makna ondel ondel
TRADISI : Seorang remaja saat sedang berkeliling mengais rezeki dengan mengamen menggunakan ondel-ondel di bilangan Jalan Margonda, Depok. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK
makna ondel ondel
TRADISI : Seorang remaja saat sedang berkeliling mengais rezeki dengan mengamen menggunakan ondel-ondel di bilangan Jalan Margonda, Depok. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kerap dijumpai di sepanjang jalan untuk mengais rezeki. Ondel-ondel yang menjadi kebanggan budaya, kini mengalami pergeseran makna. Bahkan muncul stigma negatif.

Aktivis Budaya Kota Depok, Ahmad Sastra Prayuadana tak memungkiri hal tersebut. Dirinya prihatin dengan kondisi kebudayaan saat ini, yang telah melunturkan nilai dari budaya itu sendiri. Sehingga tidak menjadi satu hal bermakna bagi kehidupan dan jati diri masyarakat yang memiliki darah betawi.

“Makna ondel-ondel sudah bergeser, setelah banyak yang dipake ngamen,” ungkapnya kepada Radar Depok, Rabu (07/10)

Menurutnya, ondel-ondel yang kerap berkeliaran dijalan itu dianggap menghilangakan martabat budaya, dan terkesan dirusak sebagian kalangan. Karena, yang terdengar ditelinga adalah suara sumbang alias pandangan negatif dari masyarakat.

“Pasalnya, pengamen ondel-ondel membuat tidak nyaman seperti kemacetan dijalan, bising dan dengan penampilannya yang tidak sesuai dengan norma-norma budaya yang bernilai luhur, yang seharusnya dijaga dan dilestarikan,” papar Sekretaris Betawi Ngoempoel.

Dirinya menjelaskan, tanggung jawab atas oknum pengamen ondel-ondel itu terletak pada pegiat maupun pemerhati budaya. Terutama, pemerintah yang sudah seharusnya mengambil peran, agar menjaga marwah dari setiap kebudayaan yang ada. Jika di Depok, berarti merawat kebudayaan Betawi.

“Dengan kondisi yang seperti ini siapakah yang bertanggung jawab, pertanyaan tersebut yang timbul dari masyarakat,” ungkapnya

Menurutnya, tanggung jawab soal melestarikan kebudayaan bukan semata pada punggung pemerintah, melainkan pada punggung masyatakat, terutama pelaku kebudayaan. Kolaborasi dari kedua pihak memang menentukan identitas budaya suatu daerah.

Momentum Pilkada, beber dia, sangat tepat untuk, setiap pasangan calon melestarikan kebudayaan agar dijaga. Langkah kongkret kolaborasi pemerintah dan pelaku kebudayaan sangat menetukan.

“Pelestarian kebudayaan harus diperjuangkan semua pihak, karena masyarakat berasal dari budaya yang ada,” pungkasnya. (rd/arn)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Pebri Mulya