polres bogor
Polres Bogor membongkar prostitusi di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.
polres bogor
Polres Bogor membongkar prostitusi di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.

 

RADARDEPOK.COM, BOGOR – Ajang prostitusi atau pelacuran yang memanfaatkan aplikasi penginapan Red Doorz di Vila Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor dibongkar Polres Bogor.

Dalam kasus ini, yang menjadi mucikarinya adalah karyawan vila nya.

“Perkara ini diawali dari adanya informasi dari masyarakat di mana kita dapat info di salah satu vila di Megamendung. Adanya praktik prostitusi yang dilakukan oleh salah satu karyawannya sehingga tim kami dari Reskrim Polres Bogor melaksanakan penyelidikan ke vila tersebut,” kata Kapolres Bogor Ajun Komisaris Besar Polisi Harun di Polres Bogor, Jumat, (22/01).

Harun menjelaskan, para penyewa vila yang mengunakan aplikasi Red Doorz ditawari jasa prostitusi oleh karyawan vila. Jika penyewanya mau, maka harus membayar sejumlah nominal uang diluar dari harga vila.

“Mereka dari penyewa vila melalui aplikasi Red Doorz kemudian mereka menyewa vila kemudian mereka masuk. Setelah itu dari karyawan inilah dan mucikari di lokasi menawarkan mereka, yang saat ini beroperasi daerah puncak,” kata Harun.

Harun menjelaskan, saat penyelidikan, polisi memergoki empat orang wanita di dalam empat kamar terpisah. Dari keempat orang wanita itu, kata Harun, empat orang yang sedang melayani tamu ini telah dipesan oleh wanita yang merupakan karyawan vila berinisial LS (33). Dari pengakuan LS, ia mendapatkan 4 orang wanita ini dari NO (35) seorang wanita yang juga mucikari yang beroperasi di kawasan Puncak

“LS ini menelepon seseorang atas nama NO yang selaku mucikarinya. NO inilah yang menyediakan 4 korban yang ada di TKP tersebut,” katanya.

Polisi mengamankan empat orang korban yakni LL (17 tahun), SH (24), R (20), IM (21), DPS (31). Dua orang merupakan warga Bogor dan dua lainnya warga Cianjur. Berdassrkan keterangan pelaku dan korban, tarif yang ditawarkan ke penyewa vila Rp500 ribu per kencan.

“NO dan juga LS mendapatkan keuntungan dari setiap korban Rp100 ribu. Sedangkan korban dibayar dengan Rp300 ribu. Jadi total Rp 500 ribu. Untuk korban 300 ribu, dan Rp100 ribu tersangka NO dan Rp100 ribu untuk tersangka LS,” kata Harun lagi.