Jumat, Februari 26, 2021
Beranda Ruang Publik Menyapu Kendala PJJ dengan Kebersamaan

Menyapu Kendala PJJ dengan Kebersamaan

0
Menyapu Kendala PJJ dengan Kebersamaan

salim bangun

 

Oleh : Drs. Salim Bangun, MM

Kepala SMPN 9 Depok

 

PANDEMI Covid-19 yang melanda Indonesia sangat berpengaruh terhadap kondisi pendidikan. Pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka, kini dilaksanakan secara daring/online atau belajar dari rumah atau disebut juga pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan menggunakan perangkat gadget/laptop.

Menurut Dabbagh dan Ritland (2005:15), pembelajaran secara daring atau online adalah sistem belajar yang terbuka dan tersebar dengan menggunakan perangkat pedagogi (alat bantu pendidikan), yang dimungkinkan melalui internet dan teknologi berbasis jaringan untuk memfasilitasi pembentukan proses belajar dan pengetahuan melalui aksi dan interaksi yang berarti.

PJJ dalam pelaksanaannya menemui banyak kendala. Terkait PJJ, Mendikbud menyampaikan “Para peserta didik mengalami kesulitan berkonsentrasi belajar dari rumah dan meningkatnya rasa jenuh yang berpotensi meningkatnya gangguan pada kesehatan jiwa” (Nadiem, 2020). Kendala dalam pelaksanaan PJJ dirasakan juga di SMPN 9 Depok, terutama kendala pada faktor peserta didik, sehingga mengganggu kelancaran pelaksanaan pembelajaran. Oleh karena itu, perlu ditelusuri apa saja kendala yang terjadi agar dapat dicari solusinya.

Sebagai kepala sekolah, perlu mencoba menginventarisasi berbagai kendala dalam pelaksanaan PJJ. Wali kelas dan guru yang mensurvei dengan home visit ke rumah peserta didik yang mengalami kendala dalam PJJ, maka diperoleh hasil pada umumnya kendala terletak pada perangkatnya. Seperti, dalam keluarga tidak ada yang memiliki perangkat penunjang, memiliki hanya satu gadget sehingga harus bergantian dengan anggota keluarga yang lain, memiliki gadget versi lama sehingga tidak dapat dipergunakan untuk belajar daring/online, memiliki gadget tetapi tidak mampu membeli kuota internet, masalah pada jaringan internet, dan masalah aliran listrik padam sementara baterai gadget habis.

Dari hasil survei yang dilakukan, ternyata diketahui juga ada beberapa siswa yang kehidupannya sangat memprihatinkan. Rumahnya kurang layak huni dan kehidupan ekonominya pun sangat lemah.