pasar soal daging
ARNET/RADARDEPOK MOGOK DAGANG : Suasana los para pedagang daging sapi yang masih terlihat tanpa aktifitas karena aksi mogok dagang daging sapi karena mengalami kenaikan harga, Jumat (22/1)
pasar soal daging
MOGOK DAGANG : Suasana los para pedagang daging sapi yang masih terlihat tanpa aktifitas karena aksi mogok dagang daging sapi karena mengalami kenaikan harga, Jumat (22/1). FOTO : ARNET/RADARDEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Aktivitas pedagang dagang sapi di sejumlah pasar tradisional di Depok, hari ini kembali jualan. Hanya saja, harga perkilonya ditaksir masih membumbung tinggi. Alasanya, harga berat perkilo daging hidup di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Tapos Kota Depok masih tinggi, dan belum ada tanda-tanda turun.

Kepala UPT RPH Tapos, Alfian menerangkan, harga perkilo daging hidup berada di Rp48 hingga Rp50 ribu, lalu untuk daging karkas sapi menyentuh angka Rp95 ribu perkilo. Hal ini yang membuat para pedagang mogok beberapa waktu ini. “Sudah ada info rapat asosiasi pedagang dengan kementerian, mudah-mudahan ada solusi dan berjalan normal kembali,” jelas Alfian kepada Harian Radar Depok, Jumat (22/1)

Dia mengaku, memang terjadi kenaikan dari RPH, biasanya untuk daging karkas lokal harga perkilo Rp89 sampai Rp 90 ribu, telah mengalami kenaikan sebesar Rp5 ribu. Meski harga melonjak aktivitias pemotongan masih terus berjalan namun mengalami penurunan.

Beberapa hari sejak para pedagang mogok jualan, tercatat pada Selasa (19/1) sebanyak 26 ekor, Rabu (20/1) sebanyak 20 ekor, Kamis (21/1) sebanyak 24 ekor. Untuk hari jumat sampai sekarang belum ada informasi berapa banyak sapi yang akan dipotong. “Biasanya kalau normal, kami melayani sekitar 30 ekor sapi. Tapi sekarang alami penurunan,” tambah Alfian.

Namun dia memastikan, untuk stok hewan sapi di RPH Tapos mencampai 200 ekor milik dari pengusaha sapi yang bekerja sama dengan RPH.

Sementara, salah seorang pedagan sayur di Pasar Agung, Trisno mengatakan, kemungkinan hari ini para pedagang mulai buka kembali. Hal ini disebabkan karena masih ada stok daging pedagang yang tertahan, karena mogok jualan beberapa hari ini. “Sepertinya jualan, karena mereka masih ada daging sisa kemarin yang belum laku,” katanya.

Dia membeberkan, sejak awal aksi mogok jualan para pedagang sapi, memang semakin hari pedagang sapi tutup secara bertahap. Di hari pertama masih ada yang jualan, keesokannya sisa satu atau dua pedagang, lalu Jumat (22/01) tidak ada yang dagang.

Terpisah, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, University Muladno Basar menilai, wilayah Jabodetabek bisa mengalami krisis daging sapi berkepanjangan, jika tidak disikapi dengan solusi jangka panjang dari pemerintah dan pelaku usaha.

Menurut Muladno, lonjakan harga daging sapi yang menyebabkan para pedagang di pasar tradisional melakukan aksi mogok hanya terjadi di wilayah DKI Jakarta dan Bodetabek. Peningkatan harga daging sapi juga hanya terjadi pada wilayah Jabodetabek saja, bukan secara nasional. Harga yang melonjak tinggi ini, kata Muladno, merupakan dampak dari ketergantungan Indonesia terhadap impor daging sapi dari negara lain, khususnya Australia.

“DKI dan Bodetabek bisa krisis daging sapi berkepanjangan karena impor sapi bakalan dari Australia mahal. Kemudian, impor sapi dari Brazil dan Meksiko juga mahal karena terlalu jauh dari segi jarak atau geografis,” kata Muladno, Jumat (22/1).

Selain karena bergantung pada impor, Muladno menjelaskan, produksi sapi bakalan di Indonesia tidak mencukupi. Sapi bakalan jantan di Indonesia lebih banyak disiapkan oleh peternak untuk Hari Raya Idul Adha.

Jabodetabek sendiri merupakan wilayah konsumen daging ternak. Di sisi lain, ada delapan provinsi yang bisa memasok daging ke Jabodetabek dengan populasi sapi jantan di atas 750.000 per provinsi. Delapan provinsi tersebut, yakni Jawa Timur dengan populasi tertinggi di atas 4 juta ekor, diikuti Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Sumatra Utara, Lampung dan Bali.

Namun demikian, delapan provinsi ini juga tidak cukup memenuhi kebutuhan pangan hewan ternak ke Jabodetabek. Oleh karena itu, Indonesia memasoknya dari Australia dengan populasi sapi di atas 26 juta ton. Salah satu provinsi di Australia, Darwin, juga memasok untuk kebutuhan daging ke Jakarta, karena jaraknya yang lebih dekat dibandingkan wilayah Sulawesi.

Dengan ketergantungan impor dari Australia, harga daging sapi di Jabodetabek akan terkatrol naik jika harga sapi bakalan di negara tersebut mengalami kenaikan. Oleh karenanya, Muladno menilai kegiatan industri sapi ini sebaiknya dsserahkan pada pelaku usaha. “Serahkan kegiatan industri sapi ini ke pebisnis secara total. Pemerintah hanya terbitkan regulasi yang kondusif bagi pebisnis,” tandas Muladno.(rd/arn)

 

Junalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar