pengangguran dan perusahaan
ILUSTRASI

RADARDEPOK.COM, JAKARTA — Semenjak pandemi virus Korona (Covid-19), jumlah pengangguran di Indonesia semakin banyak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran naik 2,6 juta menjadi 9,77 juta orang di 2020.

Namun, hal itu ternyata tidak sejalan dalam pemenuhan sumber daya manusia (SDM) untuk perusahaan. Karena, banyak perusahaan yang justru kekurangan dan kesulitan mencari SDM yang benar-benar sesuai kebutuhan.

“Dilema yang kita miliki, talent mulai shortage. Perusahaan kesulitan cari orang. Jadi lucu, orangnya banyak, masih ada yang nganggur tapi nyari orang mulai susah. Kenapa? Karena tetangganya ternyata lebih kuat,” ujar Deputi Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Kementerian BUMN Alex Denni.

Alex melanjutkan, Global Competitiveness Index Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga. Sebagai informasi, indeks ini menentukan kualitas daya saing sumber daya manusia di Indonesia.

Indonesia masih berada di peringkat ke-50 dengan skor 64,5 sedangkan Malaysia berada di peringkat ke-27 dengan skor 74,6. Singapura sendiri berada di peringkat pertama di dunia dengan skor 84,8.

“Singapura tidak punya migas, minerba, hasil bumi, ikan, hutan, seperti yang kita punya, tapi faktanya, Singapura menjelma menjadi negara yang highly competitive,” katanya.

Dari sisi talenta, Indonesia berada di peringkat 41 Global Talent Rank. Sementara Malaysia peringkat 22 dan Singapura peringkat 10.

“Kalau saya ibaratkan kita punya kebun yang kaya, luas dan berbuah, tapi tetangga yang nggak punya kebun lebih kuat dari yang punya kebun. Besar kemungkinan tetangga masuk ke kebun kita dan dibawanya ke negaranya, atau kita nikmati bersama-sama tapi dia lebih banyak,” kata Alex.

“Jadi potensi besar, tapi daya saingnya kalah, kemungkinan besar kita akan menghadapi kenyataan bahwa kekayaan tadi tidak dinikmati sepenuhnya oleh bangsa kita, kalau kita nggak melakukan hal yang signifikan. Dan oleh karena itu, kita harus mendukung prioritas pemerintah dalam pengembangan SDM,” katanya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya