Berkampanye dengan Rambu-rambu Etika

In Ruang Publik

 

Oleh : Hamdi, S.Sos

Anggota Forum Akselerasi Masyarakat Madani Indonesia (FAMMI). Tinggal di Depok

 

JIKA tak ada aral melintang, perhelatan pemilahan kepala daerah (pilkada) serentak bakal digelar pada tanggal 9 Desember 2020. Ada sekitar 738 bakal pasangan calon (bapaslon) yang telah mendaftar ke KPU, baik bapaslon yang diusung partai politik maupun perseorangan. Mereka terdiri dari 25 bapaslon pemilihan gubernur dan wakil gubernur, 611 bapaslon pemilihan bupati dan wakil bupati, dan 102 bapaslon untuk pemilihan wali kota dan wakil wali kota.

Salah satu cara yang efektif dan sah untuk memperkenalkan sekaligus menarik simpati calon pemilih adalah melalui kampanye. Melalui ajang kampanye, para calon kepala daerah (cakada) dapat memperkenalkan program-programnya sekaligus dapat menarik simpati pemilih agar memberikan dukungan hak suara kepada cakada tersebut pada hari pencoblosan.

Menjelang perhelatan pilkada serentak nanti, kampanye menjadi media yang ampuh untuk “menjual” calon pemimpin yang diusung dengan membawa visi, misi dan segudang janji dan program.  Di era milenium  kampanye tidak hanya dilakukan di dunia nyata (lewat rapat, diskusi dan debat terbuka) tetapi juga dilakukan di dunia maya melalui sarana media sosial, seperti twitter, instagram, facebook, whatsapp, dan sejenisnya.  Media kampanye yang terakhir ini memiliki kelebihan yaitu mampu menjangkau wilayah yang lebih luas dan kecepatan mengakses informasi/materi kampanye yang disuguhkan kepada pengguna media sosial (sebagai target sasaran kampanye).

Dengan semakin variatifnya media kampanye, di satu sisi menguntungkan bagi calon pemilih untuk mengenal lebih jauh calon-calon yang berkontestasi di ajang pemilihan umum. Di lain sisi, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim sukses (timses) masing-masing calon untuk membuat kemasan kampanye yang kreatif, menarik dan, edukatif sekaligus bisa menjual sang calon.

Terlepas dari model dan cara kampanye yang beragam tersebut, ada satu hal yang harus dikedepankan oleh para calon dan timsesnya, yaitu tentang etika berkampanye.  Ada lima rambu etika berkampanye yang bisa menjadi panduan bagi para peserta kampanye yang sesuai dengan norma agama dan budaya kita serta peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu :

1. Jujur

Kejujuran merupakan salah satu kunci sukses dalam komunikasi politik. Kejujuran juga modal yang sangat berharga bagi seorang calon pemimpin. Jika saat menjadi calon pemimpin sudah terlihat kejujurannya (termasuk dalam kampanye), insyaa Allah jika kelak terpilih sikap jujur itu akan tetap melekat dalam dirinya. Dalam kampanye ia tidak akan menggunakan jurus  tipu-tipu (misalnya hoax) dan mengumbar janji demi meraih simpati dan suara calon pemilih.

1 of 3

You may also read!

DKP3 tentang tanaman

DKP3 Depok Fokus Dampingi Kelompok Tani

KUNJUNGAN : Kepala DKP3, Diah Sadiah bersama aparatur Kecamatan Sawangan saat berkunjung ke RW12 Kelurahan

Read More...
beranda cafe perempuan

Makan Nikmat, Tidak Menguras Kantong di Beranda Depok

HEMAT : Beranda Depok siapkan beberapa pilihan menu spesial dengan harga ekonomis. FOTO : ISTIMEWA   RADARDEPOK.COM,

Read More...
UI melatih guru SLB

FKM UI Latih Guru SLB di Depok

PELATIHAN : Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (FKM UI), beri pelatihan para Guru SLB Kota

Read More...

Mobile Sliding Menu