RADARDEPOK.COM – Bisnis pusat perbelanjaan atau biasa disebut mal, seolah tak pernah mati. Meski banyak yang bertumbangan karena kalah bersaing, sebaliknya banyak pula mal baru yang dibangun di sejumlah kota di Indonesia.

Sejumlah mal mencoba menampilkan ciri khas berbeda agar menarik pengunjung. Beberapa mal juga seringkali diidentikan sesuai dengan mayoritas kelas ekonomi masyarakat yang jadi pengunjung setianya seperti mal kelas menengah, mal kelas atas, dan mal semua kalangan.

Berikut ini deretan 7 mal terbesar di Indonesia berdasarkan pada total luas lantai yang disewakan atau nett leasable area (NLA) dari data Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI):

1. Mal Pakuwon Surabaya

mal pakuwon

Jika menggunakan indikator luas NLA keseluruhan, Mal Pakuwon Surabaya adalah juaranya. Mal Pakuwon menjadi mal terbesar di Tanah Air karena memiliki lantai paling luas yakni 180.000 meter persegi.

Mal yang berada di ibu kota Jawa Timur ini mulai dibuka pada tahun 2017. Sesuai dengan namanya, pengembang sekaligus pemilik dari mal ini adalah Grup Pakuwon, perusahaan pengembang properti papan atas nasional.

2. Tunjungan Plaza Surabaya

tunjungan plaza

Tunjungan Plaza di Surabaya menempati posisi kedua sebagai pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia. Mal ini tercatat memiliki luas NLA sebesar 170.000 meter persegi atau hanya berselisih 10.000 meter persegi dengan Mal Pakuwon.

Saking luasnya, mal ini terbagi dalam 6 pusat belanja yang meliputi Tunjungan Plaza I, Tunjungan Plaza II, Tunjungan Plaza III, Tunjungan Plaza IV, Tunjungan Plaza V, dan Tunjungan Plaza VI.

Uniknya, pemilik Tunjungan Plaza masih dimiliki Grup Pakuwon yang juga membangun Mal Pakuwon di Surabaya. Masih di Surabaya, Pakuwon Group juga memiliki pusat belanja besar lainnya antara lain Royal Plaza, East Coast Center, Pakuwon Trade Center, Pakuwon Town Square, Food Festival, dan Food Junction.

 

3. Summarecon Kelapa Gading Jakarta

sumarecon kelapa gading

Summarecon Kelapa Gading Jakarta adalah mal yang dimiliki pengembang PT Summarecon Agung Tbk yang propertinya banyak tersebar di kawasan Jabodetabek. Luas lahan yang disewakan di mal ini mencapai 150.000 meter persegi.

Berada di pusat bisnis Kelapa Gading, mal ini saling terhubung dengan MKG, Gading Food City, La Piazza, dan kawasan komersial lain di sekitarnya.

 

4. Grand Indonesia

grand indonesia

Grand Indonesia seringkali disebut-sebut sebagai mal elit dengan pengunjung kelas menengah atas. Lokasinya berada di jantung Kota Jakarta yakni Jalan Thamrin-Sudirman yang juga jadi pusat perkantoran tersibuk di Indonesia.

Grand Indonesia memiliki luas NLA sekitar 140.000 meter persegi. Mal ini dimiliki oleh Grup Djarum dan terintegrasi dengan Menara BCA dan Hotel Indonesia Kempinski.

Grand Indonesia juga terbagi dalam dua kawasan yakni East Mall dan West Mall yang dihubungkan dengan skybridge.

 

5. Mal Taman Anggrek

Mal Taman Anggrek adalah pusat perbelanjaan ketiga terbesar di Ibu Kota Jakarta yang menempati posisi kelima sebagai mal terbesar di Indonesia. Luas mal ini mencapai 130.000 meter persegi.

Mal Taman Anggrek sudah cukup lama beroperasi yakni sejak tahun 1996 dan pernah menyandang status sebagai mal terbesar di Asia Tenggara. Namun seiring munculnya mal-mal besar baru, posisinya kini terus melorot.

 

6. Central Park

Mal Central Park lokasinya bersebelahan dengan Mal Taman Anggrek. Mal terbesar ketiga di Jakarta ini berada dalam kawasan luas terintegrasi yang terus dikembangkan raksasa properti tersebut.

Central Park tercatat memiliki NLA yang tak jauh berbeda dengan tetangganya Mal Taman Anggrek. Mal ini terinspirasi dari taman kota di New York, Central Park, yang mengusung konsep kawasan hijau.

 

7. Hartono Mall Yogyakarta

Hartono Mall Yogyakarta menempati posisi ketujuh sebagai mal terbesar di Indonesia. Sesuai namanya, pusat belanja ini dimiliki Delta Marlin Group yang usahanya banyak berfokus di kawasan Solo dan Yogyakarta.

Luas NLA mal ini sekitar 80.000 meter persegi. Namun jika menghitung luas gross floor area, luas mal ini sangatlah besar yakni mencapai 220.000 meter persegi. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya