dokumen AJB,” tegasnya.

Dia mengaku, tandatangannya di AJB No45/2010 atas nama Denny Mulyono adalah palsu. Dan dia juga membantah bahwa AJB tersebut tidak terdaftar dalam buku refotorium kantornya. “Ada kok tercatat di refotorium kami AJB-nya walaupun saya tidak pernah ketemu pembeli dan ahli waris,” paparnya.

Budiarto berharap, kasus ini agar diselesaikan secara musyawarah dengan seluruh pihak terkait. Dan menelusuri lebih jauh asal muasal penyebab dugaan pemalsuan AJB tersebut.

“Saya tidak memihak siapapun dan mau bertanggungjawab tapi sesuai dengan tupoksi saya. Saya maunya di musyawarahkan kembali ahli waris dan pembelinya,” pungkas Budiarto. (rd/dra)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Pebri Mulya