senyum Dian Sastrowardoyo
Dian Sastrowardoyo.
senyum Dian Sastrowardoyo
Dian Sastrowardoyo.

 

RADARDEPOK.COM – Disela-sela diskusi antara Dian Sastrowardoyo dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim, sempat ada pertanyaan tentang kapan sekolah akan dibuka.

Apalagi sekarang ini di Indonesia wabah virus Korona (Covid-19) terus ada dan bahkan angka pasiennya meningkat tiap harinya.

“Jadi belajar di rumah melalui daring, kapan sih sekolah itu buka mas menteri? Apalagi dengan adanya PSBB jilid II dan angka Covid-19 yang juga tidak turun,” ujar Dian Sastro.

Nadiem Makarim memberikan jawaban di luar dugaan. Ia yang mencanangkan belajar online itu, tak bisa memastikan kapan programnya berakhir dan kegiatan belajar mengajar di sekolah atau tatap muka berlanjut.

“Itu pertanyaan yang saya dengan sangat sedih harus menjawab, saya tidak tahu jawaban itu,” kata Nadiem Makarim.

“Karena kalau saya bisa menanyakan Covid-19 kapan Anda pergi dari sini, tentunya saya akan tahu jawabannya,” imbuhnya.

Kondisi Indonesia sangat mempengaruhi dalam pertimbangan dibukanya kembali sekolah. Sementara sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia tak punya wewenang menentukan apakah daerah itu aman dari Covid-19 atau tidak.

“Level keparahan dan yang menentukan apakah daerah itu ada di zona merah, kuning, hijau ada di satgas. Kemendikbud menentukan aturan main, berdasarkan evaluasi yang dilakukan satgas covid nasional,” paparnya.

“Jadinya, mohon maaf untuk itu saya bisa menjawab secara definitif, sangat sulit sekali dan menyedihkan,” kata menteri sekaligus pengusaha ini.

Tapi Nadiem Makarim tak berpangku tangan dengan hal ini. Meski sekolah dilakukan daring, ia tetap berusaha bisa memfasilitasi siswa, guru dan orangtua agar tak semakin terbebani dimasa pandemi Covid-19.

“Waktu semua komplain, saya perjuangkan siang dan malam untuk kita mendapatkan Rp 7,2 triliun bantuan pulsa,” tuturnya.

Selain itu, bersama tim di Kemendikbud, Nadiem Makarim membuat kurikulum darurat.

“Kami mengeluarkan kurikulum baru, tadinya makan waktu tiga tahun, kami rampingkan dalam waktu tiga bulan,” kata Nadiem Makarim.

Namun, ia mengingatkan kurikulum ini sebagai opsi kepada sekolah-sekolah yang ingin melakukannya.

“Kalau kita paksakan, itu bukan membantu sekolah namanya,” imbuhnya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya