Belajar di Tengah Pandemi Covid-19

In Ruang Publik

artikel rodiah

 

Oleh : Rodiah Ambarsari, M.Pd

Guru SMP Negeri 1 Kota Depok

 

PEMBELAJARAN tahun ajaran 2020-2021 telah dimulai. Terkendala situasi pandemi virus corona yang masih merajalela di negeri kita, maka Pemerintah menetapkan dua  model pelaksanaan kegiatan pembelajaran, yaitu Pembelajaran Dari Rumah (BDR) untuk daerah-daerah di bertanda zona merah, orange dan kuning, dan Pembelajaran Tatap Muka (BTM) bagi daerah-daerah di zona hijau dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

Terkait situasi ini pula  mengharuskan banyak penyesuaian yang perlu dilakukan guru terutama perihal ketercapaian kurikulum. Artinyasekolah dan para guru dituntut untuk mampu menjaga stamina fisik dan energi mental anak didik, namun juga mampu menjaga kualitas pembelajaran tetap signifikan dibtengah kondisi ini, sekaligus menyiasati agar tujuan pembelajaran dapat pptimal tersampaikan dan terserap oleh peserta didik.

Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Pembatasan ruang interaksi fisik  (physical distancing) yang berlangsung selama masa pandemi memberi tekanan mental atau psikososial terhadap anak-anak. Pada umumnya mereka mengeluhkan beberapa hal : anak-anak sudah pada tarap jenuh berada di rumah yang cukup lama, sementara fasilitas koneksi jaringan internet tidak memadai, dan  penguasaan pembelajaran yang membutuhkan bimbingan terus menerus.

Para  orang tua juga mendapat keluhan anak-anaknya karena tidak bisa bertemu dan bersosialisasi dengan para guru dan teman-temannya di sekolah. Sementara bermain ke tetangga dan kegiatan rekreasi seperti ke mall atau tempat hiburan lain juga tidak bisa. Praktis harus berdiam diri di rumah. Para Ibu yang biasa membimbing putera-puterinya selama ini juga sudah mengalami titik jenuh, apalagi mereka yang juga bekerja baik sebagai pendidik, pekerja kantor atau yang lainnya. Sementara para bapak tidak cukup sabar dan terbiasa membimbing mereka.

Dari aspek pembelajaran daring pun  tentu memerlukan media yang harus dipenuhi dari  sisi penguasaan aplikasi-aplikasi seperti Zoom,  Google Meet, atau aplikasi-aplikasi lainnya. Tidak semua orang tua juga anak  menguasainya, apalagi mereka yang berada di jenjang pendidikan dasar dan menengah yang masih membutuhkan bimbingan terus-menerus. Demikian juga mereka yang tinggal di pedesaan yang jauh dari akses internet. Belum lagi soal biaya yang harus dikeluarkan untuk pengeluaran pulsa atau paket kuota internet, tidak sesikit yang harus dikeluarkan mereka, para orang tua.

Sebab itu saya berpendapat bahwa indikator pencapaian kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran pun harus disederhanakan serta dihubungkan dalam konteks bertahan hidup di tengah pandemi virus korona ini. Kurikulum harus dimodifikasi, disesuaikan dengan kondisi kedaruratan bencana pandemi ini. Dan menurut saya ini pun sangat mendesak untuk diberlakukan di daerah-daerah bertanda zonasi merah, orange dan kuning tadi.

Namanya juga di masa yang diistilahkan sebagai new normal, tentunya pula tudak bisa selazim di masa normal. Seridaknya sampaibsatu semester kita harus menyesuaikan program semester, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran,  dan alokasi waktu tiap materi pembelajaran,   kegiatan belajar mengajar, indikator pencapaian kompetensi baik itu untuk penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar harus adanya perubahan sesuai adanyapandemikk virus korona ini.

Dengan kondisi yang sangat serba terbatas, maka materi yang kita ajarkan sangat ensensial dan tertuang di power point, rumah belajar, quipper school dan Google Classroom. Untuk penilaian bisa dilakukan dengan quiziz, kahoot atau anak mengumpulkan di dalam Google Classroom, anak yang mengerjakan dan mengumpulkan harus diapresiasi tinggi, bahkan anak yang berkomentar di forum pun harus diberi nilai, karena anak tersebut aktif.

Penilaian anak pun harus melihat ke arah pendidikan karakter dan kecakapan hidup. Bukan hanya hasil nilai dari ulangan dan tugas saja. Dalam penjadwalan waktu belajar pun dirubah. Contoh mata pelajaran IPA hanya terjadwal tiap hari Rabu dengan alokasi waktu 100 menit, secara daring . Jadi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Waktu belajar siswa pun dari hari senin sampai jumat, dari jam 07.00 sampai 12.00. Ini agar anak tidak merasa jenuh harus berhadapan dengan laptopnya, serta bisa bermain dan bercanda dengan orang tua, kakaknya atau adiknya serta membantu orang tua. Biasanya hasilnya difoto dan dikirimkan ke guru.

Dalam pengelolaan absen siswa diberikan absen untuk mengisi kehadiran di google classroom tiap hari belajar,  tetapi waktunya hanya sampai jam 12.00. Dan disertakan foto belajar tiap hari dengan memakai baju seragam sekolah. Meskipun BDR, tetapi tetap harus dipelihara suasana keseriusannya. Ini pun penting untk menjaga mental siswa agar mereka tetap terkondisikan dalam suasana kebersamaan.

Satu hal lain yang juga perly ditingkatkan adalah adanya  kerjasama antara orang tua, guru dan sekolah. Kita  sekarang terkendala secara sangat signifikan oleh keharusan memanfaatkan  perangkat teknologi serta aplikasinya yang seolah baru, berbiaya tinggi serta belum merata. Baik guru, orang tua maupun sekolah, masing-masing harus saling terbuka mengemukakan hambatan utama masing-masing, serta bekerjasama mencari solusi-solusi kreatif yang menguntungkan masing-masing pihak. (*)

You may also read!

Ketua DPC Partai Hanura Kota Depok, Miftah Sunandar

Hanura Depok Mantap Dukung Pradi-Afifah

Ketua DPC Partai Hanura Kota Depok, Miftah Sunandar.   RADARDEPOK.COM, DEPOK – Satu lagi partai non parlemen

Read More...
walikota depok pakai masker CFD

Pisah Ranjang dengan Istri, Selamatkan Walikota Depok dari Covid-19

Walikota Depok, Mohammad Idris.   RADARDEPOK.COM, DEPOK - Berkaitan dengan Elly Farida yang terpapar virus Korona (Covid-19),

Read More...
alfamidi SMK Putra Bangsa

SMK Putra Bangsa Gulirkan Alfamidi Class

LULUSAN TERBAIK : Siswa-siswa SMK Putra Bangsa yang menjadi calon peserta Program Alfamidi Class berfoto

Read More...

Mobile Sliding Menu