Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

KEBAIKAN manusia hanya bisa dilihat dari perbuatan lahiriyahnya saja. Apa yang diucapkan oleh lisan dan apa yang diperbuat oleh seseorang menjadi indikator kebaikan seseorang. Walaupun tidak sedikit antara ucapan dan isi hatinya tidak singkron.

Karena adanya ketertutupan isi hati yang paling kecil atau nurani manusia yang ada di dalam dada setiap orang. Isi hati yang terpendam amat dalam inilah yang sulit untuk diditeksi. Namun karena hati sebagai pusat energy yang mampu mentransfernya ke seluruh organ manusia, maka bisa dilihat unsur-unsur dinamika hidupnya bisa dijadikan sebagai dasar penilaian.

Untuk itu Islam mengajarkan kepada manusia agar selalu dapat merawat generator (Qalbu=hati) yang ada di dalam diri manusia itu. Karena memang adanya hati itu selalu berubah-ubah tergantung faktor-faktor yang mempengaruhinya. Baik faktor internal maupun faktor eksternal. Ketika seseorang merespon sesuatu yang datang dari luar -misalnya, sering langsung menanggapinya sebagai pengaruh yang harus dijalani. Seperti ketika seseorang mendapat cercaan atau cibiran dari orang lain, secara sepontan melawan dan ingin mengalahkannya.

Bahkan ingin menumpas cercaan tersebut dengan cercaan yang lebih keras. Begitu juga jika seseorang mendapat pujian baik dari orang lain, maka segera saja meresponnya dengan ucapan atau sikap yang baik atau bahkan lebih baik dari pujian yang datang kepadanya.

Dan inilah salah satu sebab mengapa dalam diri manusia itu selalu ada pergolakan yang saling berbenturan. Yaitu antara nafsu baik dan nafsu buruk. Dan selama manusia itu masih hidup di muka bumi ini, isi hati ini tidak akan mau bersatu antara dua kepentingan tersebut. Dan inilah yang menjadikan hati manusia itu selalu labil. Tidak pernah ada hati yang stabil. Selalu berubah dari waktu ke waktu. Sekarang menangis, tak lama kemudian tersenyum. Sekarang tertawa terbahak-bahak senang, tidak lama kemudian menjadi sedih dan cemberut. Demikianlah yang dikatakan al-Imanu yazidu wa yanqushu ; Iman itu bisa bertambah, dan juga bisa berkurang.

Kondisi yang tidak stabil inilah yang justru menjadi lahan amal, lahan perjuangan bagi seorang muslim. Untuk selalu berjuang melawan kepentingan nafsu angkara murka tadi. Dan jika menang, maka energy positiflah yang terdistribusi ke semua organ tubuh kita. Tapi sebaliknya jika nafsu buruk yang menang, maka energy negatif yang menguasai semua gerak-gerik organ tubuh itu. Dan bisa jadi berbuat hal-hal yang destruktif.