Nasib Anak dalam Lingkaran Setan

In Ruang Publik

 

Oleh: Dewi Purnasari

Aktivis Dakwah

 

BERAWAL dari kecurigaan terhadap perilaku pelaku, seorang pengurus Gereja Paroki Santo Herkulanus di  Pancoranmas Depok, Jawa Barat, ditangkap polisi pada Minggu (14/06/2020). SPM (42 tahun), seorang pembina subseksi Misnidar, sebuah kegiatan di gereja tersebut diduga melakukan pencabulan terhadap sejumlah anak laki-laki yang aktif di bawah pembinaannya. Saat pihak Gereja Santo Herkulanus membentuk tim investigasi internal yang beranggotakan pengurus yang lain, terkuak fakta bahwa tindak pencabulan oleh SPM tersebut sudah terjadi setidaknya sejak 2006.

Pendamping hukum para korban, Azas Tigor Nainggolan  akhirnya berhasil mengungkap bahwa korban pencabulan oleh SPM ini mencapai 11 orang anak berusia antara 11 sampai 13 tahun. Berdasarkan upaya investigasi terhadap para korban, didapati pengakuan bahwa para korban diintimidasi dengan ancaman tidak akan diberikan tugas kegiatan lagi. Padahal tugas-tugas tersebut merupakan pengakuan atas prestasi bagi anak-anak binaannya. Dari penggalian fakta di lapangan, ternyata kebanyakan anak-anak tersebut tidak tahu bahwa mereka sedang dilecehkan, ini karena kepolosan mereka. Kombes Polres Metro Depok, Azis Andriansyah menyatakan kepada wartawan bahwa SPM dijerat dengan Pasal 82 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Berbeda dengan proses hukum terhadap tindak pencabulan di atas, kasus dugaan pencabulan anak yang dilakukan oleh LLN, seorang biarawan gereja Katolik yang menaungi sebuah  panti asuhan di Depok, mangkrak hampir setahun lamanya. Kesulitan menemukan anak-anak panti asuhan yang dicabuli oleh LLN, karena mereka  pindah dan tinggal menyebar adalah salah satu kendala sulitnya dilakukan penyidikan. Kasus ini dilaporkan ke Polres Metro Depok pada 13 September 2019 oleh Farid Arifandi, seorang warga sipil non-komisioner atas permintaan Komisi Perlindungan Anak (KPAI).

Di sinilah KPAI yang seharusnya mengemban tugas melaporkan dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak terkesan kurang serius membantu penanganan kasus ini. Sampai 3 bulan kemudian sejak 13 September 2019, habislah batas masa tahanan tersangka, Polres Metro Depok masih kesulitan melakukan penyidikan. Kini setelah LLN dibebaskan, KPAI menggulirkan kembali kasus tersebut dengan membantu proses pemberkasan agar Polres mudah melakukan proses penyidikan, demikian Putu Elvina, Komisioner Bidang Anak Berhadapan dengan Hukum KPAI dalam konferensi pers (2/9/2020).

Terkait hal ini, KPAI sempat mendapat somasi dari Forum Warga Kota Indonesia lantaran dianggap tidak mengawal proses hukum kasus ini dengan baik pada tahun lalu, yang berujung buntunya kasus dan bebasnya tersangka. Begitulah kasus demi kasus pencabulan anak silih berganti tanpa kepastian dan titik terang akan hilangnya kasus serupa di kemudian hari. Inilah nasib anak dalam lingkaran setan yang selalui menghantui.

1 of 3

You may also read!

mesin ADM di pemkot

Dua Mesin Anjungan Dukcapil Siap Beroperasi

PANTAU : Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok, Nuraeni Widayatti saat melihat

Read More...
sanggar fajar jaya

Rekam Jejak Sanggar Fajar Jaya : Berdiri 1950, Nama Beken Pernah Menimba Ilmu

CINTAI BUDAYA : Ketua Sanggar Fajar Jaya, Romah Juansah, saat akan berlatih Pencak Silat Gombel

Read More...
makanan mahasiswa tepoengin

Tepoengin Suguhkan Makanan Ala Mahasiswa

TEMPAT : Tempat makan yang dicari mahasiswa dengan harga yang sesuai dan rasa yang pas.

Read More...

Mobile Sliding Menu