Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

SEMUA kita pasti sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang sibuk bekerja di kantor, ada yang sibuk di pasar ada yang sibuk di ladang atau sawah, kebun dan lain sebagainya. Hampir semua kesibukan itu dilatar belakangi oleh motivasi harta dunia. Materi yang dikejarnya. Semua aktifitasnya diarahkan pada pencapaian tujuan memperoleh harta, walaupun ada yang mengejar jabatan, tapi ujung-ujungnya adalah harta yang ada di balik jabatan tersebut. Dan kegiatan semacam ini sah-sah saja dilakukan oleh setiap orang.

Adapun yang jadi masalah adalah apakah kegiatan itu hanya berujung pada buah harta yang dikejarnya saja. Atau masih ada tujuan lain yang bersifat jangka panjang. Di situlah sebenarnya peran Islam dalam membimbing langkah manusia yang setiap hari, setiap saat melangkah dengan beragam bentuk kegiatan. Dan seandainya kita mau melihat dan memperhatikan langkah kaki-kaki manusia, tanpa melihat badan atasnya, maka akan dijumpai betapa langkah manusia itu hamper sama mengejar-ngejar sesuatu yang belum tentu berhasil dengan baik yang sesuai dengan keinginannya.

Langkah-langkah manusia itu semua akan dicatat oleh Allah SWT dan kemudian akan diberi balasan yang setimpal dengan niat atau motivasinya. Setiap langkah dihitung dengan cermat dan akan dibalas dengan penuh tanpa dikurangi sedikitpun. Dan itu diperbolehkan oleh Islam, selagi tidak mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan sangat maher pempengaruhi langkah manusia untuk dijerumuskan ke dalam lembah kehinaan di hadapan Allah SWT. (Q.S. Al-Baqarah:169) Namun perlu diingat bahwa setiap kita memiliki kemampuan untuk memilih jalan yang lurus. Menapaki jalan yang diajarkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Melalui bimbingan Nabi dan Rasul itulah manusia diarahkan agar mampu mengendalikan dirinya agar tidak terlalu ingin melihat orang lain. Agar tidak terjadi hasud (iri hati) kepada orang lain, yang sama-sama mempunyai hak menapaki jalan yang sama. (Q.S. Al-Baqarah: 148) Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Untuk fokus pada pekerjaan masing-masing agar lebih terarah dan tidak mudah tergelincir. Sebab tidak sedikit manusia yang gara-gara banyak memperhatikan orang lain, sehingga terjadi ghibah (membicarakan kekurangan orang lain), fitnah (membicarakan keburukan orang yang tidak mereka lakukan), namimah (adu domba), hasud (dengki/iri hati) dll. Dari perbuatan mereka itulah, lalu mereka tanpa sadar telah menjerumuskan dirinya pada hal-hal yang destruktif dan berujung pada celakakan dirinya sendiri. Padahal Rasulullah SAW. telah mengajarkan agar manusia selalu muhasabah (instrospeksi) setiap saat, agar ketahuan arah langkahnya sudah benar atau telah berbelok arah.

Begitu banyak ayat Al-Qur’an ataupun al-Hadits yang mendeskripsikan kebaikan yang dapat diraih oleh siapa saja yang mau melakukannya. Seperti kebaikan melangkah ke masjid yang dihitung setiap langkah, membaca shalawat yang dilipat gandakan pahalanya, membaca Al-Qur’an yang dihitung pahala per-hurufnya, bersedekah/membantu orang lain akan dilipat gandakan balasannya. Dan masih banyak lagi pelajaran yang jelas-jelas menunjuk pahala yang telah disediakan oleh Allah SWT.

Maka ketika kita bekerja dengan sesibuk apapun, hendaknya kita fokus pada janji-janji Allah SWT yang tidak akan meleset. Yakinkan diri kita bahwa kita telah dan sedang berjalan di bawah naungan Allah SWT. Agar kita selalu fokus pada amaliah kita setiap hari sehingga lupa mengoreksi kekurangan orang lain. Wallahu alam. (*)