Selasa, Maret 9, 2021
Beranda Pendidikan Rencana Kemendikbud Tentang Tunjangan Dianggap Mengecewakan Guru

Rencana Kemendikbud Tentang Tunjangan Dianggap Mengecewakan Guru

0
Rencana Kemendikbud Tentang Tunjangan Dianggap Mengecewakan Guru
ILUSTRASI
guru mengajar datang ke rumah
ILUSTRASI

 

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hanya memberikan tunjangan profesi kepada guru berprestasi lantaran kualitas pendidikan yang tidak meningkat, meskipun ada tunjangan.

Koordinator Nasional Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengatakan, pernyataan Kemendikbud tersebut menyakiti hati guru yang sedang berjuang di saat pandemi virus Korona (Covid-19) untuk memberikan pembelajaran yang optimal.

“Pernyataan Kemendikbud ini sangat tidak peka terhadap perjuangan guru apalagi di daerah-daerah selama PJJ. Mereka harus mengajar mengunjungi rumah-rumah siswa, banyak tantangannya dalam mengajar PJJ. Mereka tetap semangat mengajar walaupun di masa pandemi,” terangnya.

Pihaknya sangat kecewa atas pernyataan tersebut. Menurutnya, jika rencana tersebut direalisasikan, profesi guru seakan tidak dihargai.

“Kawan-kawan guru sangat kecewa mendengar ucapan itu. Profesi guru justru direndahkan oleh orang tua sendiri, yakni Kemendikbud,” ucapnya.

Adapun, dari hasil survei P2G terhadap guru pada awal Desember 2020 di 100 kota/kabupaten dan 29 provinsi menunjukkan, mayoritas hampir 70 persen guru tetap semangat, bahkan bahagia mengajar walaupun terkendala pandemi. Menurutnya, apabila itu terjadi, ini adalah perlakuan tidak adil kepada guru.

“Kemendikbud mestinya menangkap optimisme guru ini, bahkan tak jarang guru yang bersikap altruistik atau berjiwa pengorbanan,” tambahnya.

Kemudian juga pernyataan ini bertolak belakang dengan apa yang sering disampaikan Kemendikbud, yaitu menyejehterakan para guru. Dengan rencana ini, Kemendikbud bukan menyejahterakan guru, melainkan menyengsarakannya.

“Di sisi lain Kemendikbud selalu bicara bahwa komitmen mereka untuk mensejahterakan guru, mendapatkan penghasilan yang layak, mengingat masih banyak guru yang belum sejahtera. Jadi saya melihat pernyataanya saling bertolak-belakang,” tegas Satriwan.