Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

BANYAK orang gagal dalam menterjemahkan agama (Islam) ke dalam kehidupan nyata. Agama tidak menjadi solusi bagi dirinya dalam menghadapi berbagai problem hidupnya. Pada hal hakikatnya agamalah yang menjadikan manusia aman dari berbagai ancaman yang datang padanya.

Agamalah yang mendisiplinkan diri dalam menjalankan roda kehidupan. Sehingga ritme kehidupan ini bisa membahagiakan dirinya. Dan inilah kini yang mernjadi persoalan umum yang dihadapi oleh umat beragama.

Islam mengajarkan berbagai pola hidup yang serasi yang sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Ketentuan agama Islam itu sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT menyesuaikan diri pada kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Dan Allah SWT telah memberi kemampuan mempertahankan hidup sekalipun banyak rintangan yang dihadapinya. Sehingga rintangan itu sebenanrnya hanyalah bentuk ujian yang datang dari Allah SWT untuk dihadapi dan diselesaikan. Dan Allah SWT pun sudah menyediakan kunci jawabannya yang ada pada deretan firman-firman-Nya yang termaktub di dalam kitab suci Al-Qur’an.

Untuk menjadi khalifah di muka bumi sebenarnya tidak sesulit persoalan yang dibayangkan oleh manusia. Karena menjadi khalifah, syarat utamanya adalah mampu menjadikan dirinya aman dari rasa takut yang berlebihan. Sebab rasa takut yang berlebihan akan menjadikan seseorang tidak dapat fokus pada pekerjaan yang sedang dikerjakan. Dan biasanya ini terjadi ketika seseorang melakukan kesalahan yang melanggar hukum Tuhan. Sehingga menimbulkan kecemasan, ketakutan dan berbagai rasa tidak nyaman.

Solusi yang ditawarkan dalam Islam adalah Ibda binafsik, mulailah dari dirimu sendiri. Jadi sebelum mempimpin umat, terlebih dulu mendisiplinkan diri dalam memaknai hidup sebagai khalifah, seperti yang dititahkan oleh Allah SWT. Bahwa setiap diri manusia bertugas menjadi khalifah di muka bumi. Untuk menjadi khalifah yang baik, maka ia harus tahu tugasnya secara baik. Dan pemahaman tentang tugas (job des) yang diembannya itulah yang akan dapat membantu mempermudah menjalani peran sebagai khalifah.

Yang harus dilakukan pertama kali adalah membekali diri dengan pengetahuan tentang dirinya. Yakni mengetahui siapa dirinya dan siapa Tuhannya. Jadi ia dapat mendudukkan Tuhan pada maqamnya. Man arafa nafsahu, arofa Rabbahu, Siapa yang mengetahui dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya. Dengan dasar pengetahuan tentang Tuhan, maka dia dapat memposisikan diri di hadapan hukum yang diberlakukan oleh Allah SWT kepada semua manusia. Dan Allah SWT telah memberlakukan hukum itu sama terhadap siapa saja.