Beranda Ruang Publik Minimnya Sarana Siswa dalam Belajar Daring

Minimnya Sarana Siswa dalam Belajar Daring

0
Minimnya Sarana Siswa dalam Belajar Daring

rodiah berkerudung merah 

Oleh : Rodiah Ambarsari, M.Pd

Guru SMP Negeri 1 Kota Depok

 

SAYA mempunyai pengalaman yang mengharukan, lucu, menarik, membuat merenung, yang membuat saya semakin memahami kebutuhan dan kesulitan anak-anak belajar jarak jauh.

Begini ceritanya, ketika memang harus belajar dari rumah (BDR) merupakan keputusan yang sangat tepat bagi sekolah-sekolah di zona merah, orange dan kuning. Seperti halnyaKota Depok, tempat saya mengajar, sampai kini masih merupakan zona merah dan tertinggidi seluruh Provinsi Jawa Barat. Walaupun sekolah saya terletak di tengah kota, beberapa anak terkendala belajar dari rumah dikarenakan tidak punya HP.

Setelah seminggu pelaksanaan belajar daring, ada anak yang berkirim pesan singkat ke saya, “Assalamualaiukum wr wb Ibu, saya mulai besok tidak bisa ikut Google Classroom, karena saya tidak punya HP, selama ini saya pake Hpnya kakak, sekarang kakak mulai masuk kerja dan pulangnya jam 12 malam. Jadi saya belajarnya setelah kakak pulang”. Setelah diselidiki ternyata memang termasuk dari golongan yang harus dibantu. Bapaknya hanya bekerja sebagai penarik becak, yang selama masa pendemik ini memang tidak boleh bekerja, ditambah sudah tiga minggu ini berbaring lemah di tempat tidur karena sakit.

Dan di rumah juga yang punya HP adalah kakaknya sendiri. Jadinya saya sebagai wali kelas harus putar otak, bagaimana caranya dia tetap bisa mengikuti pelajaran. Maka  materi pelajaran dan tugas belajar buat  anak tersebut, saya kirim lewat WA ke nomor kakaknya itu di malam hari. Lalu tugas itu pun terpaksa dikerjakan anak tersebut malam hari setelah kakakknya di rumah. Pagi-pagi setelah shalat subuh saya memeriksa hasil tugasnya.

Ada lagi yang mengharukan dan terasa lucu. Ini masih kisah murid saya yang lainnya. Setelah orang tua memaksakan diri memberi Hp android,lama-lama mandeg juga mengirim tugas. kendalanya sekarang adalah ketidakmampuan membeli kuota pulsa internet. Orang tuanya sudah tidak kerja sama sekali karena PHK, jadi biaya kehidupannya dari warung kecil-kecilan yang ada didepan rumahnya. Buat makan saja tidak mencukupi, apalagi buat beli pulsa kuota internet.

Kisah murid saya yang tak kalah mengharukan adalah ada anak yang belajarnya ikut di taman walikota, kebetulan rumahnya dekat dengan gedung walikota. Anak itu masuk belajar ke kelas Google Classroomnya selalu terlambat, menunggu wifi dinyalakan, tetapi bagi dia itu tidak jadi masalah, karena punya semangat belajar.