Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

ORANG Islam pasti tahu apa yang seharusnya dikerjakan sebagai muslim sejati. Di antaranya menjalankan rukun Islam yang ada lima. Dan di antara rukun yang lima itu yang paling dekat dengan pemahaman keharusan sehari-hari adalah ibadah shalat fardlu.     Karena shalat merupakan ibadah yang harus dikerjakan setiap waktu dan setiap hari. Tiada hari tanpa shalat, dan itulah yang menjadikan seorang muslim mudah merealisasikan amal-amal wajib lainnya.

Maka benarlah pernyataan bahwa shalat itu bisa mencegah perbuatan munkar (maksiat). Sehingga seseorang yang rajin shalatnya mempunyai efek positif tidak mudah terjerumus dalam kemaksiatan. Itu teorinya. Tapi ternyata dalam fakta hidup tidak demikian. Tidak sedikit muslim yang rajin shalatnya, tapi juga rajin maksiatnya. Di situlah pertanyaan itu harus dijawab. “Mengapa hal itu bisa terjadi?” Seakan membuat jawaban yang tidak realistik. Padahal Allah SWT telah dengan benar menjamin adanya faedah shalat yang bisa mengendalikan dan menuntun pelaku shalat untuk tidak berbuat dosa.

Maka dari itu jangan coba-coba menuruti hawa nafsu untuk berbuat dosa, walaupun dosa kecil. Sebab dosa kecil yang dilakukan, akan bisa membawa dosa-dosa yang lain yang lama-lama bisa menjadi besar. Sebab perbuatan maksiat merupakan sikap penentangan manusia kepada Tuhannya (durhaka). Jadi bibit berkembangnya pengakit (dosa) itu dikarenakan keberanian penentangan tersebut. Karena keberanian itulah yang akan menjadikan manusia melampiaskan kesombongannya dalam bentuk durhaka (berbuat dosa).

Maka ingatlah sebuah sabda Nabi SAW yang dengan tegas mengingatkan kita sebagai muslim, Barang siapa yang shalatnya tidak bisa mencegah perbuatan keji dan munkar, ia tidak bertambah dekat kepada Allah, melainkan justru menjauh. (H.R.Muslim). Hadits ini sangat jelas merespon orang yang melakukan dua hal yang berlawanan dalam dirinya. Yaitu di satu sisi dia melakukan perbuatan taqarrub, tapi di sisi lain justru melakukan perbuatan yang menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Maka di sinilah perlunya memperbaiki nilai shalatnya dan mencegah hawa nafsunya. Nilai shalat yang 27 derajat itulah yang perlu dikejar (diburu) dan mujahadah dengan menghindari cinta dunia yang berlebihan. Dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya.

Untuk menjelaskan sikap yang mendua itu sangat mudah dimengerti. Yakni seorang muslim yang mengerjakan shalat ibarat orang yang mencuci bersih dirinya, tapi di sisi lain melakukan dosa. Hal itu tidak masuk akal sehat. Karena shalat itu suatu yang bersih sedangkan maksiat itu sesuatu yang kotor. Ibarat kotor dicampur dengan bersih, maka hasilnya akan menjadi kotor semua.