pabrik keramik indonesia
ILUSTRASI
pabrik keramik indonesia
ILUSTRASI

 

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Perkembangan industri keramik di Indonesia membuat Malaysia kian khawatir. Pada tahun ini industri keramik menargetkan tambahan utilisasi mencapai 20%.

“Tahun 2021, kami memproyeksi utilisasi kapasitas produksi berkisar di level 74-75 persen, meningkat dibanding tahun 2020 yang sebesar 56 persen dan tahun 2019 sebesar 65 persen,” kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto.

Meningkatnya utilisasi industri, tentunya akan semakin besarnya produk yang di ekspor, termasuk ke Malaysia. Produk keramik Indonesia sudah bikin resah industri keramik dalam negeri Malaysia karena sangat bersaing di pasar.

Bahkan, Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia (MITI) sempat melakukan penyelidikan tindakan pengamanan (safeguard) atas produk keramik (ceramic floor and wall tiles) demi mengintervensinya. Namun penyelidikan itu dihentikan pada pada 11 Januari 2021.

Produk keramik yang terbebas dari pengenaan safeguard tersebut ada dalam kelompok pos tarif/HS code 6907.21.21, 6907.21.23, 6907.21.91, 6907.21.93, 6907.22.11, 6907.22.13, 6907.22.91, 6907.22.93, 6907.23.11, 6907.23.13, 6907.23.91, dan 6907.23.93.

Pihak industri keramik Malaysia mengklaim bahwa terjadi lonjakan keramik impor yang menyebabkan kerugian atau ancaman kerugian bagi industri keramik dalam negeri. Penyelidikan dilakukan mulai September 2020 berdasarkan petisi dari Federation of Malaysian Manufacturers – Malaysian Ceramic Industry Group.

Dalam penyelidikan tersebut, Otoritas Malaysia tidak dapat menemukan bukti-bukti yang mendukung klaim industri keramik Malaysia tersebut. Penyelidikan kemudian diterminasi dan tanpa penerapan bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia ke Malaysia untuk produk keramik yang diselidiki adalah sebesar USD 7,12 juta pada 2019. Nilai tersebut menurun 27,21 persen dibandingkan 2018 yang tercatat sebesar USD 9,78 juta.