vonis rudapaksa di gereja depok
SIDANG CABUL : Suasana sidang perkara terdakwa SPM atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan di Gereja Katolik Santo Herkulanus, yang berlangsung dengan protokol kesehatan ketat, dengan dijalankan secara virtual di Kantor Pengadilan Negeri Kota Depok, Kawasan Boulevard GDC. Rabu (06/01). FOTO : ARNET/RADAR DEPOK
vonis rudapaksa di gereja depok
SIDANG CABUL : Suasana sidang perkara terdakwa SPM atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan di Gereja Katolik Santo Herkulanus, yang berlangsung dengan protokol kesehatan ketat, dengan dijalankan secara virtual di Kantor Pengadilan Negeri Kota Depok, Kawasan Boulevard GDC. Rabu (06/01). FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok mengetuk palu putusan dengan menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara bagi Syahril Parlindungan Marbun, pelaku kekerasan seksual (rudapaksa) yang terjadi, di Gereja Katolik Santo Herkulanus, Rabu (6/1)

Ketua Majelis Hakim, Nanang Herjunanto saat membacakan putusan sidang menyatakan, terdakwa dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dengan membujuk anak untuk melakukan perbuatan cabul secara berkelanjutan.

“Pelaku dikurung selama 15 tahun, dengan denda sebesar Rp200 juta. Namun jika tidak membayar, pelaku akan menjalani masa kurungan selama tiga bulan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nanang menerangkan, pelaku juga harus bertanggungjawab perbuatannya, dengan memberikan uang tunai bagi kedua korban. J sebesar Rp6 juta dan A sebesar Rp11 juta. Jika pelaku tidak membayarkan denda tersebut, maka akan menjalani masa kurungan selama tiga bulan.

Dilokasi yang sama, Kuasa Hukum korban , Azas Tigor Nainggolan menyatakan kepuasannya terhadap putusan itu. Pasalnya, putusan lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang cuma 11 tahun penjara.

“Kami puas, saya dan para jemaat gereja, terutama keluarga korban. Putusan sudah tepat dan sesuai dengan undang-undang,” terang Tigor kepada Radar Depok.

Diluar itu, dirinya meminta Pemerintah harus membuat jera bagi para pelaku pelecehan seksual, sebab hal ini sangat berdampak pada psikologis anak maupun keluarga. Sehingga keputusan Presiden Joko Widodo yang mengeluarkan keputusan hukuman kebiri bagi para pelaku semacam itu, sangat tepat.

“Hukuman kebiri itu bisa sangat memberatkan para pelaku atau predator seks, agar adfa efek jera. Karena angka pelecehan seksual masih tinggi angkanya, jadi harus serius menanganinya,” ungkapnya.