orang tua korban tawuran
KELUARGA KORBAN TAWURAN : Ibu dan Kakak pertama korban tawuran saat menunjukan foto korban, di RT2/1 Kelurahan Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari Kota Depok, Jumat (13/11). FOTO : LULU/RADAR DEPOK
yamaha-nmax
orang tua korban tawuran
KELUARGA KORBAN TAWURAN : Ibu dan Kakak pertama korban tawuran saat menunjukan foto korban, di RT2/1 Kelurahan Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari Kota Depok, Jumat (13/11). FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

Ajal memang tidak ada yang menyangka. Korban tawuran Muhammad Setiawan asal RT2/1 Kelurahan Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari meregang nyawa akibat menggantikan temannya yang tak boleh keluar rumah.

Laporan : Lutviatul Fauziah, Depok

RADARDEPOK.COM – Suasana duka, masih begitu tebal menyelimuti keluarga korban tawuran antar pelajar, pada Jumat (30/10) sekira pukul 01:30 WIB. Berada di pojok antara barisan kontrakan petak yang berjejer lima, rumah berukuran 3×10 meter menjadi almarhum Muhammad Setiawan bersenda gurau dengan keluarganya.

Mata Umiyati masih kosong tat kala ditemui, Jumat (13/11) puku1 10:18 WIB. Mengenakan baju terusan berwarna merah dan hijab cokelat, dia masih gak percaya anak ke empat dari lima bersaudara harus meninggal akibat tawuran.

Baca Juga  Swab Test di Pancoranmas, 50 Orang Per Hari

Sambil duduk santai di depan pelataran rumah kontrakan, dengan cuaca yang cukup terik. Umiyati bersama kakak pertama almarhum, Setia Ardi membeberkan keseharian almarhum yang kini tengah dirindukan.

Ardi masih tak menyangka, kabar adiknya jadi korban tawuran bak mimpi di siang bolong. Muhammad Setiawan alias Iwan yang dikenal penurut ini, nyatanya harus lebih dulu kembali kepada sang Khalik dengan cara yang mengenaskan.

Kejadian tersebut terjadi pada Kamis malam. Almarhum dan sang ibu kembali dari Maulid Nabi yang diadakan dilingkungan rumahnya. Tak seperti biasanya, anak ke empat ini selama berjalannya pengajian. Beberapa kali bolak-balik ke belakang menemui ibunya, sekedar menebar senyum sumringah.

Baca Juga  Cimanggis Borong Penghargaan Lomba LRB

Entah itu hanya kebetulan, atau memang menjadi sebuah isyarat yang ditunjukan bahwa dia akan meninggalkan ibunya untuk selamanya.

“Saya di dalam hati bertanya-tanya, ini anak kenapa?. Lagi Maulid kok bentar-bentar liat saya mulu sambil senyum,” jelas Umiyati sambil terus mengusap air mata yang membasahi pipinya.