sanggar fajar jaya
CINTAI BUDAYA : Ketua Sanggar Fajar Jaya, Romah Juansah, saat akan berlatih Pencak Silat Gombel di lokasi Sanggar Fajar Jaya, di Situ Cilodong, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK
sanggar fajar jaya
CINTAI BUDAYA : Ketua Sanggar Fajar Jaya, Romah Juansah, saat akan berlatih Pencak Silat Gombel di lokasi Sanggar Fajar Jaya, di Situ Cilodong, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

 

Banyak seniman ternama dan artis pernah menimba ilmu di Sanggar Fajar Jaya. Letaknya berada di pesisir Situ Cilodong, Kelurahan Kalibaru, Cilodong. Nama-nama beken, seperti Mandra, Mpok Nori, Malih Tongtong, sampai Haji Bolot, tercatat menimba ilmu sekaligus melestarikan Sanggar Fajar Jaya.

Laporan : Arnet Kelmanutu

RADARDEPOK.COM – Keberadaannya memang tak setenar sanggar lainnya. Meski begitu, Sanggar Fajar Jaya diolah menggunakan rasa dan hati. Agar kebudayaan berdiri tegak dan diterima kalangan remaja, yang kini lebih doyan budaya asing.

Tak ada hasil yang palsu, jika ketekunan dan gotong royong dijadikan landasan. Itulah Sanggar Fajar Jaya. Sebuah tempat yang mengajarkan soal kebudayaan, leluhur, pencak silat, seni tari, dan lainnya, yang berbau dengan kebudayaan. Ternyata pernah menjadi tempat seniman ternama tanah air untuk memperdalam ilmu kebudayaan.

“Ada orang tua kami, namanya Mak Uwo. Dia yang ceritain kalau Bang Mandra pernah main kesini. Mandra masih kenal banget sama Mak Uwo,” ungkap Romah Juansah, Ketua Sanggar Fajar Jaya.

Romah mengulas kembali apa yang diceritakan Mak Uwo, saat Mandra masih menjadi salah satu murid di sanggar. Ada satu pertunjukan seni budaya di Kampung Cilodong. Saat itu, Sanggar menampilakan salah satu pertunjukan. Mandra yang menjadi pengangkat gong, untuk di arak keliling kampung.

“Ini saya diceritain si Mak loh ya. Jadi ini cerita si Mak yang ngalamin, waktu dulu masih tinggal di Sanggar,” terangnya yang lengkap menggunakan pakaian adat betawi, tak ketinggalan peci hitam dan ikat pinggangnya.

Sanggar yang berdiri sejak tahun 1950 ini, tentu mengoleksi ragam cerita perjuangan, terutama dalam mempertahankan kebudayaan kepada generasi penerus. Bahwa ati diri harus tetap dicintai dan dirawat. Meski tak ada lirikan dari pemerintah kota, berbagai upaya mereka lakukan untuk mendidik kebudayaan kepada masyarakat lainnya.