Memahami Indikator Kemusliman

In Metropolis

 

Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

KETIKA seseorang mengatakan saya beriman, maka saat itu belum jaminan dia bisa dinyatakan beriman yang sebenarnya. Karena Iman itu butuh pembuktian. Sama dengan orang mengatakan “saya cinta kamu”, maka cintanya itu perlu dibuktikan.

Tidak cukup hanya dengan perkataan, tapi perlu pembuktian dalam perbuatan. Demikian juga Iman, harus dinyatakan dalam perbuatan. Ketika dia mengatakan saya beriman kepada Allah SWT, maka minimal dia mengerjakan shalat –karena shalat perintah Allah SWT.- ketika dia mengatakan beriman kepada Rasul, maka dia harus mengerjakan perintah Rasul dan menjauhi larangan Rasul. Ketika dia beriman kepada Kitab Suci Allah SWT, maka dia harus mau dan mampu membaca serta mengamalkan isinya.

Jadi seseorang yang beriman pasti merealisasikan Iman itu ke dalam perilaku sehari-hari yang mencerminkan sebagai seorang mukmin. Dan seorang mukmin pasti tahu aturan ber-Islam. Taslim, tunduk dan patuh kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sekaligus. Sebagai indikator kemuslimannya itu bisa dilihat dengan kasat mata. Bisa diindera. Sedangkan iman tidak bisa dilihat dengan mata, karena Iman adanya di dalam hati. Sementara Islam bisa diindera denga jelas.

Misal ketika seseorang itu sedang melaksanakan shalat, maka ketahuan gerak-gerik tubuhnya, atau bacaan di lisannya. Demikian juga ketika dia bersedekah, maka sedekahnya itu bisa dilihat dan dapat dirasakan manfaatnya oleh si penerima sedekah tersebut.

Walhasil tidak ada satu pun indikator kemusliman seseorang yang ternafikan oleh indera. Maka ketika Al-Qur’an menceritakan bahwa suatu saat ada orang Arab Baduwi yang mengatakan “saya ber iman”, lalu Allah SWT menegur. “Katakahlah Muhammad kepada mereka bahwa kamu belum beriman. Tapi katakanlah saya telah ber islam. (Q.S. Al-Hujurat : 14).

Maka jelaslah bahwa tidak cukup hanya mengatakan Iman, tapi harus Islam. Oleh karena itu ketika kita diperintahkan agar bersaudara sesama mukmin dengan landasan bahwa semua orang mukmin adalah saudara. Maka tidak bisa tidak, kecuali melalui indikator. Misalnya, siapakah saudara kita fillah itu? Ya, tentu mereka yang terlihat berpakaian menutup aurat (baik laki maupun perempuan). Atau mereka yang sama-sama ketemu di masjid. Minimal setiap shalat Jum’at. Atau manakala dia orang kaya, kita sering melihat dia membayar zakat. Dan begitu seterusnya.

Jadi kita akan mengetahui siapa-siapa saudara kita yang sebenarnya. Yaitu orang-orang yang benar-benar menjalankan ajaran Islam dengan konsekwen, tidak hanya dengan badannya saja, tapi juga dengan jiwa, raga dan hartanya. Kesemua itu dilakukan dengan penuh keyakinan. Tidak ragu sedikitpun tentang keimanannya itu. Karena keimanan mereka sudah terinternalisasi dalam dirinya, maka Iman dan Islam melekat jadi satu kesatuan. Maka bisa dikatakan antara Iman dan Islam tidak bisa dipisahkan.

1 of 2

You may also read!

ilustrasi SIM Keliling depok

Lokasi SIM Keliling Depok pada Jumat, 13 November 2020

  RADARDEPOK.COM - Polres Metro Depok kembali menyelenggarakan pelaksanaan layanan Surat Izin Mengemudi (SIM) Keliling untuk wilayah Depok. Bagi masyarakat yang

Read More...
habib rizieq orasi

Habib Rizieq Siap Rekonsiliasi dengan Jokowi, Asalkan…

Habib Rizieq Shihab.   RADARDEPOK.COM, JAKARTA - Habib Rizieq Shihab mengaku siap berekonsiliasi dengan pemerintahan Presiden Joko

Read More...
razia masker pasar pucung

30 Orang ‘Cuek’ Protokol Kesehatan di Cilodong

BERGERAK : Satpol PP Kecamatan Cilodong imbau masyarakat yang tidak memakai masker di Pasar Pucung.

Read More...

Mobile Sliding Menu