Beranda Metropolis Pelaku Rudapaksa Dituntut 11 Tahun

Pelaku Rudapaksa Dituntut 11 Tahun

0
Pelaku Rudapaksa Dituntut 11 Tahun
BERI KETERANGAN:  Kuasa Hukum Korban, Azas Tigor Nainggolan memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Depok. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK
tuntutan rudapaksa
BERI KETERANGAN :  Kuasa Hukum Korban, Azas Tigor Nainggolan memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Depok. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Perkara kasus rudakpaksa alias pelecehan seksual di Gereja Katolik Santo Herkulanus dengan terdakwa berinisial SMP (42), dituntut 11 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum, di Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Siswatiningsih menjelaskan bahwa terdakwa dituntut 11 tahun penjara serta denda Rp200 juta, dengan subsider tiga bulan kurungan penjara.

“Terdakwa diberatkan hukuman 11 tahun karena dianggap meresahkan warga, terutama bagi jemaat gereja tempat terdakwa mengajar,” ucap Siswatiningsih, Selasa (2/12).

Tak hanya itu, terdakwa juga dinilai tidak mencerminkan seorang pendidik, dan korban mengalami trauma psikis terhadap perbuatannya. Sehingga banyak menimbulkan kerugian bagi semua pihak. Baik pihak gereja, orang tua, terlebih para korban.

Di sisi lain, Kuasa Hukum Korban, Azas Tigor Nainggolan menegaskan tuntutan 11 tahun penjara yang diberikan JPU, sangat tidak sesuai harapan. Sebab jika mengacu pada Pasal 82 (2) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang dikenakan pada terdakwa hukuman maksimal 15 tahun penjara.

“Kami sangat menyayangkan, seharusnya hukuman maksimal 15 tahun penjara,” ungkap Tigor kepada Radar Depok.

Namun, Tigor memahami JPU memiliki pandangan lain terhadap terdakwa, sehingga dirinya bersama pihak gereja dan para korban menerima tuntutan yang diberikan JPU bagi terdakwa.

“Kami berharap ada sistem hukum baru untuk memperbaiki sistem hukum sekarang, agar kekerasan seksual tidak terjadi lagi,” kata Tigor.

Ia menjelaskan, misalnya, bagi perkara semacam ini, para korban tidak seharusnya diwajibkan untuk melakukan pengakuan yang disertakan alat bukti, saksi, dan beberapa hal yang menjadi persyaratan untuk dinaikkan statusnya menjadi korban.

“Kenapa begitu, karena pertama kasus ini sudah cukup lama berjalan, sehingga minim yang mau menjadi saksi karena alasan berbagai hal. Lalu tidak adanya alat bukti yang lengkap. Semestinya, cukup pengakuan dari korban dengan saksi, itu sudah cukup,” bebernya.

Kasus ini bermula dari kecurigaan pengurus gereja tentang adanya informasi dugaan pencabulan. Mereka pun melakukan penyelidikan secara internal. Setelah ditemukan fakta tentang adanya pencabulan, pihak gereja melaporkan hal itu ke polisi. Sejauh ini, baru dua anak laki-laki berusia 13 dan 14 tahun yang mengaku telah dicabuli oleh terdakwa. (rd/arn)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Pebri Mulya