Hj  Eni Yuhaeni, S.Pd

Guru SDN Pondokcina 3, Kota Depok

 

HARI Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 Nopember. Hari tersebut bertepatan dengan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Peringatan Hari Guru Nasional dilaksanakan di seluruh Indonesia secara serentak, dimeriahkan berbagai acara seperti  lomba guru berprestasi,  kepala sekolah berprestasi, lomba bidang olah raga, kesenian dan lain – lain.

Peringatan HUT PGRI tahun 2020 dilaksanakan agak berbeda dibanding dengan tahun – tahun sebelumnya. Hal ini akibat adanya wabah covid 19, yang sampai saat ini masih belum berakhir, bahkan untuk Kota Depok masih termasuk dalam Zona Merah. Dinas Pendidikan Kota Depok tetap bersemangat  menyambut Hari Guru Nasional  secara virtual. Kegiatan webinar  yang bisa diakses oleh seluruh guru dengan tema “ Profesional Gurunya,Hebat Siswanya” telah dilaksanakan. Webinar membahas tentang  profesionalisme guru. Nara sumber webinar yaitu Bapak Ade Setiawan. Beliau adalah seorang motivator. Pada Webinar tersebut dijelaskan bagaimana ciri – ciri guru yang hebat yaitu 5 K. K pertama yaitu Karakter. Karakter yang harus dimiliki guru diantaranya kepribadian, kepedulian, sikap disiplin, integritas dll. K kedua yaitu Kompetensi seperti keahlian, ketrampilan dll. K ketiga yaitu kerjasama. Dalam masa Covid 19, kerjasama guru sangat diperlukan. K keempat yaitu komunikasi. Guru senantiasa harus bekomunikasi dengan kepala sekolah, dengan murid dan orang tua murid. K kelima yaitu kreatifitas. Pengajaran melalui virtual sangat membutuhkan kreatifitas guru, karena sangat menentukan kebehasilan proses belajar.

Pada kondisi Covid 19, pembelajaran yang dilakukan adalah Belajar dari Rumah (BDR) melalui pembelajaran daring atau semi daring. 5 K menjadi sangat penting untuk dilaksanakan oleh guru. Pertama Karakter, reaksi seorang guru dalam menyikapi proses BDR dapat mencerminkan karakter guru. Seorang guru merasa proses pembelajaran melalui daring terasa menyusahkan. Ada juga guru yang spontan merasa tidak bisa untuk mengajarkan dengan sistem daring. Dia cenderung menyalahkan keadaan. Adalah sebuah kewajaran jika kita menemukan hal baru, reaksi kita adalah menjadi  tidak nyaman. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kita harus menerima keadaan sebagai sebuah hikmah. Kedua, kompetensi. Masa Covid 19 mau tidak mau, suka tidak suka, guru dituntut untuk melek internet karena menjadi sebuah keharusan untuk terus belajar ilmu baru, khususnya bidang IT agar dapat melaksanakan aktifitas mengajar dengan baik. Ketiga, kerja sama. Guru harus bekerja sama dengan orang tua karena  selama pembelajaran berlangsung, peserta didik berada di rumah masing – masing. Guru hanya bisa tatap maya, adapun orang tua bisa memantau belajar anaknya secara langsung. Guru dan  orang tua  harus bekerja sama dengan memberikan panduan atau komitmen bersama agar dapat membantu kelancaran proses pembelajaran dari rumah. Keempat terjalinnya komunikasi efektif antara orang tua dengan guru agar dapat mengetahui perkembangan atau kendala yang dialami peserta didiknya dan sebagai refleksi untuk diri guru. Komunikasi sangat penting untuk mengetahui semua aktifitas,dan proses pembelajaran BDR berlangsung. Komunikasi juga  merupakan salah satu  sarana untuk memperbaiki kekurangan guru dalam menyajikan materi saat BDR, mengetahui kelemahan – kelemahan peserta didik dalam menerima pelajaran saat BDR dan kendala – kendala orang tua dalam melakukan pendampingan anaknya. Terakhir adalah kreatifitas, dalam pembelajaran yang berbasis internet merupakan pengalaman baru, tapi tidak menutup kemungkinan ada rasa bosan atau jenuh baik pada diri guru, murid maupun orang tua murid. Oleh karena itu, diperlukan kreatifitas yang mampu memecahkan permasalahan dalam pembelajaran berbasis internet, terus dan terus belajar agar dapat berkreasi dari kreatifitas tersebut.

Bersyukur kita kepada Allah SWT. Kita mengajar di lingkungan perkotaan. Sesulit apapun dalam pembelajaran BDR tapi masih banyak cara yang bisa dilakukan. Bayangkan bagaimana dengan saudara kita yang mengajar di daerah 3 T (terluar, terdepan dan tertinggal). Kita banyak menyaksikan melalui TV, media online, youtube, bagaimana aksi nyata para guru dalam mengajar di masa pandemik Covid 19. Fasilitas listrik yang hanya menyala pada malam hari,  tidak ada internet, jarak rumah yang berjauhan, berada di seberang sungai, berada di balik bukit dan jumlah murid yang memiliki HP terbatas. Tentu perjuangan para guru jauh lebih hebat. Dalam keterbatasan sarana dan prasarana, guru pantang menyerah demi anak didiknya. Kita harus mengapresiasi saudara kita. Mari kita, para guru di perkotaan harus banyak bercermin kepada guru di daerah 3T. Kita harus banyak bersyukur atas apa yang kita hadapi saat ini. Semoga semua guru diberikan kesehatan, kekuatan oleh Allah SWT sehingga guru tetap semangat untuk mencerdaskan Bangsa Indonesia. Hidup Guru Hidup PGRI. (*)