Refleksi Hari Anak Nasional : Melindungi Generasi Bangsa

In Ruang Publik

 

Oleh: Perdy Irmawan Prayitno

Fungsional Statistisi, BPS Kota Depok

 

PEMERINTAH memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2020 dengan cara yang berbeda. Peringatan yang jatuh pada tanggal 23 Juli ini dilaksanakan secara virtual guna mencegah penyebaran Covid-19 yang lebih meluas. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat kurva penambahan pasien Covid-19 yang tak kunjung melandai.

Walaupun di masa pandemi Covid-19, semangat kepedulian terhadap perlindungan anak Indonesia tidak boleh padam. Peringatan HAN menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian semua pihak terhadap perlindungan khusus dan pemenuhan hak anak. Hal ini untuk memastikan segala hal yang terbaik untuk perkembangan dan pertumbuhan anak Indonesia.

Bicara perlindungan, sudah sepantasnya seorang anak dilindungi. Menyadari anak merupakan aset bangsa yang sangat berharga, Pemerintah telah menjamin perlindungan akan hak anak. Hal ini tertuang pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28B ayat kedua ”setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

Selain itu, perlindungan anak terhadap bahaya wabah penyakit tidak kalah pentingnya. Terlebih lagi di masa pandemi Covid-19 ini. Pemerintah sebaiknya membuat peraturan untuk melindungi anak dari wabah, namun tidak mengurangi hak anak.

Pemberlakukan sistem belajar dari rumah melalui media daring dirasa sudah cukup tepat. Perlindungan oleh negara ini seharusnya didukung oleh semua pihak, terutama keluarga. Sistem pembelajaran yang diterapkan pemerintah tidak akan berarti jika keluarga tidak berperan aktif dalam menyediakan fasilitas belajar untuk anak. Ditambah lagi membatasi aktivitas anak di luar rumah guna mencegah anak terpapar Covid-19.

Kebijakan sistem belajar mengajar di rumah jangan sampai salah ditafsirkan. Kebijakan ini dilakukan untuk menghindari kerumuman siswa di sekolah. Namun yang menyedihkan, masih ada keluarga yang membolehkan anaknya beraktivitas di luar rumah dengan tidak mengindahkan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Kebijakan ini murni hanya menginginkan keselamatan bagi anak. Keluarga seharusnya lebih peduli terhadap keselamatan dan kesehatan anak. Sehingga anak terlindung dari bahaya yang mengancam.

Keluarga sebagai tempat pembelajaran pertama seharusnya sekaligus dapat menjadi tempat bermain bagi anak. Setidaknya keluarga (orang tua) dapat menyikapi dan meluangkan waktu untuk bermain bersama anak di rumah, sehingga hak bermain anak tidak terampas. Banyak pola bermain yang dapat diterapkan orang tua bersama anak. Dan yang terpenting, keluarga dapat memastikan anak tetap di rumah dan bergembira selama masa pandemi Covid-19.

Asupan Gizi

Sisi lain dari wujud perlindungan anak adalah makanan. Makanan berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemerintah mengusung Pedoman Gizi Seimbang (PGS) untuk menggantikan pola makan empat sehat lima sempurna. PGS dirasa akan lebih baik dari pola makan lama. Dengan gizi seimbang diharapkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh dapat terpenuhi.

Sejalan dengan PGS, ajaran Islam setidaknya memberikan tiga syarat terkait makanan yang tertulis dalam Al-Qur’an. Pertama, makanan yang dikonsumsi haruslah halal. Halal dalam mendapatkannya, proses, hingga halal secara syariat Islam. Lembaga negara yang berwenang sudah seharusnya memastikan kehalalan makanan yang beredar luas di masyarakat, sehingga memberikan rasa aman.

Kedua, makanan yang dikonsumsi seharusnya toyyib (baik). Di tengah tren gaya hidup sehat, masyarakat semakin sadar akan kewajiban mengonsumsi makanan yang baik bagi tubuh. Terlebih lagi di masa pandemi Covid-19, masyarakat berlomba-lomba mengonsumsi makanan sehat guna meningkatkan imunitas tubuh.

Ketiga, tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan. Hal ini tertulis dalam Al-Qur’an, ”makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan”. Banyak studi telah membuktikan bahwa alam ini termasuk manusia didalamnya perlu menjaga keseimbangan, yang artinya berlebihan itu tidak baik.

Sebagai penduduk Islam terbesar di dunia, sudah seharusnya kita menjalankan syariat Islam dengan baik termasuk dalam urusan makanan. Hal ini dapat diterapkan sedini mungkin, sehingga anak telah terbiasa dengan tiga syarat makanan tersebut. Ditambah lagi, asupan makanan pada masa pandemi ini sangatlah berperan penting guna meningkatkan imunitas hingga meningkatkan kecerdasan seorang anak. Jika ini diterapkan, tidak mustahil Indonesia akan kebanjiran sumber daya manusia (SDM) berdaya saing tinggi.

Semoga dengan peringatan HAN dapat menumbuhkan kembali kepedulian semua pilar bangsa Indonesia. Peran semua pilar, baik keluarga, orang tua, masyarakat, media massa, dunia usaha, bahkan pemerintah dapat bersinergi bersama untuk melindungi dan mencerdaskan generasi bangsa. Ini sesuai dengan tema peringatan HAN tahun 2020 ”Anak Terlindung, Indonesia Maju”. (*)

You may also read!

UMKM maju bersama jatijajar

UMKM Maju Bersama Jatijajar Siap Naik Level

GIAT : Penyerahan SK sekaligus pengukuhan pengurus UMKM Maju Bersama, di Perumahan Jatijajar Blok A,

Read More...
artikel hamdi

Kurban dan Semangat Berbagi di Tengah Pandemi

  Oleh: Hamdi,S.Sos Penulis adalah anggota Forum Akselerasi Masyarakat Madani Indonesia (FAMMI)   ORANG-ORANG jahiliyah mempunyai kebiasaan melumuri Ka’bah dengan darah unta yang

Read More...
idris koalisi depok tertata

Pilkada Depok : Tertata-PKS Bentuk TAS

BENTUK KOALISI : (dari kiri) Ketua DPC Partai Demokrat, Edi Sitorus, Ketua DPD PKS Kota

Read More...

Mobile Sliding Menu