Islam dan Penyelesaian Konflik dalam Diri

In Ruang Publik

Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

SERING manusia menghadapi konflik batin yang terjadi dalam dirinya. Konflik ini diakibatkan oleh kekecewaan yang berkepanjangan, dalam menghadapi berbagai kekecewaan. Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang kecewa terhadap dirinya sendiri. Misalnya tadinya kaya, tiba-tiba berubah jatuh miskin. Lalu tidak mau menerima keadaan yang sedang dihadapinya. Bahkan menjadi stress yang merasa bahwa dirinya telah berbuat salah yang menyebabkan kejatuhannya. Demikian juga seseorang yang telah sukses mencapai puncak karirnya, tiba-tiba harus menerima kenyataan, bahwa jabatan tinggi yang telah diraihnya dengan susah payah kini telah hilang dari dirinya.

Pada saat demikian inilah biasanya seseorang mengalami konflik batin yang tidak henti-hentinya. Yakni konflik antara nafsu baik dengan nafsu buruk. Di mana nafsu baik selalu bersedia menerima kenyataan, karena ia dirahmati Tuhannya. Nafsu inilah yang menjadi potensi positif dalam dirinya. Yang mampu mendorong perbuatan dan sikap positif dalam menghadapi berbagai persoalan, seberat apa pun persoalannya. Dengan kesadaran demikian, maka orang tersebut tidak mudah kecewa, apa lagi stress. Dia akan tetap tegar dalam menghadapi persoalan yang sedang menimpa dirinya.

Hal ini berbeda dengan orang yang terkalahkan oleh nafsu buruknya (hawa nafsu), maka ia akan mudah rapuh. Bahkan berpikirnya terkadang terganggu, sehingga tidak dapat fokus dalam kebaikan yang seharusnya mampu membangunkan kejatuhan dirinya. Mampu bangkit kembali dari keterpurukan. Ibarat orang tersandung jatuh, ia harus mampu bangkit kembali lalu berjalan meneruskan arah tujuannya. Dengan terganggunya konsentrasi itulah, maka bukannya ia bisa bangkit, tapi cenderung turun dan semakin turun. Kalau saja tidak segera tertolong, maka akan jatuh (drop) ke titik terendah dalam hidupnya.

Itulah sebenarnya yang terinformasikan dalam Al-Qur’an, Surat Yusuf, ayat : 53. Bahwa potensi diri manusia itu terdapat nafsu jahat dan nafsu yang dirahmati oleh Tuhan. Dan di antara keduanya saling berebut mempengaruhi jalan hidup manusia. Allah SWT berfirman, yang artinya : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”

Dalam ayat itu jelas bahwa nafsu itu berpotensi menggerakkan kehebatan ataupun kejatuhan. Persoalannya adalah bagaimana cara memenangkan pertarungan itu dengan nafsu baik yang menang atau dimenangkan.

Dalam keadaan seperti itu sebenarnya Islam telah memberikan solusi jitunya. Yaitu dengan sabar. Dalam arti sabar menghadapi kenyataan hidup ini. Sekalipun jatuh –misalnya- ia tetap bisa berbuat baik. Berpikir jernih, dan bertindak positif. Dan tindakan positif itulah yang mengantarkan orang tersebut menjadi kuat dan tahan banting. Secara mental punya kekuatan daya tahan dan daya tangkal yang mampu menghalau kegalauan dirinya. Dan Tuhan telah menjanjikan balasan kebaikan di dunia dan akhirat bagi orang yang mau berbuat ihsan (baik). (Q.S. Az-Zumar : 10).

1 of 2

You may also read!

pradi ngobrol sama nenek

Pradi Didoakan Nenek Usia 106 Tahun

SUNGKEM : Calon Walikota Nomor Urut 1, Pradi Supriatna saat sungkem ke Mak Naimah nenek

Read More...
imam bertemu pendukung

Idris-Imam Selalu Tepati Janji Kampanye

DUKUNGAN : Calon Wakil Walikota Depok Nomor Urut 2, Imam Budi Hartono saat sosialisasi di

Read More...
maksimal nikah di KUA

Nikah di KUA Maksimal 10 Orang

Kepala KUA Beji, Dede Nasip.   RADARDEPOK.COM, BEJI – Pandemi Covid-19 benar-benar merusak segala sendi kehidupan. Bikin

Read More...

Mobile Sliding Menu