RS HGA dan Pasien Berujung Damai

In Metropolis
keterangan dari RS HGA
DAMAI : Tim media info Depok, suami nyonya R, Direktur RS HGA Lely Setiawan, berfoto bersama usai melaksanakan mediasi di RS Hasanah Graha Afiah (HGA), Senin (27/7). FOTO : RUBIAKTO/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kasus pasien yang sempat diberitakan meninggal mendadak, Regina Rosalina Hia di ruang isolasi Rumah Sakit Hasanah Graha Afiah (HGA) berujung damai.

Pihak RS HGA akhirnya menemui keluarga dan menjelaskan perkara yang sebenarnya. Direktur RS HGA, Lely Setiawan menuturkan, pihaknya turut berbela sungkawa atas meninggalnya Regina Rosalina Hia. Berdasarkan panduan pelayanan klinis yang dikunjungi, selama ini pasien masuk dengan syarat pnemonia harus dilakukan isolasi.

“Secara umum pasien ditulis di rumah sakit kami banyak yang telah pulih. Kami mengimbau agar masyarakat segera melakukan pengecekan kesehatannya di rumah sakit,” ucap Lely.

Pihaknya juga lanjut Lely telah menemui pihak keluarga untuk memberikan keterangan atas meninggalnya Regina.

“Keluarga telah mendapat penjelasan tentang kronologi dan pertimbangan meninggalnya Alm ny. Regina Rosalina,” kata Lely.

Ia mengaku, pihak keluarga telah mengerti dan menerima penjelasan tentang penyebab meninggalnya Regina.

“Atas semua penjelasan hal tersebut maka keluarga ny. Regina Rosalina Hia telah melaporkan masalah ini selesai, dan tidak akan mempermasalahkan lagi dikemudian hari. Berita acara ini dibuat tanpa paksaan dari pertemuan dengan Adeniaman Zai,” ucap Lely.

Diberitakan sebelumnya, suami Regina Rosalina Hia, Adeniaman Zei menjelaskan, istrinya batuk sejak setahun belakangan. Alasan dokter dan bidan yang kerap menanganinya mengatakan itu bawaan bayi, karena saat itu Regina sedang hamil. Syukur bayi selamat, tapi almarhum istrinya masih menyisakan batuk yang belum hilang sejak kelahiran anaknya Mei 2020.

Akhirnya, kata Ade, harus dilarikan ke RS HGA karena semua puskesmas dan dokter praktek merujuk ke sana. Dua Minggu lalu juga pernah kondisinya seperti ini drop. Dibawa ke HGA, karena BPJS bermasalah, dia diberikan pilihan oleh pihak rumah sakit diperiksa di ruang isolasi Covid-19 gratis, atau pulang bayar.

Karena kondisi perekonomian keluarga yang terdampak Covid-19, memaksa dia menekan pengeluaran, termasuk biaya rumah sakit. Sisanya Rp370.000, akhirnya dia meninggal kan KTP.

“Saat itu diminta Rp850.000, tapi saya belum bisa melunasi, akhirnya ada kesepakatan dicicil,” ucap Adeniaman kepada Radar Depok, Sabtu (25/07) .

Kemudian, Kamis (23/07) kondisi Regina kembali memburuk, keluarga inisiatif kembali bawa Regina ke HGA. “Karena yang sebelumnya belum lunas, istri saya ngga boleh masuk, pihak rumah sakit meminta untuk lunasi. Akhirnya saya lunasi,” jelas Ade.

Setelah dilunasi, istrinya diperbolehkan dirawat. Hanya saja terpaksa dirawat dengan standar Covid-19, di ruangan panjang dengan berjajar kasur. Ruang sepi dan kosong itu ternyata ruang isolasi bagi penderita Covid-19.

“Pukul 11:01 WIB dia (Regina) masih WA dan video call (VC) saya, tapi tiba-tiba pukul 13.00 WIB saya dikabarkan istri saya meninggal,” terang Ade. (rd/rub)

 

Jurnalis : Rubiakto

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

ulama ke idris imam

Persatuan Ulama-Habaib Depok Beri Restu Idris-Imam

DEKLARASI : Dihadiri Paslon Nomor Urut 2 dan elit partai Koalisi TAS, Persatuan Ulama dan

Read More...
penghargaan naik tingkat

Sanggar Ayodya Pala : Siswa Ujian Kenaikan Tingkat Raih Penghargaan

RAIH PENGHARGAAN : Sejumlah siswa Sanggar Ayodya Pala yang telah mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat mendapatkan

Read More...
jatijajar repot urus administasi

Beredar Foto Spanduk ‘Ganti Lurah Jatijajar’

MUNDUR : Ketua RT dan RW, di lingkup RW2, Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, mundur serentak

Read More...

Mobile Sliding Menu