Pradi divaksin korona
DEPOK SEHAT : Walikota Depok Mohammad Idris serta Wakil Walikota Pradi Supriatna  bersama jajaran Forkopimda saat melakukan pemeriksaan sebelum lakukan penyuntikan vaksin Sinovac. FOTO : HUMAS FOR RADAR DEPOK
Pradi divaksin korona
DEPOK SEHAT : Walikota Depok Mohammad Idris serta Wakil Walikota Pradi Supriatna  bersama jajaran Forkopimda saat melakukan pemeriksaan sebelum lakukan penyuntikan vaksin Sinovac. FOTO : HUMAS FOR RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Vaksinasi di Kota Depok telah dimulai untuk tahap pertama pada Kamis (16/1). Ketua Satgas Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana mengatakan, di hari kedua vaksinasi disebar kepada tenaga kesehatan (Nakes) yang ada di 60 faskes.

Di antaranya 20 Rumah Sakit (RS) swasta, RSUD Depok, RS Bhayangkara Brimob, dan 38 Puskesmas.

“Totalnya ada 60 faskes yang jadi tempat vaksinasi,” tutur Dadang kepada Radar Depok, Jumat (15/01).

Untuk total penerima vaksin, Dadang mengaku, belum mendapat laporannya. Kalau mengenai target harus berapa yang divaksin perharinya, ditentukan oleh sistem dari pusat. “Daerah hanya melaksanakan. Dan masih Nakes yang menerima vaksin di tahap pertama ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Novarita mengaku, untuk data dihari kedua pada Jumat (15/01) tidak mengetahui jumlah Nakes yang akan divaksin.

“Kami sudah mendistribusikan vaksinnya. Realisasinya banyak yang sudah didistribusikan kemarin ke 60 faskes,” tuturnya.

Lebih lanjut, Novarita mengatakan, sasaran vaksinasi adalah internal dari Nakes. Jadi, yang menyuntik Nakes dan yang disuntik Nakes.

“Kalau kami memberi target adalah sebelum dua minggu harus sudah selesai vaksinasi. Agar vaksin selanjutnya tidak menumpuk. 14 hari ke depan, harus divaksin lagikan,” lanjutnya.

Untuk jadwal vaksinasi kepada Nakesnya, itu tergantung dari faskes masing-masing. “Bisa jadi mereka melakukan vaksin setelah melayani pasien. Bisa jadi pagi, siang atau sore. Jadi itu tergantung faskesnya masing-masing,” tandasnya.

Sementara, Ketua Departemen Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono mengungkapkan, ada beberapa point yang menjadi dorongan dan motivasi agar masyarakat tidak takut untuk divaksin.

“Yang pertama, informasi harus lengkap dan menyeluruh ke masyarakat, baik dari pendidikan tinggi, rendah, ekomoni tinggi, rendah. Semua harus menerima informasi dengan baik,” ucapnya saat di hubungi Radar Depok, Jumat (15/01).

Lebih lanjut, dirinya menegaskan, bahwa dalam penyampaian informasi tidak perlu terburu-buru, agar informasi yang diterima masyarakat juga dapat dipahami.

“Menurut saya penyeragaman informasi juga harus pelan-pelan, lagi pula waktu untuk pemberian vaksin masih panjang,” tuturnya.