Sepenggal Kisah Camat Sukmajaya, Tito Ahmad Riyadi : Sembuh dari Covid-19, Semangat Tingkatkan Imunitas

In Satelit Depok
cerita tito korona
Camat Sukmajaya, Tito Ahmad Riyadi.

 

Terjangkit Covid-19 merupakan mimpi buruk yang jadi nyata. Banyak orang Indonesia justru khawatir melakukan swab tes, karena takut akan hasilnya. Camat Sukmajaya, Tito Ahmad Riyadi akan membagikan kisahnya saat terpapar virus asal Tiongkok ini.

Laporan : Daffa Andarifka Syaifullah

RADARDEPOK.COM – Agustus biasanya menjadi bulan yang penuh dengan semangat kemerdekaan. Tetapi ada yang berbeda pada tahun ini, yang justru menjadi momok menakutkan akibat organisme kecil tak kasat mata. Pada bulan itu juga, Tito dibawa ke rumah sakit.

Dihadapkan berbagai aktivitas yang menumpuk menjadi rutinitas dan tanggung jawab seorang Camat. Dengan membawahi enam kelurahan, sudah sepatutnya dirinya mengayomi wilayahnya.

Tanpa memikirkan kesehatannya, satu persatu kegiatan ia santroni dengan rasa peduli. Jiwa mudanya bagaikan pemimpin adil, yang selalu melakukan pengorbanan demi masyarakat.

19 Agustus, Tito memaksakan diri menghadiri beragam acara, padahal ia sudah merasakan gejala demam. Setelahnya ia merasakan tidak enak pada persediannya, tetapi ia tahan dan tidak dibeberkan ke publik. Tiga hari kemudian, mulailah indra pengecapnya kehilangan nikmat. Beragam rasa yang biasanya ia rasakan, menjadi hilang, baik penciuman maupun pengecap. Semua hambar.

Empat  hari berselang, tepatnya 25 Agustus, ketika matahari mulai condong ke barat, Tito memeriksakan kondisi kesehatannya. Karena ia merasa tubuhnya sudah tidak baik.

Ia mencari klinik atau rumah sakit yang hasilnya muncul di hari yang sama. Akhirnya, dengan mobil hitamnya, ia melintasi aspal menuju ke Rumah Sakit Bhayangkara Brimob. Swab tes ia lakukan dengan rasa yang mendebar-debar saat sampai di ruang tes dan bertemu dengan petugas ber-APD lengkap.

“Waktu itu saya cari klinik atau RS yang hasil tes swabnya keluar saat itu juga. Akhirnya saya ke RS Brimob, disitu hasilnya keluar tiga jam setelah tes,” ujarnya.

Adzan Isya berkumandang, hasil tesnya pun keluar. Hal yang tak diinginkannya, ternyata memang harus menjadi kenyataan. Hasilnya ternyata reaktif.

Ia dianjurkan petugas untuk melakukan isolasi mandiri. Disaat itu, Tito sebagai kepala keluarga yang menyayangi keluarga, menghubungi istrinya melalui telepon genggam untuk berdiskusi. Khawatir keluarganya terdampak juga, akhirnya ia memilih isolasi mandiri di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Depok.

“Malam itu yang saya pikirkan bagaimana menjaga keluarga. Khawatir saya menularkan anggota keluarga, akhirnya saya memutuskan isolasi di RSUD,” terangnya.

Setelah ia dibawa menggunakan ambulance. Petugas turut memeriksa kondisi keluarga Tito sesuai dengan protokol yang ada bila seorang dari anggota keluarga terpapar, maka yang memiliki kontak erat harus diperika juga.

Istri, ketiga anaknya, dan pembantunya turut melakukan swab tes. Hasilnya menunjukan, bila istri dan anak pertamanya juga terpapar Covid-19 dan dilakukan isolasi di rumah sakit yang sama. “Istri dan anak pertama saya juga reaktif hasil swabnya,” bebernya.

Selama 10 hari mereka lakukan isolasi. Tito mendengar dari pasien lain, ternyata Covid-19 dapat menimbulkan dampak sosial pula.

“Saya dengar dari teman saya di ruang isolasi covid-19, katanya dia dan keluarga bukannya diberi bantuan malah dikucilkan, dan dianggap sebagai pembawa bencana bagi lingkungannya,”

Hari-hari Tito lalui dengan semangat agar imunitasnya membaik. Anggota keluarga dirumah pun menjadi tambahan asupan semangat bagi dirinya.

“Anak saya di rumah suka telepon dan video call, kasih semangat buat saya, istri, dan kakaknya mereka agar cepat sembuh dan pulang ke rumah,” paparnya sambil sedikit haru.

Hari pertama hingga ketiga kondisinya masih belum baik karena mual yang ia rasakan ketika menelan sesuatu. Hari keempat hingga keenam kondisinya mulai membaik, yang awalnya obat hanya melalui infus, kini mulai dikonsumsi melalui saluran pencernaan.

“Hari pertama sampai ketiga masih mual dan gabisa minum obat, bahkan obat masuk lewat infus. Hari keempat hingga keenam, obat sudah bisa saya konsumsi,” lanjutnya.

Obat yang ia konsumsi selama di RS seperti vitamin, paracetamol, dan obat pernapasan. Selain obat, dirinya mengaku rajin melakukan olahraga ringan untuk menjaga imunitas.

“Ketika isolasi, obat-obatan yang diberikan sifatnya meningkatkan imun. Tambahan makanan yang sehat yang bergizi ditambah olahraga. Kemudian disarankan sama dokter, untuk jangan terlalu banyak pikiran,” bebernya.

Setelah 10 hari dilewati, dokter menyarankan untuk menambah hari isolasi menjadi 14 hari, sesuai kebijakan rumah sakit. Setelahnya barulah, ia, istri, dan anak pertamanya diizinkan pulang.

“Selama dirumah pun saya disuruh isolasi 14 hari lagi. Saya mulai atur kamar. Lintasan kami yang terpapar dan yang tidak, agar menghindari paparan Covid-19 ke anggota keluarga lainnya,”  ucapnya.

Selama dirumah, ia mengaku tidak mengonsumsi obat-obatan dari rumah sakit, malahan ia mengonsumsi obat herbal yang diberikan kerabatnya. Pasca isolasi rumah, ia memeriksakan kondisi ke Puskesmas Sukmajaya. Dan setelah dua hari, hasilnya baik. Bebas dari korona.

Tito memberikan kiat-kiat agar menjaga imunitas tubuh, diantaranya seperti menjaga pola makan sehat dan teratur, rajin olahraga, serta rajin berjemur dibawah sinar matahari.

“Kiat untuk menjaga imun kita, pertama makan teratur, tidak boleh terlewat. Kedua rajin olahraga, walau ringan minimal senam selama 15-30 menit, kemudian berjemur karena salah satu ciri dari virus adalah tidak tahan terhadap UV,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

penat di break and bend

Hilangkan Penat di Bend & Break

SANTAI : Jika anda stress karena banyak kerjaan atau tugas, sudah saatnya anda refreshing di

Read More...
bansos tahap ketiga

112 Paket Banprov Cair di RW5 Pancoranmas

BANTUAN : Bantuan Provinsi (Banprov) Jawa Barat untuk warga terdampak ekonomi pandemi Covid-19, di RW5,

Read More...
trend grilya idris

Trend Gerilya Menangkan Idris-Imam

SOSIALISASI : Sekum DPC Partai Demokrat Kota Depok, Endah Winarti saat mendampingi sosialisasi Calon Walikota

Read More...

Mobile Sliding Menu