dosen UPN minyak goreng
PEMAPARAN : Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UPNVJ, Maria Selvester Thadeus didampingi dosen UPNVJ lainnya, saat mengisi materi dalam pengabdian masyarakat di Perumahan Komplek Karyawan UPNVJ, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kamis (08/10). FOTO : ANGGA/RADAR DEPOK
dosen UPN minyak goreng
PEMAPARAN : Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UPNVJ, Maria Selvester Thadeus didampingi dosen UPNVJ lainnya, saat mengisi materi dalam pengabdian masyarakat di Perumahan Komplek Karyawan UPNVJ, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kamis (08/10). FOTO : ANGGA/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, MERUYUNG – Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) mengadakan program kemitraan masyarakat, pengetahuan dan perubahan prilaku masyarakat tentang penggunaan minyak goreng sehat, dan hubungannya dengan penyakit diabetes militus, bagi ibu rumah tangga, di Perumahan Komplek Karyawan UPNVJ, Kelurahan Meruyung, Limo, Kamis (08/10).

“Program ini kemitraan masyarakat,  merupakan salah satu syarat dosen-dosen UPNVJ, di mana kami tiap tahun harus punya satu pengabdian masyarakat, jadi kami buat tim, anggotanya empat orang, saya sendiri dr. Maria, Ibu Cut, Ibu Ika dan Pak Yudi,” kata Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UPNVJ, Maria Selvester Thadeus.

Terkait dengan tema kegiatan, tentang minyak jelantah. Sebab, masyarakat kebanyakan menggunakan minyak goreng tidak sekali pakai dan dipergunakan lagi. Padahal, minyak itu punya hanya mempunya nilai kesehatan pada gorengan pertama.

“Berikutnya, karena bilangan per oksidanya sudah meningkat, itu sudah tidak bagus untuk tubuh,” papar dosen tetap UPNVJ.

Apa yang diutarakan tersebut, sambung Maria, berdasarkan penelitiannya di 2005, dimana ia menggunakan minyak yang berasal restoran fast food dan di 2015 menggunakan minyak dari ibu rumah tangga.

“Saya teliti, minyak ini saya berikan ke tikus putih. Kemudian diambil dan diperiksa hatinya. Ternyata ada bendungan di hatinya dan kematian dari sel hatinya. Sebab, proses metabolismenya itu terjadi dalam hati. Jadi itu yang paling parah di hati,” terang Maria.

Kemudian, dalam hati itu terdapat inti sel dan mengandung DNA untuk memberikan kode genetik. Sehingga, ia meneliti apakah kerusakan hati itu sampai DNA-nya, dan ternyata di 8-Hydroxydeoxyguanosine (8-OhdG) itu meningkat.