harga tempe naik kesepakatan
SEPI : Kios di Pasar Kemirimuka yang sepi penjual tahu-tempe, Minggu (3/1). FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK
harga tempe naik kesepakatan
SEPI : Kios di Pasar Kemirimuka yang sepi penjual tahu-tempe, Minggu (3/1). FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pasti selama tiga hari lalu warga dan pengusaha makanan di Kota Depok bingung mencari tempe dan tahu, dipasaran. Hilangnya makanan khas Indonesia ini, memang sengaja tidak diproduksi para bos pabrik tahu-tempe. Keladinya, harga bahan pokok tahu-tempe : kedelai, naik sampai 40 persen.

Koordinator Wilayah Sedulur Pengrajin Tahu se-Indonesia (SPTI) Kota Depok, Romli Rohadi menyebut, aksi mogok beroperasi memproduksi tahu dan tempe sudah dilakukan oleh para pengrajin di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek), sejak Kamis (31/12) hingga Sabtu (2/1). Dan kini sudah mulai berproduksi.

Dalam empat hari tersebut, SPTI se Jabodetabek menggelar musyawarah offline di Pondok Gurame, Kecamatan Sukmajaya yang dihadiri 38 pengusaha tahu-tempe. Dan dilanjut dengan diskusi online SPTI Wilayah Kota Depok, yang beranggotakan 40 pengusaha untuk mencapai mufakat.

“Kami sudah melakukan musyawarah dua kali, baik daring maupun luar jaringan (Luring) terkait menyikapi kenaikan harga kedelai,” jelasnya kepada Radar Depok, Minggu (3/1).

Mufakat dari musyawarah tersebut, kata Romli, menghasilkan kesepakatan. Jadi, harga tahu-tempe nail sebesar 20 persen dari sebelumnya. Ini akibat lonjakan bahan baku kedelai, kemudian ukurannya diperkecil.

“Akhirnya kami sepakat untuk menaikkan harga. Misalnya, tahu yang tadinya Rp400, naik jadi Rp500. Jangan kaget kalau harganya naik,” bebernya.

Salah satu karyawan pabrik tempe di Kelurahan Krukut, Soleh mengatakan, sudah tidak memproduksi tempe sejak Kamis (31/12).

“Kami bersama dengan pabrik tempe lainnya serentak tidak produksi tempe dan tahu sejak Kamis,” tuturnya kepada Radar Depok, Minggu (3/1).