Agama dan Peluang Belajar Kreatif

In Ruang Publik

 

Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

AGAMA  itu memang dogma. Ajaran yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Semua berbasis keharusan. Artinya akal dan perbuatan manusia dituntut untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan agama. Sehingga seakan manusia itu terkungkung oleh Agama yang dipeluknya.

Padahal kalau diperhatikan lebih mendalam, justru agamalah yang membuat manusia itu bebas berfikir dan bebas berbuat. Sementara akal adalah sesuatu yang sangat terbatas. Sehingga orang yang berpijak pada akal semata, akan terpasung oleh akalnya sendiri. Akan dibatasi oleh kemampuan akalnya itu.

Hal ini sangat berbeda dengan ketentuan agama yang sangat luas cakupannya. Karena agama memang diciptakan oleh Tuhan yang Maha luas. Maha luas Pengetahuannya (Ilmu) dan maha luas kemampuan (qudrah)-Nya. Ibarat samudra yang tak bertepi. Maka siapa saja yang menentukan hidupnya berbasis agama, ia akan memperoleh jalan yang sangat terbentang luas.

Walladzina jaahadu fiena lanahdiyannahum subulana. (Q.S.Al-Ankabut.69.) “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Untuk itu setiap manusia diharapkan selalu berpijak pada ajaran agamanya (Islam) agar terbuka peluang belajar yang kreatif dan Inovatif. Karena agamalah yang mengajarkan manusia untuk berpikir banyak jalan (subulana). Bukan satu jalan atau satu metode saja. Sehingga apapun yang dicita-citakan akan ia terima hasilnya.

Baik hasil itu sesuai dengan harapan awalnya maupun tidak sesuai dengan harapannya. Karena ia sadar bahwa hasil apapun itu merupakan ketentuan Tuhannya yang telah mengukur kemampuan setiap orang akan kenikmatan yang diterimanya.

Keadaan itu berbeda dengan orang yang pikirannya hanya berpijak pada akalnya saja. Jika ia bercita-cita kemudian tidak bisa tercapai sesuai dengan keinginannya, ia akan kecewa dan stress. Mengapa ia kecewa ? Karena akalnya tidak bisa menerima kenyataan yang dialaminya. Bila targetnya gagal, ia akan berkata, bahwa ia gagal. Yang berarti kerugian baginya. Karena ia selalu mengukur hasil dengan perhitungan logika semata. Berbeda dengan orang yang mendasari usahanya dengan agama, maka ia akan selalu puas (ridla) pada hasil yang diterimanya.

1 of 2

You may also read!

kue nyonya laris

Kuenya Nyonya Laris Sampai ke Hongkong

LEZAT : Bagi yang ingin nyetok kue di rumah, pilihannya Kuenya Nyonya. FOTO : ADENA/RADAR

Read More...
pokdarkamtibas jatijajar

Melihat Giat Pokdarkamtibmas Jatijajar : Cegah Covid-19, Adakan Sosialisasi dan Bagikan Masker

GIAT : Anggota Pokdarkamtibmas adakan sosialisasi dan pembagian masker, di depan Kantor Kelurahan Jatijajar, Kamis

Read More...
UMKM serua dilatih

20 Pelaku UMKM Serua Dilatih

DILATIH : Suasana pelatihan kemasan yang diadakan Aparatur Kelurahan Serua. FOTO : INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK   RADARDEPOK.COM,

Read More...

Mobile Sliding Menu