Berita riki
KERJASAMA : Presiden Human Initiative, Tomy Hendrajati (Kanan) dan Ann Maymann, Perwakilan UNHCR untuk Indonesia menunjukan hasil penandatanganan nota kesepahaman di Initiative Building, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Kamis (17/12). FOTO : ISTIMEWA
Berita riki
KERJASAMA : Presiden Human Initiative, Tomy Hendrajati (Kanan) dan Ann Maymann, Perwakilan UNHCR untuk Indonesia menunjukan hasil penandatanganan nota kesepahaman di Initiative Building, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Kamis (17/12). FOTO : ISTIMEWA

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Selama bertahun-tahun, tradisi kemanusiaan Indonesia sangat baik dalam menyambut pengungsi di Tanah Air. Berdasarkan data Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) hingga November 2020, terdapat 13.747 pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar dari sekitar 40 negara di badan pengungsi PBB.

“Mereka tinggal di beberapa kota di Indonesia seperti Aceh, Medan Tanjung Pinang, Pekanbaru, Jabodetabek, Surabaya, Balikpapan, Medan, Manado, Kupang dan lokasi lainnya,” kata Presiden Human Initiative, Tomy Hendrajati dalam Zoom Meeting, di Depok, (17/12)

Menurutnya, pengungsi adalah orang yang terpaksa mengungsi dari negara asalnya dikarenakan oleh  ketakutan yang beralasan akan tindakan penganiayaan, yang disebabkan oleh alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial, berada di luar dari Negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari Negara tersebut.

Mereka, kata Tomy, mencari keselamatan dan perlindungan internasional di negara-negara suaka seperti Indonesia atau di negara tujuan lainnya.

“Saat ini, dunia telah menyaksikan krisis pengungsi terburuk sepanjang sejarah dengan 79,5 juta orang mengungsi secara paksa, dan 26 juta orang di antaranya telah melarikan diri melintasi perbatasan negara. Karena terbatasnya peluang solusi jangka panjang dan berlarut-larutnya konflik bersenjata di seluruh dunia, jumlah pengungsi diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang,” beber Tomy.

Ia mengatakan, perubahan iklim yang memburuk juga akan memaksa orang untuk meninggalkan tempat asalnya untuk mencari keselamatan dan mata pencaharian yang lebih baik.

Secara global, Tomy menyebutkan, ada sekitar 60 persen pengungsi berasal dari negara Islam. Atas dasar ini, UNHCR telah menginisiasi Filantropi Islam sejak 2013 dan inisiatif tersebut berkembang pesat secara global.

“Masalah pengungsi tidak bisa ditangani sendiri oleh UNHCR, perlu kerja sama dengan banyak pihak seperti pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat setempat, tokoh masyarakat, swasta, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat pada umumnya.Acara online (Zoom Meeting) hari ini diadakan untuk menandai tonggak penting lain kolaborasi antara Human Initiative dan UNHCR,” urai Tomy.

“Human Initiative selama ini juga memiliki concern terhadap isu pengungsi ini. Kami dalam beberapa tahun ini telah memberikan bantuan-bantuan kepada para pengungsi di beberapa wilayah baik dalam dan luar negeri. Untuk itu, Kami sangat senang dapat berkolaborasi bersama UNHCR. Kami berharap, dengan adanya kolaborasi ini, kita bersama dapat bekerja maksimal untuk membantu para pengungsi. Kita ciptakan perlindungan dan solusi kehidupan yang lebih baik bagi mereka,” jelas Tomy Hendrajati.

Sementara, Ann Maymann, Perwakilan UNHCR untuk Indonesia mengatakan, tahun depan, pandemi Covid-19 kemungkinan masih akan menjadi tantangan bagi semua.

“Meski kami berharap kondisi itu akan membaik dengan adanya vaksin, banyak pengungsi yang sudah rentan akan terus terkena dampak pandemi. Kami sangat senang memulai perjalanan baru yang menjanjikan ini bersama Human Initiative dan kami berharap melalui kolaborasi ini, solusi yang lebih komprehensif dapat ditemukan sebagai bagian dari tujuan kami untuk memperkuat perlindungan pengungsi dan menemukan solusi jangka panjang,” ucap Ann.

Human Initiative adalah organisasi kemanusiaan yang telah berdiri sejak 1999 dan berfokus pada isu-isu kemanusiaan di bidang pemberdayaan masyarakat, program perlindungan anak, dan manajemen kebencanaan dan tanggap darurat, baik di Tanah Air maupun luar negeri. Human Initiative sebelumnya bernama PKPU Human Initiative.

Perubahan nama dan logo merupakan langkah kami untuk mewujudkan visi menjadi organisasi kemanusiaan dunia yang terpercaya dalam membangun kemandirian. Adapun cabang Human Initiative tersebar di 13 cabang dalam negeri, dan di luar negeri yaitu di Korea Selatan, Inggris, Australia dan 11 representatif yang tersebar di beberapa negara yaitu Amerika Serikat, Arab Saudi, Jerman, Jepang, Malaysia, Singapura, Qatar, Taiwan, Turki dan Uni Emirat Arab.

Sedangkan UNHCR, adalah organisasi global yang didedikasikan untuk menyelamatkan nyawa, melindungi pengungsi, mempromosikan hak dan menemukan solusi bagi pengungsi, komunitas pengungsian paksa dan orang-orang tanpa kewarganegaraan.

“Kami bekerja untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki hak untuk mencari suaka dan menemukan perlindungan yang aman, setelah melarikan diri dari kekerasan, penganiayaan, perang atau bencana di rumah,” kata Ann. (rd/cky)

 

Jurnalis : Ricky Juliansyah

Editor : Pebri Mulya