PJS walikota depok masker
Pjs Walikota Depok, Dedi Supiandi.
PJS walikota depok masker
Pjs Walikota Depok, Dedi Supiandi.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Efektivitas program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kini tengah menjadi sorotan masyarakat. Sebab, bukannya memudahkan anak dalam meraih prestasi, program ini malah dianggap menambah beban orang tua dalam mengajarkan anaknya. Terlebih, program ini juga sedang disoroti warga Depok karena kejadian tawuran anak usia pelajar yang telah merenggut beberapa nyawa, padahal saat ini sekolah tatap muka belum dilakukan.

Pejabat sementara (Pjs) Walikota Depok, Dedi  Supandi mengatakan, kejadian tawuran pelajar di Depok tidak ada kaitannya sama sekali dengan program PJJ.

“Saya kira PJJ dan Covid-19 ini hal baru. Sedangkan tawuran sudah ada sejak dulu,” kata Dedi kepada Radar Depok, Minggu (15/11).

Pria yang juga menjabat Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat ini mengungkapkan, PJJ dilakukan guna mencegah penularan Covid-19 di lingkungan sekolah. Maka dari itu, siswa diwajibkan untuk belajar dari rumah dengan dampingan dari orang tua.

“PJJ ini kan dilakukan dari pagi hingga siang hari, dan selalu ada tugas yang diberikan sekolah setiap harinya, sehingga murid–murid tidak akan melakukan hal lain di luar dari belajar saat PJJ,” tuturnya.

Dia menjelaskan, kejadian tawuran beberapa waktu belakangan merupakan tanggungjawab besar orang tua. Sebab, kejadian tawuran yang terjadi rata–rata dilakukan saat malam hari hingga dinihari, dan bukan di saat jam belajar.

“Kalau sudah di luar jam belajar, itu kan sudah menjadi tanggungjawab orang tua,” terangnya.

Dalam pantuannya, Dedi mengatakan jika kejadian tawuran beberapa waktu belakangan juga bukan merupakan kategori tawuran pelajar. Sebab, beberapa diantaranya dilakukan anak usia pelajar yang sudah tidak lagi sekolah.

“Ada juga pelaku tawuran yang sudah tidak bersekolah tapi usianya masih usia sekolah, dan ada yang sudah alumni tapi ikut tawuran,” bebernya.