BOKS 3 Arnet Komunitas
BERKARYA: Pelukis Potongan Kayu, Hudy saat melukis sebuah lambang salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) di kediamannya di salah satu sudut Kota Depok. FOTO: ARNET/RADARDEPOK
BOKS 3 Arnet Komunitas
BERKARYA: Pelukis Potongan Kayu, Hudy saat melukis sebuah lambang salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) di kediamannya di salah satu sudut Kota Depok. FOTO: ARNET/RADARDEPOK

 

Manfaatkan Peluang Pasar via Media Sosial

RADARDEPOK.COM. Progres usaha semakin baik, hasil menjanjikan membuat Hudy terus fokus mengembangkan bakatnya yang dapat menghasilkan nilai ekonomi. Namun siapa sangka, pandemi covid19 datang hingga membuatnya nyaris menutup galeri lukis. Biaya operasional menjadi hal penting yang dipertimbangkan dengan matang.

Laporan : Arnet Kelmanutu

Saat-saat seperti yang paling sulit, perkataan itu diucapkan Hudy. Dimana seorang pegusaha harus membangkitkan kembali semangatnya, semangat kerja seluruh karyawannya, semangat menatap arah positif, setelah pandemi menghantam semua lini.

Semua disajikan harus dengan kebiasaan yang baru, harus menerapkan protokol kesehatan dan berbagai macam aturannya. Hal ini yang menyulitkan Hudy dalam membangun kembali semangatnya untuk menatap arah ke arah positif.

“Sekarang kami harus mengubah gaya berjualan, berekspresi dengan gaya hidup yang baru. Paling pentingnya, harus tetap menarik agar mata tertarik,” terang Hudy saat berbincang di bawah pohon tepat sebelah galeri lukisnya.

Sebelum pandemi menghampiri Kota Depok, ia bisa menghabiskan 10 hingga 20 potongan kayu, itu masih dari pesanan atau langganan. Ada beberapa yang beli karena melintas di galeri miliknya. “Nah waktu pertama pandemi, dan dilakukan aturan, sehari paling banyak keluar lima bahkan pernah tidak sama sekali,” jelasnya.

Kuncinya memang pada ketekunan, Hudy memutar otak untuk berkolaborasi dengan sang anak yang suka memainkan gadget, layaknya anak sekarang. Hal tersebut dijadikan Hudy manfaat sebagai mempertahankan peluang usahanya. “Sekarang saya kuat pasarin lewat handphone, semuanya saya daftarin secara resmi. Alhamdulillah saat ini sudah kelihatan hasilnya, pembeli paling banyak melalui online,” ungkap ayah tiga anak itu.

Kini, ia kembali melihat titik terang dalam menjalankan roda usaha lukisnya. Dunia sosial membawa Hudy mengenal banyak hal baru, mulai dari pemasaran sampai pada referensi karya lukis. (rd/*)