Selasa, Maret 2, 2021
Beranda Ruang Publik Upaya Pencegahan Perilaku Seksual Berisiko Remaja dengan Pendidikan Seksual

Upaya Pencegahan Perilaku Seksual Berisiko Remaja dengan Pendidikan Seksual

0
Upaya Pencegahan Perilaku Seksual Berisiko Remaja dengan Pendidikan Seksual
ILUSTRASI
ilustrasi
ILUSTRASI

 

Oleh: Bintang Alya Binurika Mustopa*)

Masa remaja merupakan jembatan masa anak-anak menuju dewasa, masa yang penting dalam kehidupan karena mencakup segala pengalaman dalam mempersiapkan diri menjadi dewasa. Masa remaja terjadi pada usia 10 sampai 19 tahun. Usia ini penting karena berfungsi sebagai transisi antara masa anak-anak yang bebas dan orang dewasa yang penuh dengan tanggung jawab.

Pada masa ini, mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang segala sesuatu, termasuk yang berhubungan dengan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Informasi yang kurang memadai tentang KRR membuat remaja berusaha mencari sendiri akses informasi terutama melalui media sosial. Kurangnya pengetahuan dan pencarian informasi yang salah mengenai KRR dapat beresiko pada remaja, seperti seks bebas, kekerasan seksual, kehamilan di luar nikah, perkawinan di bawah umur, kejadian Infeksi Menulai Seksual (IMS) yang tinggi dan HIV/AIDS.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi adalah faktor kepribadian, pengetahuan, sikap dan lingkungan. Bahkan faktor sosial, ekonomi, psikologis dan biologis berpengaruh pada kesehatan reproduksi. Serta masalah lain seperti kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi, masalah perubahan perilaku seksual remaja, rendahnya tingkat pelayanan kesehatan dan kurangnya dukungan undang-undang.

Saat ini, permasalahan remaja mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi menjadi semakin meningkat dan memprihatinkan. Remaja pria dan wanita telah berpacaran antara usia 15-17 tahun, kebanyakan remaja berpegangan tangan, mencium bibir dan menyentuh atau disentuh saat berpacaran, dimana aktivitas tersebut dapat memicu kepada perilaku seksual. Sebagian remaja telah melakukan hubungan seksual pra nikah dan melakukan hubungan seksual pertama kali pada umur 15-25 tahun.

Program kesehatan reproduksi remaja sudah mulai menarik perhatian karena beberapa alasan, perlu dikembangkan program dan kegiatan komunikasi, informasi dan pendidikan yang tepat untuk meningkatkan kesadaran yang tinggi, peningkatan pengetahuan yang penting, kemauan serta tingkah laku dan berbudaya baik sebagai investasi pada program kesehatan reproduksi remaja yang bermanfaat bagi kehidupan. Undang-undang Kesehatan RI NO.39 Tahun 2009 Pasal 72 berbunyi, “Setiap orang berhak memperoleh informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.” Dan Undang-undang Kesehatan RI NO.39 Tahun 2009 Pasal 73 menjelaskan, “Pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu, dan terjangkau masyarakat, termasuk keluarga berencana.”

Pendidikan kesehatan merupakan upaya yang dilakukan untuk membuat masyarakat berperilaku hidup sehat,  baik lingkungan sosial dan bermasyarakat. Pendidikan kesehatan diperlukan sebagai dasar kehidupan masyarakat sehat jasmani dan rohani, serta sosial dan ekonomi. Pendidikan kesehatan reproduksi sebagai upaya yang dilakukan untuk memberikan informasi berupa cara menjaga kesehatan organ reproduksi remaja, pencegahan terhadap perilaku seks bebas pada remaja, risiko perilaku seks bebas dan pernikahan usia dini, serta dapat menjadi cara untuk mencegah remaja menghadapi perilaku seksual yang berbahaya.

Oleh karena itu, pentingnya pendidikan seksual atau seks education sejak remaja. Ketika anak beranjak dewasa mereka belum memahami pendidikan seks, karena kurangnya pemahaman tersebut, remaja tidak bertanggung jawab atas kesehatan perilaku seksual atau anatomi reproduksi. Sebagai orang tua, peran ini sangat penting dalam memberikan pendidikan seksual sejak remaja karena pendidikan seksual bukan lagi sebuah hal yang tabu  dalam berdiskusi. Terkait bagaimana seks muncul dalam hubungan interpersonal dan bagaimana lingkungan mempengaruhi pembentukan seks dan pilihan perilaku seks. Meningkatkan kesadaran diri anak untuk menjaga kesehatan reproduksi dan dirinya sendiri,  serta bagaimana orang tua mengawasi dan menjaga anak-anaknya dari pergaulan bebas.

Pendidikan seksual di sekolah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan pubertas termasuk dalam bidang biologi, kesehatan jasmani dan agama. Belum ada kebijakan tentang kurikulum kesehatan reproduksi, sehingga setiap sekolah menyelenggarakan pendidikan kesehatan reproduksi sesuai kemampuan dan fasilitasnya. Hal ini membuat penyelenggaraan pendidikan kesehatan reproduksi remaja menjadi berbeda. Keragaman pendidikan kesehatan reproduksi remaja akan menjadikan output pendidikan ini berbeda, termasuk pengetahuan, sikap dan perilaku yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja, seperti contohnya perilaku seksual berisiko. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi remaja dan peran guru di sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku perilaku seksual remaja.

Sebagai tenaga kesehatan upaya yang dapat dilakukan seperti meningkatkan pelayanan kesehatan bagi para remaja, meningkatkan pemanfaatan layanan, meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam mencegah berbagai masalah kesehatan yang mereka hadapi, serta meningkatkan keterampilan para remaja dalam segala aspek dan berpartisipasi untuk memberikan layanan kesehatan terbaik. Puskesmas merupakan pusat pelayanan kesehatan dasar yang mencakup seluruh masyarakat dimana remaja dan tenaga kesehatan berada, sehingga perencanaan tersebut paling efektif dilaksanakan di Puskesmas.

Masalah kesehatan reproduksi akibat pergaulan bebas sudah semakin meningkat dan sangat memprihatinkan terutama di kota-kota besar. Upaya yang bisa kita lakukan dalam mencegah masalah ini bukanlah hal yang mudah dan instan, tentunya dengan kerjasama antar pihak seperti orangtua, guru di sekolah, tenaga kesehatan bahkan pemerintah untuk memberikan pendidikan seksual pada remaja sejak dini untuk mencegah perilaku seksual remaja yang berisiko dan dapat mengancam masa depan setiap individu.

*) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju, [email protected]