Mengasah Adversity Quotient Siswa pada Masa Pandemi

In Ruang Publik

dina khairunisa

 

Oleh : Dina Khairunisa, S.Pd., M.Si.

Guru Mata Pelajaran Fisika

SMA Negeri 1 Dramaga, Bogor

 

HASIL survei Belajar dari Rumah (BDR) Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat (Jabar) dari 28 Mei – 01 Juni 2020  menunjukkan hambatan yang dialami siswa, yaitu sulit memahami materi sebanyak 70 persen, bosan ada 57,10 persen , kurang konsentrasi 56,60 persen dan sulit komunikasi dengan guru, tugas kurang jelas, internet tidak memadai ada 56,50 persen.

Semua respon yang ditampilkan siswa tersebut menunjukkan indikasi bahwa adversity quotient siswa rendah. Adversity quotient merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan tersebut dengan kecerdasan yang dimiliki, sehingga menjadi sebuah tantangan untuk diselesaikan (Stoltz, 2000).

Paul G. Stolz mengemukakan, Adversity Quotient terdiri dari empat dimensi diantaranya control (pengendalian), Origin and Ownership (asal usul dan pengakuan), Reach (jangkauan) and Endurance (daya tahan), yang secara keseluruhan dapat menentukan kecerdasan adversitas seseorang.

Kesulitan pembelajaran di masa pandemi ini bukan hanya dirasakan siswa, tapi juga guru dan orang tua yang anak-anaknya harus tetap berada di rumah. Guru harus segera merespon tantangan ini dengan solusi yang terbaik, yang men-trigger guru untuk lebih kreatif dalam menyajikan pelajaran, dengan tidak hanya mementingkan aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap, tetapi juga memperhatikan kondisi siswa.

Pada mata pelajaran fisika kelas XII di SMA Negeri 1 Dramaga diawali dengan KD 3.1 tentang menganalisis prinsip kerja peralatan listrik searah (DC) berikut  keselamatannya dalam kehidupan sehari-hari, dan KD 4.1 tentang melakukan percobaan prinsip kerja rangkaian listrik searah (DC) dengan metode ilmiah berikut presentasi hasil percobaan. Biasanya pembelajaran aspek pengetahuan dan keterampilan pada KD ini dilaksanakan dengan metode diskusi, tanya jawab serta praktikum. Namun di masa pandemi ini, bisa diganti dengan kegiatan pembelajaran mengimplementasikan model project based learning yaitu berupa penugasan proyek membuat suatu produk yang menerapkan prinsip kerja rangkaian listrik searah (DC).

Project Based Learning merupakan pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pembelajaran dan tugas nyata yang memberikan tantangan bagi siswa yang terkait dengan kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan secara berkelompok (Goodman dan Stivers, 2010). Keunggulan penerapan model project based learning diantaranya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa untuk mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting. Sehingga, mereka perlu dihargai, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks, meningkatkan kolaborasi, menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan siswa secara kompleks dan dirancang berkembang sesuai dunia nyata, melibatkan para siswa untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata dan membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran (Kurniasih dalam Nurfitriyani, 2016).

1 of 2

You may also read!

titin supriatin

Modifikasi Pembelajaran Pidato Persuasif di Era Pandemi

  Oleh : Hj. Titin Supriatin, S.Pd. Mengajar di SMPN 9 Depok   DALAM pembelajaran bahasa kita kenal ada empat aspek keterampilan yaitu

Read More...
anna

Study Saster, “Bencana” sebagai Model Pembelajaran Seni Rupa

  Oleh : Ana Setiawaty, S.Pd Guru Seni Budaya SMP Negeri 22 Depok   “BELAJAR dari Covid-19” merupakan tema Hari Pendidikan Nasional tahun

Read More...
PKB pancoranmas ke radar depok

Ketua DPAC PKB Panmas Sowan ke Radar Depok

SILATURAHMI : Ketua DPAC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Pancoranmas, Adhimas Bagus Kurniawan, berbincang dengan Manager

Read More...

Mobile Sliding Menu