titin supriatin

titin supriatin

 

Oleh : Hj. Titin Supriatin, S.Pd.

Mengajar di SMPN 9 Depok

 

DALAM pembelajaran bahasa kita kenal ada empat aspek keterampilan yaitu membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang berkaitan langsung dengan peserta didik. Berbicara mempengaruhi keberanian untuk tampil di depan umum, misalnya dalam menyampaikan pidato.

Pidato persuasif merupakan materi wajib di kelas IX semester I yaitu, pada KD 3.3 dan 4.4. Pidato persusif adalah kegiatan untuk berorasi di depan umum dalam rangka menyampaikan pendapat/ide/gagaan/hal yang disampaikan berisi ajakan kepada khalayak dengan tujuan memberikan pengaruh pada orang lain, agar bersedia mengikuti keinginan orator secara sukarela.

Beberapa kendala yang sering guru hadapi dalam pembelajaran pidato persuasif di SMPN 9 Depok antara lain masih rendahnya minat siswa kelas IX  terhadap materi berpidato persuasif,  kurang berani berbicara di depan umum, serta keterampilan pidato persuasif yang masih rendah.

Untuk itu, perlu dipilih pendekatan dan metode yang tepat untuk meningkatkan keterampilan pidato persuasif di SMPN 9 Depok. Salah satu caranya dengan menggabungkan antara pendekatan Saintifik dengan metode Twenty Quistions.

Menurut Hosnan (2014) Pedekatan Saintifik adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang agar peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep melalui kegiatan mengamati atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data serta menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikannya.

Metode Twenty Quistions adalah suatu teknik pembelajaran bahasa agar siswa pandai menganalisis suatu hal/informasi. Metode Twenty Questions, dapat mempermudah siswa menguasai topik yang dipilih, sebab di dalam metode tersebut siswa berlatih bagaimana cara mengeksplor gagasan sesuai dengan tema melalui pertanyaan-pertanyaan yang dibuat (Soeparno1988: 82)

Penerapan metode ini, siswa dibagi menjadi dua kelompok yaitu Kelompok A dan Kelompok B. Kelompok A pada giliran pertama bertindak sebagai penjawab, sedangkan Kelompok B bertindak sebagai penanya. Kelompok A menuliskan kata atau istilah pada secarik kertas, kemudian kertas tersebut dilipat dan disembunyikan. Kelompok B mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang hanya boleh di jawab ‘ya’ atau ‘tidak’ oleh Kelompok A.